8. Teman Lama

35 4 0
                                    

Rose yang memakai sweater dengan turtleneck berwarna putih dipadu celana jeans hitamnya maju selangkah sambil tetap menebar senyuman. Ia tidak menyadari kehadiran Gloria di belakang Arvin yang tetap diam mematung untuk beberapa detik. Disaat yang bersamaan, mata Arvin menatap lekat wajah cantik di hadapannya dengan perasaan tak karuan. Rasa rindu dengan senyum dan tawa wanita ini, juga rasa kecewa yang bercampur malu. Bibir Arvin bahkan sekarang sudah sedikit menganga ingin berbicara namun lidahnya kelu karena saking terkejutnya ia akan hadirnya Rose dihadapan matanya. Tak disangka, keterkejutan Arvin bertambah saat seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap dengan gaya maskulin itu tiba-tiba datang lalu berdiri di belakang Rose. Ia memakai setelan kaos berwarna hitam dengan jaket dan celana jeans. Laki-laki itu menatap Arvin tajam tanpa mengulas senyum sedikitpun. Arvin tahu betul siapa laki-laki yang dibawa Rose ke rumahnya, dia tak lain adalah penyebab wajahnya babak belur sampai terluka begini.

"Hai bang, malam. Apa aku mengganggu waktumu?", suara Rose membuyarkan lamunan seorang Arvin. Dengan wajah yang kikuk, Arvin segera mengajak Rose dan kakaknya masuk ke dalam rumahnya. Ruang tamu dengan cat berwarna putih juga perabotan yang didominasi keemasan ini menambah kesan elegan namun minimalis disetiap sisi. Terpajang beberapa bingkai foto keluarga, foto anak laki-laki usia sekitar sepuluh tahun memakai baju pilot dengan senyum mengembang dan foto Arvin memakai baju toga tersenyum manis bersama kedua orang tuanya. Sedangkan, di pojok kanan ruangan terdapat sebuah guci keramik bermotif batik. Di sebelah kiri terdapat buffet dengan aneka pajangan di dalamnya. Arvin mempersilakan tamunya itu untuk duduk di sofa panjang berwarna kuning gading dengan ukiran kepala burung di atasnya.

Setelah tamunya duduk, Arvin berniat menawarkan minum dan kudapan namun tangan Rose dengan halus menahannya agar ikut duduk dikursi. Sembari menahan tangan Arvin, Rose menatap ke arahnya dengan semburat senyum menenangkan. Membuat rasa gugup dan canggung antara mereka bertiga seketika sirna dalam benak Arvin. Merasa mulai tenang, ia beranikan diri untuk bertanya mengenai maksud dan tujuan tamunya berkunjung di jam istirahatnya. Saat akan memulai percakapan, Rose dan Arvin dikagetkan dengan suara dehaman dari Albertin. Seketika tangan Rose ditariknya dari tangan Arvin karena merasa terintimidasi oleh tatapan kakaknya itu.

"Jadi tujuan kami kemari ingin meminta maaf, bang. Maafkan kejadian tadi siang yang membuatmu jadi seperti ini. Semua ini salahku," Rose menunduk, menjeda ucapannya. Lalu ia kembali menengadah,memberanikan diri menatap Arvin.

"Seharusnya aku tidak melibatkan kakakku dalam masalah kita." Berbeda dengan Rose, beda pula dengan Arvin, Albertin malah tetap menatap intens wajah laki-laki dihadapannya itu dengan tatapan penuh kebencian. Ia ingin melihat reaksi apa yang diberikan Arvin saat mendengar pengakuan adiknya barusan. Sayangnya Arvin tidak menyadari itu karena berusaha menatap wajah Rose yang menunduk dalam. Arvin merasa sangat bersalah sekarang. Akibat ulahnya, Rose jadi menyalahkan dirinya sendiri. Padahal memang sudah jelas jika itu kesalahan Arvin tempo hari yang akhirnya harus ia bayar hari ini dengan lunas.

"Rose, ini semua bukan salahmu. Ini memang salahku, seharusnya aku lebih bijak malam itu. Sudahlah, jika aku menjadi kakakmu pasti aku akan melakukan hal serupa.", jelas Arvin yang masih menatap Rose lekat-lekat. Merasa dirinya tidak dianggap, Albertin kembali berdeham. Kini Rose menatap kakaknya kesal, pasalnya kakaknya tidak mau meminta maaf pada Arvin. Melihat tatapan Rose padanya, Albertin hanya melengos dengan senyum sinisnya.

"Kak", panggil Rose lirih. Ia masih menatap tajam kakak laki-lakinya itu. Albertin menoleh ke arah Rose lalu menatap Arvin yang juga menatap dirinya. Albertin mengulurkan tangan tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Arvin yang melihat itu tak langsung meraih tangan putih milik Albertin, ia menjeda pergerakan tangannya beberapa detik sampai akhirnya mulut Albertin terbuka hendak berbicara.

My RoseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang