7

9 9 1
                                        

~Semakin ikhlas semakin tenang. Belajarlah untuk berlapang dada. Karena tidak semua yang kita inginkan itu terbaik untuk kita. Sesulit apa pun keadaannya. Belajarlah menerima keadaan tanpa membenci~

Hari ini semua guru dan ustad ustadzah mengadakan rapat di luar, hal itu membuat kondisi asrama jadi tidak kondusif. Beberapa santri bahkan sudah ada yang melewati batas masuk area santriwati. Ada yang tengah mengobrol dengan dekat meskipun terhalang oleh pohon, ada yang tengah kejar-kejar tanpa takut akan ketahuan oleh pengurus, ada pula yang tengah saling menatap tanpa berbicara satu kata pun.

Teena yang kini berdiri di depan kelas melihat keadaan sekitarnya pun menggelengkan kepalanya. Banyak yang sudah sibuk dengan pacar-pacar mereka. Jika ada pengurus yang melihat, sudah pasti tamat riwayat mereka.

"Eh, ada Teena! Lagi ngapain nih? Ikut Aa Saga ke dapur yuk, mau nggak?" ujar Saga pada Teena.

Teena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, matanya menatap Saga aneh.

"Ngapain si?" tanyanya risih. Lelaki bernama Saga tersebut tersenyum tengil pada Teena.

"Makan lah ya kali ke dapur mau nyangkul ubi!" sahutnya. Saga tidak sendiri, laki-laki aneh itu membawa kedua temannya yang tak lain adalah Huzai dan Daffa.

"Billa mana?" tanya Daffa penasaran. Matanya menatap sekitar berharap menemukan sang pacar.

"Belakang." Sahut Teena malas. Daffa langsung menarik lengan Saga membuat tubuh laki-laki itu terseret secara paksa. "Dah Teena, jangan kangen Aa ya!" teriak Saga sembari berlari ke halaman belakang. Perempuan itu bergidik menatapnya.

Tinggalah Teena dan Huzai berdua, perempuan itu mengedarkan pandangannya dan ia bisa melihat jelas bagaimana tatapan adik kelas di sekitar tengah menatapnya iri. Ini Huzai loh, laki-laki yang katanya paling keren, ganteng yang paling di idolakan sama santriwati disini. Fyi, Huzai ini pernah suka sama Teena, tapi langsung ditolak dengan alasan nggak mau pacaran, padahal sebenernya nggak mau saingan sama temen aja si.

Teena mengerutkan alisnya bingung, ini nggak ada yang takut ketahuan apa gimana?

"Semua pengurus lagi rapat, makanya sepi." Ujar Huzai seolah mengerti pikiran Teena. Ia menoleh singkat, kemudian pergi meninggalkan Huzai seorang diri. Sedari tadi ia sudah malas melihat tatapan orang disekitarnya.

Teena melangkahkan kakinya ke taman, asrama benar-benar ribut oleh santri dan santriwati yang dengan santainya bertemu padahal itu sebuah aturan yang sudah tertulis jelas untuk dilarang melanggar. Jujur saja ia memang tidak tertarik melihat pemandanga tersebut, takut-takut ada yang melihat dan melaporkan ke pengurus.

"Lo serius bakal lama di pondok ini?" tanya seseorang. Mendengar itu Teena mengedarkan pandangannya. Matanya melihat dua orang tengah duduk berbincang tak jauh darinya. Kaki Teena melangkah mendekat.

"Daripada mobil gue nggak balik? ATM gue di blokir, lagian disini ada abang gue yang bebasin gue mau ngapain. Ya, anggep aja liburan." Ujar orang itu.

"Abang?" celetuk Teena.

"Serius dia beneran adeknya ustad Alfi? Kakaknya ustad adeknya kek setan." Ujarnya. Teena menggaruk kepalanya tak habis pikir.

"Waduh, udah mulai betah lo disini Bi?" tanyanya. Laki-laki yang dipanggil Abi itu pun menoleh. Ia mengendikkan bahunya.

"Mungkin, gue nemu sesuatu yang menarik disini."

"Pasti lo kecantol cewek-cewek disini ya? Jelas dong, disini isinya bidadari semua. Lo harus kenalin gue si nggak mau tau! Pendosa ini sangat butuh bidadari!" ujar cowok itu berlebihan.

ARLOJITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang