~Terkadang mengaguminya saja sudah lebih dari cukup~
Siang itu Ustadzah Aurel marah besar. Pasalnya, 2 hari yang lalu dan hari ini tak ada yang piket harian. Sampah-sampah menumpuk di depan setiap kamar, bau busuk sudah menyebar kemana-kemana, belum lagi lantai yang kotor, jemuran sudah menumpuk pakaian-pakaian yang sudah kering tetapi belum diangkat dari gantungan, kerak-kerak dikamar mandi sudah menebal. Hari ini juga bertepatan dengan jadwal kelas 12 keluar bulanan, hanya tersisa beberapa orang saja. Mau tak mau kelas 11 yang terkena imbasnya bukan?
"MUDABBIROH KELAS 11 BAGIAN KEBERSIHAN, SEMUANYA KUMPUL DI KAMAR USTADZAH SEKARANG!" Teriak Ustadzah Aurel di ujung lorong kamar, suaranya yang menggelegar membuat beberapa santri terlonjak kaget. Santri-santri mudabbiroh tadi buru-buru beranjak ke kamar ustadzah dengan tergesa.
"KENAPA DARI KALIAN SEMUA NGGAK ADA YANG MENGIGATKANJADWAL PIKET? NGGAK LIHAT SAMPAH UDAH MENGGUNUNG !?" Bentak Ustadzah pada mereka, semuanya menunduk. Tak ada yang berani menjawab.
"Kalian udah besar, kalau lihat nggak ada yangpiket, adik-adiknya diingatkan. Di cek siapa aja yang tugas, sebentar lagikalian naik kelas dua belas, kalian akan jadi kakak paling tua buat adik-adikkelas kalian. Kakak kelasnya aja nggak bisa nyontohin yang baik, gimana adik-adiknya?"
Mata ustadzah mencari keberadaan Billa yang tak terlihat batang hidungnya.
"Mana Sabilla!?" tanyanya sembari melotot garang. Yang lain mendongak saling pandang.
"Dimana!?"
"Anu—itu dzah." Sahut Asa terbata.
"Anu-anu apa!?"
Asa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kepalanya menoleh ke samping, meminta persetujuan temannya. Yang di tatap hanya mengangguk pasrah.
"Di kamar dzah." Cicitnya pelan.
"Di kamar!? Panggil sekarang!" titah Ustadzah Aurel membuat Asa buru-buru berlari ke kamar. Ia membuka pintu kamar dengan tergesa. Perempuan itu naik ke ranjang Billa yang ada di atas.
"Bil, bangun!" ujarnya seraya mengguncang tubuh Billa yang masih nyenyak tertidur.
"Bil allahuakbar! Cepetan bangun, nanti kita di hukum dzah Aurel!" ujarnya gemas. Billa mengucek matanya kasar.
"Apa si, ngantuk ih. Orang Minggu juga, free kan nggak ada apa-apa, jangan ganggu deh!" gerutunya kesal. Ia kembali memeluk gulingnya. Asa segera menarik guling perempuan itu dengan kasar membuat sang empu berdecak.
"Asa ih!"
"Bangun cepet dipanggil dzah Aurel!" teriaknya. Perempuan itu langsung turun dari dipan.
"Ngapain nenek lampir nyariin inces, kangen ya?" ujarnya bercanda. Asa menghembuskan nafasnya.
"Nggak ada waktu buat bercanda Bil plis, cepet turun!"
Mau tak mau perempuan itu turun, dengan muka bantalnya. Ia berjalan membuntuti Asa dengan langkah gontai.
"Baru bangun Sabilla!?" sindir Ustadzah Aurel membuat perempuan itu mendongak, Asa sudah duduk kembali di posisinya. Mata Billa menatap teman-temannya yang sudah duduk rapi. Ia menoleh menatap ustadzah dengan cengiran khasnya.
"Pagi dzah." Sapanya tanpa dosa, yang lain hanya menggeleng tal habis pikir, masih sempat-sempatnya bercanda.
"Udah siang, pagi dari mana!?" semburnya dengan mata melotot membuat Billa menutup mulutnya rapat-rapat.
Billa meneguk salivanya, menatap bodoh sang ustadzah. "Duduk ya dzah?" ijinnya.
"Berdiri disitu!" titahnya garang.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARLOJI
Lãng mạnIni tentang cerita cinta sepasang manusia. Bisa dibilang, cukup menyebalkan bagi Afsheen Fateena Aqilla, seorang ketua OSIS pada salah satu SMA yang ada di ibu kota. Cewek dingin, jutek, seperti es batu, dan tak tersentuh seperti Fateena harus berha...
