14.

2.4K 126 7
                                        

Happy reading!
...


Alfan tidak bisa fokus pada pelajaran terakhir. Pikirannya terus melayang pada Zeever yang sendirian di apartemennya. Sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi kekasihnya itu, tapi tidak ada jawaban. Membuat firasat buruk semakin kuat menghantui benaknya.

"Lo kenapa sih?" bisik Gerald yang duduk di sebelahnya. "Dari tadi gelisah bae."

Alfan menggeleng pelan. "Gue harus pulang cepet hari ini."

Gerald mengernyitkan dahi. "Ada masalah?"

"Gue ceritain nanti," jawab Alfan singkat.

Begitu bel pulang berbunyi, Alfan langsung melesat keluar kelas tanpa menunggu teman-temannya. Ia bahkan melewatkan rapat OSIS yang seharusnya ia pimpin siang itu.

"Dannes!" Gerald mengejarnya di koridor. "Lo mau kemana? Rapat OSIS gimana?"

Alfan berhenti sejenak dan menoleh ke arah Gerald. "Tolong gantiin gue ya. Ada urusan penting."

Sebelum Gerald sempat bertanya lebih lanjut, Alfan sudah berlari menuju tempat parkir. Dengan tergesa-gesa, ia menyalakan motor dan melesat meninggalkan sekolah.

Jalanan kota yang macet membuat perjalanan pulang terasa begitu lama ditambah teriknya matahari membuat kepala Alfan serasa panas. Alfan berkali-kali menghubungi ponsel Zeever, tapi tetap tidak ada jawaban. Kecemasannya pun semakin menjadi-jadi.

"Ayolah, Zee. Angkat teleponnya," gumamnya frustasi.

Setelah puluhan menit perjuangan menembus kemacetan, akhirnya Alfan tiba di apartemennya. Dengan tergesa-gesa, ia memarkirkan motor dan berlari menuju lift. Setiap detik terasa begitu lama saat lift bergerak naik menuju lantai apartemennya.

"Zee!" seru Alfan begitu membuka pintu apartemen. "Zee, kamu dimana?"

Tidak ada jawaban. Apartemen itu sunyi, terlalu sunyi hingga membuat jantung Alfan berdegup kencang karena cemas.

"Zeever!"

Alfan memeriksa kamar tidur, tapi Zeever tidak ada di sana. Tempat tidur masih berantakan, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan kekasihnya. Alfan kemudian bergegas menuju dapur.

Pemandangan yang menyambutnya membuat darahnya seolah membeku. Zeever tergeletak di lantai dapur, di antara pecahan gelas dan genangan darah kecil. Pergelangan tangannya terluka dan masih mengeluarkan darah, meski tidak deras.

"Zee!" Alfan berlari menghampiri Zeever dan mengangkat tubuh lemahnya. "Ya Tuhan, Zee, apa yang kamu lakuin?"

Zeever membuka matanya perlahan. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya kering. "Dannes...?" ucapnya lemah.

"Iya, ini aku," Alfan memeluk Zeever erat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Maafin aku, Zee. Aku nggak seharusnya ninggalin kamu sendirian."

Dengan sigap, Alfan mengambil kotak P3K dari lemari dan mulai membersihkan luka di pergelangan tangan Zeever. Lukanya tidak terlalu panjang, tapi cukup dalam dan masih mengeluarkan darah. Tetapi yang membuat nya takut adalah tidak hanya satu luka yang ada di tangan Zeever melainkan ada beberapa bekas luka lain yang sudah menjadi keloid.

"Kenapa, Zee? Kenapa kamu lakuin ini?" tanya Alfan sambil mebalut luka Zeever dengan perban.

Zeever terisak pelan. "Zee takut... Zee takut Dannes ninggalin Zee lagi seperti mama ninggalin Zee dulu."

Alfan merasakan hatinya seperti diremas kuat-kuat. Menurut ingatan yang ia dapat Zeever memiliki hubungan yang tidak baik dengan ibunya, tapi ia tidak menyangka trauma itu begitu dalam hingga membuatnya nekat menyakiti diri sendiri.

Transmigrasi Of Ketos [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang