2.

8.1K 654 31
                                        


***

“Darimana aja nak?”

Tanya sebuah suara, tetapi tidak menghentikan langkah gadis yang berpakaian ketat itu. Gadis itu terus menaiki tangga satu persatu tanpa menghiraukan semua keluarga yang berkumpul didepan televisi.

“Biar Yuda aja Bun.” suara pemuda menyarankan sang Bunda untuk melanjutkan acara berbincang nya.

Pemuda yang bernama Yuda itu berdiri dan berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Dimana kamar sang Diva berada.

Dorr.. dorr.. dorr..

Suara gedoran pintu itu membuat seorang gadis yang ada didalam kamar memutar bola matanya malas. Akhirnya, Diva memutuskan untuk membuka pintu kamar nya. Dan dapat ia lihat si kakak tertuanya sedang menahan marah. Terlihat jelas dari ekspresi wajah pemuda itu yang memerah.

“Sini lo!”

Diva hanya menurut, gadis itu mengekor dibelakang tubuh tegap pemuda didepannnya dan sampailah di kamar tamu yang kedap akan suara. Yuda yang bernotabe sebagai kakak tertua itu dengan cepat mengunci pintu.

Dan berbalik menatap Diva. “Bisa gak sih lo sehari aja gak usah bikin masalah?!”

“Emang gue bikin masalah apaan?” tanya Diva heran.

“Emangnya gue gak tau? Lo bully si Yelo lagi kan?! Dan lagi lo gak bisa apa duduk di depan televisi kumpul bareng!” seru Yuda menatap marah Diva.

Kaki kirinya menendang meja yang ada di kamar tamu tersebut. Sedangkan Diva langsung pergi dari situ dan turun menuju ruang televisi. Disitu masih ramai, matanya menatap sendu semua keluarga yang kini tengah memandang rendah dirinya. Huh, Diva tau apa yang akan terjadi pasti akan selalu sama seperti sebelumnya.

“Menjijikan.” Dafi berkata pelan, tapi bisa terdengar oleh Diva. Gadis itu merasakan sesak di dada saat mendengar nya. Apalagi perkataan itu terlontar dari mulut kembarannya sendiri.

Diva mendekati kursi yang kosong dan langsung mendudukkan diri, tanpa mengucap sepatah katapun. Saat sedang mendengar semua keluarga yang tengah berbincang tentang bisnis. Samar-samar dirinya mendengar suara ketukan pintu.

Kakinya melangkah menuju depan, berniat membukakan pintu. Tapi saat pintu terbuka dan menampilkan seorang pemuda tampan yang sangat ia kenali membuat nya mematung. Kedua matanya berkaca-kaca dan langsung memeluk pemuda tersebut. Tersirat rasa kerinduan yang mendalam dari mata indah miliknya, dan tanpa aba aba Diva memeluk pemuda di depannya dengan erat hingga membuat keduanya ambruk kebelakang.

“Hai Diva..” sapa pemuda itu dengan tersenyum sumringah.

“Kakak kenapa baru pulang?”tanya Diva diikuti isakan kecil yang keluar dari mulutnya.

“Lagi pengen aja.” ujar Alfan sembari mengelus rambut coklat milik adiknya.

Diva dengan cepat merubah raut wajahnya yang sendu menjadi tersenyum ceria dan berdiri dari posisi tengkurap nya. “Ayo ayo kita masuk.”

Tanpa menunggu lama keduanya masuk kedalam mansion megah itu. Alfan juga tidak lupa memberi salam.

Semua orang yang tadinya berbincang dengan riuh kini terdiam. Memandang kaget seorang pemuda yang dua tahun ini tidak pulang ke rumah. Lamunan mereka buyar saat mendengar isakan tangis Christie.

Wanita paruh baya itu menatap sendu Alfan. Kakinya berjalan mendekat dengan kedua tangan direntangkan. Matanya terus menerus mengeluarkan air mata. Puncaknya Christina memeluk tubuh tegap anaknya dan menangis di dalam dekapan Alfan.

Semua orang yang melihat itu hanya menonton tidak ada yang ingin mengganggu momen itu.

Dramatis bgt.

“Heh masih inget rumah ternyata?!” bentak Radit yang merupakan kepala keluarga.

Alfan menoleh. “Masih.”

Tetapi detik berikutnya lelaki paruh baya itu ikut memeluk erat Alfan. Sama seperti Christie Radit juga sangat merindukan putranya yang satu ini. Berbeda dengan satu orang yang menegang ditempat. Sedangkan pemuda yang satunya hanya menatap datar pemandangan didepannya.

Tapi dari matanya tidak bisa dibohongi bahwa pemuda yang sedari tadi diam datar juga merindukan sosok kakak laki-laki nya itu.

“Alfan kenapa kamu baru pulang sekarang hah?!” tanya Radit yang sudah melepaskan pelukannya.

“Pengen aja.” Alfan hanya tersenyum kecil.

Semua orang yang melihat senyuman Alfan pun terkejut. Sejak kapan pemuda itu pandai tersenyum. Karena biasanya Alfan hanya akan berekspresi datar. Terakhir mereka melihat Alfan tersenyum adalah saat Alfan masih berumur lima tahun.

“Bunda kangen tau, ya kan Yah?” ujar Christina dan diakhiri pertanyaan.

“Iya.” timpal Radit sembari tersenyum dan memeluk pinggang istrinya.

“Kami juga.” celetuk salah satu orang yang ada diruang televisi.

Semua tertawa, terkecuali Alfan. “Yasudah nak, kamu mending kekamar, istirahat.”

Alfan mengangguk. “Selamat malam semuanya.”

Semuanya membalas. “Selamat malam juga Al.”

Kemudian pemuda itu berjalan menuju kamarnya yang berada dilantai dua diikuti oleh Diva. Kamarnya berada tepat disebelah kanan kamar sang adik kembarnya. Lalu langkah nya terhenti dan berbalik menatap Diva yang menunduk.

Tangan kanan nya terulur untuk mengelus rambut coklat milik Diva. “Besok kamu sekolah?”

“Kakak?” tanya Diva.

Alfan mengangguk. “Sekolah.”

Diva menatap wajah kakak laki-laki nya. “Kakak sekolah dimana?”

“Satu sekolah sama Diva.” jawab Alfan.

“Bareng Diva? Tapi kok Diva gak pernah lihat?” tanya selidik Diva.

“Lah orang kamu tiap hari aja selalu perhatiin si Fariz.” ujar Alfan dengan muka dimurung-murungkan.

Mengingat Alfan yang asli selalu sibuk dengan tugasnya. Tapi dibalik itu semua Alfan asli selalu memperhatikan dan memantau kelakuan adiknya. Tentu saja lewat kedua temannya.

“Eh itu, apa ya.. emang kakak dikelas apa?” tanya Diva lagi.

“Kelas XII IPA 2.” beritahu Alfan pada Diva.

“Diva kira kita beda sekolahan.”

“Sana kumpul lagi kakak mau tidur.” suruh Alfan pada sang adik perempuan nya. Sebelum Diva beranjak pergi Alfan menyempatkan diri untuk mencium pipi adik perempuannya.

Diva terdiam dan tersenyum manis pada Alfan. “Mimpi buruk kak.”

Lalu keluar dari kamar sang kakak.

“Dasar bocah bucin, sampe ga nganggep kakanya ada di sekolah.” Alfan menggeleng tidak paham dengan adiknya itu.

Memutuskan untuk istirahat agar bisa menghadapi hari esok dengan tenang.

***


TBC..

Transmigrasi Of Ketos [BL]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang