3.

8.3K 707 38
                                        

Kringg.. kringg.. kringg..

Bunyi nyaring dari jam alarm itu membangun kan seorang pemuda yang sedang tertidur. Alfan mematikan jam alarm dan menatap nya. Matanya melebar saat jam sudah menunjukan pukul 04:59 pagi.

“Astaga terlambat.” Alfan berlari dari tempat tidur nya ke kamar mandi.

Setelah nya Alfan bergegas berpakaian dan turun untuk berpamitan pada kedua orangtuanya. Tanpa mengikuti sarapan bersama.

“Alfan berangkat dulu.” pamit Alfan sembari menyomot roti tawar yang ada dimeja.

“Loh masih terlalu pagi Al.” usul Christie.

“Ada tugas dari kepsek Bunda, di suruh berangkat pagi.”

Kedua orang tuanya hanya menggeleng tidak habis pikir.

Alfan mengeluarkan motor dari garasi. Dirinya mulai menancap gas dengan kecepatan diatas rata-rata. Jam sudah menunjukan angka lima lewat tujuh belas menit. Dan seharusnya Alfan sudah tiba di sekolah pada pukul 05:00.

Setelah Alfan berangkat duluan terlihat sosok gadis dengan pakaian ketat seperti biasanya berjalan menuju meja makan. Wajahnya berseri-seri kala membayangkan dirinya akan berangkat bersama dengan kakak keduanya. Hingga sampai di meja makan semua keluarga nya sudah menunggu dirinya untuk makan bersama.

Kepalanya menoleh kesana kemari. Mencari sosok kakak yang ia nantikan.

“Kakak kamu sudah berangkat nak.” ujar Christina membuat anak-anak menatap dirinya.

“Yah kok kak Al duluan padahal Diva pengen berangkat bareng.” sedih Diva sembari menatap bundanya.

“Kapan Bun?” Kali ini bukan Diva yang bertanya melainkan Dafi.

“Sekitar jam lima kalau gak salah deh.” balas sang Bunda sembari mengambilkan makanan kesukaan mereka masing-masing.

“Pagi banget perasaan.” ucap Yuda.

Christie mengangguk. “Iya katanya ada tugas dari Kepsek.”

Ketiganya hanya mengangguk angguk kan kepala paham.

“Sudah-sudah, sekarang kalian makan.” suruh ayah Radit.

Dan mereka mulai makan dengan tenang.

“Diva berangkat sama Ayah ya.” pinta Diva.

Yuda yang mendengar itu memutar bola mata malas. “Lo berangkat pake taxi aja lah, lagian ga searah juga elah nyusahin Ayah aja.”

“Bocah sial.” tambahnya tanpa berpikir.

“Yuda! Ayah tidak pernah melontarkan kata kasar seperti itu padamu, siapa yang mengajarimu mengucapkan kata kasar seperti itu!” marah Radit tidak habis pikir dengan anak sulungnya.

Christie yang tidak ingin berdebat karena masih pagi pun mencoba menenangkan Radit sang suami.

“Diva sama Dafi aja ya nak, kan kalian satu sekolah.” sahut bunda menimpali.

“Emang Dafi mau?” tanya Diva jutek untuk menutupi rasa sakit hati akibat perkataan kakaknya.

Dafi yang merasa disebut namanya pun menggeleng kuat. “Gak sudi.”

Transmigrasi Of Ketos [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang