4.

7.7K 716 53
                                        

Setelah keluar dari kantin, Alfan segera melangkah menuju ruang OSIS. Dia tidak ada tugas saat ini, tapi dia hanya ingin beristirahat ditempat itu. Alfan melangkah santai di koridor dengan raut datar seperti biasanya, sedangkan manik coklatnya menatap lurus ke depan. Sesekali juga tersenyum saat ada yang menyapanya.

Langkahnya terhenti tepat didepan pintu ruangan OSIS. Memandangi cukup lama pintu didepannya yang masih tertutup. Perlahan tangan kanannya menarik knop pintu ke bawah hingga terbuka. Kakinya mulai melangkah masuk, tetapi setelah itu Alfan terdiam sejenak melihat apa yang kini ada didepannya.

Dua pemuda sedang berdiri anteng dipojok ruangan OSIS. Keduanya saling menatap tajam satu sama lain dengan keadaan berantakan. Sepertinya mereka habis berkelahi, Alfan langsung berjalan menghampiri keduanya. Ia berdehem pelan untuk mengalihkan perhatian dua siswa didepannya.

Kepala Alfan sedikit menunduk guna membaca name tag siswa yang ada dihadapannya. Dua siswa itu adalah Alfariz Zayden Werick dan Faiz Ananto Putra.

“Kalian berkelahi?” tanya Alfan sekedar basa-basi.

“Menurut lo?” tanya balik Fariz dengan muka khas datar nya. Sedangkan Faiz hanya diam.

Alfan mengangguk singkat. “Siapa yang pertama mulai?”

Mendengar itu Fariz dan Faiz pun saling tunjuk-menunjuk. “Lo yang mulai duluan anjing.”

“Lo duluan.” ucap Fariz tidak terima.

Alfan menggeleng dan kembali bertanya. “Faiz atau Fariz?”

“Fariz bang.” ujar Faiz, tangan kanannya dengan cepat membekap mulut Fariz agar tidak bersuara.

Alfan terkekeh pelan dan menatap Fariz. “Dia ngapain lo?”

Faiz menarik kembali tangan yang tadinya membekap mulut Fariz. “A-”

“Gue cuma nabrak bahunya doang bang, gue gak sengaja beneran. Pas niat gue baik mau minta maaf muka gue malah ditonjok, gue kagak terimalah anjeng ya gue bales nonjok!” sela Faiz sebelum Fariz menyelesaikan ucapannya.

“Hanya itu?” heran Alfan. Matanya melirik Fariz yang masih menatap tajam Faiz. Alfan berfikir bahwa Fariz adalah orang yang mudah marah, mungkin? Alfan tidak tau dia diam.

“Kalian berdua kelas?” tanya Alfan untuk kesekian kali.

“XI IPS 3.” jawab mereka bersamaan.

“Oke kalau gitu kalian berdua harus minta maaf!” suruh Alfan.

Faiz dan Fariz saling melirik, tapi setelah itu kedua sama-sama membuang muka.

“Ogah!” tolak Fariz sinis.

“Dih gue juga ogah kali.” ujar Faiz tak kalah sinis dari Fariz.

Alfan menghela nafas pelan. “Kalau gak mau, kalian bakal bersihin toilet selama satu Minggu, tolak apa terima?”

Faiz menelan ludah kasar. “Oke.”

“Riz gue minta maaf buat kejadian tadi di kelas.” ucap Faiz gugup serta malu.

Fariz hanya menatap datar dan mengangguk.

Setelah itu mereka menatap Alfan. “Udah kan?”

Alfan mengiyakan dan berkata. “Udah, lo boleh pergi. Kecuali dia, tetep diem disini!”

Tangan kanannya menunjuk Fariz. Dan kembali berkata. “Oh ya kalau gue denger atau lihat kalian berantem lagi, tunggu aja hukumannya.”

Faiz mengangguk pelan dan melangkah keluar dari ruangan itu. Kini hanya tersisa Alfan dan Fariz di dalam ruangan OSIS. Alfan berjalan mendekati Fariz dan menepuk bahu pemuda itu. Baru dua kali tepukan tangan Alfan langsung ditepis kasar oleh Fariz.

Transmigrasi Of Ketos [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang