11.

2.9K 162 4
                                        

Happy reading!
...

Jari telunjuk Susi menunjuk dua orang yang sedang terduduk di bangku taman. Alfan mengikuti arah yang ditunjuk Susi dan bingung.

"Sepertinya itu tuan Zeever dan dokter Ian, kamu bisa menghampiri mereka, ah sebelum pulang harap menandatangani surat ya." ucap Susi sembari tersenyum lebar.

Alfan mengangguk. "Terima kasih sudah menuntun ku Susi."

Susi mengacungkan jempol dan berjalan menjauh. Kakinya melangkah mendekati dua sosok, laki-laki dan perempuan yang sedang berdiam diri dibangku taman. Keduanya menatap lurus ke depan tanpa tau keberadaan Alfan.

Saat sudah ada di belakang bangku Alfan hanya berdiri dan diam. Tak tau apa yang harus dilakukan tapi dia harus mengakhiri hubungannya dengan Zeever. Dikala tangannya ingin menepuk pundak sang dokter, Alfan dikejutkan dengan tangan dokter Ian yang sudah menggenggam tangannya terlebih dahulu. Sosok perempuan itu menoleh kebelakang dan melirik Alfan.

Raut terkejut dari sang dokter terlihat jelas dimata Alfan namun Alfan hanya menaikkan sebelah alisnya. Lalu dokter Ian pun beranjak dari tempat duduknya dan menarik pergelangan tangan Alfan. Membawa pemuda itu sedikit menjauh dari bangku yang masih ditempati Zeever.

"Ngapain kamu kesini?" tanya dokter Ian menyelidik.

Alfan menjawab. "Saya ingin menjemput Zeever apakah salah?"

"Tentu salah kenapa baru sekarang kamu menemui dia, pulang! Zeever bisa pulang dengan saya."

Pusing Alfan pusing tidak ada satupun ingatan yang masuk dia tak tau apa yang dokter Ian katakan. "Maaf jika saya lancang, tapi anda siapa?"

"Saya? Biar saya jelaskan untuk kedua kalinya saya psikolog dan Zeever adalah pasien saya, kau sangat kurang ajar Alfandy, kenapa kau terus menyakiti orang lemah sepertinya." ujar dokter Ian kepalanya menoleh ke arah bangku taman.

"Saya tidak tau."

"Tidak bisakah kau memberinya sedikit kasih sayang yang sangat dia inginkan?" dokter Ian menghela nafas pelan.

Alfan tidak bisa menjawab pertanyaan dari dokter Ian. "Boleh saya mengantarnya pulang?"

"Tidak jika tujuan mu untuk menyakitinya lagi." tegas Dokter Ian.

"Saya tidak akan menyakiti nya kali ini, saya mohon saya akan meminta maaf pada Zeever." mohon Alfan dengan serius

"Jangan hanya meminta maaf, perbaiki juga perilaku mu." peringat Dokter Ian.

Alfan mengangguk pelan dan mendekati Zeever. Alfan berdiri dihadapan dan berlutut di depan Zeever yang sedari tadi menunduk. "zeever."

Panggil Alfan tetapi tidak mendapat respon dari Zeever. "Hai Zeever."

Alfan menepuk pundak pemuda itu dan kembali memanggil namanya. "Zeever.."

Kepala pemuda itu mendongak menatap wajah Alfan. Mata keduanya bertubrukan dan membuat Alfan merasakan perasaan aneh. Sedangkan Zeever tersenyum tipis sembari menatap wajah Alfan.

"Dokter Ian, aku dapat melihat Dannes, dia ada didepan ku." lirih Zeever tanpa mengalihkan pandangannya.

Alis Alfan mengerut tidak mengerti. "Zeever?"

Transmigrasi Of Ketos [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang