13.

2.5K 131 2
                                        

Happy reading!
...

Setelah malam penuh tawa dan air mata di apartemen itu, pagi menyapa dengan sinar yang redup menembus tirai jendela. Zeever membuka matanya perlahan, tubuhnya yang lemah masih merasa rapuh, tapi hatinya mulai sedikit lebih ringan dari kemarin malam.

Alfan sudah bangun sedari tadi dirinya sudah rapi dengan seragam sekolah nya, duduk di kursi dekat jendela, menatap ke luar dengan wajah yang sulit dibaca. Saat Zeever mengalihkan pandangannya, Alfan tersenyum kecil, meski ada bayangan kesedihan di balik itu mengingat kejadian Zeever yang trauma akan hujan.

“Selamat pagi, Zee,” ucapnya pelan.

“Selamat pagi, Dannes,” jawab Zeever sambil mencoba mengangkat tubuhnya dengan bantuan bantal.

“Dannes mau berangkat sekolah?” imbuh Zeever melihat penampilan rapi Alfan.

Alfan mengangguk. “Iya, aku sekolah dulu ya.”

“Zee juga mau sekolah.” lirih Zeever membuat Alfan tidak tega untuk meninggalkan nya.

Helaan napas keluar dari Alfan, dirinya mendekati Zeever dan berkata. “Kamu masih belum sehat Zee, kamu harus istirahat aku udah siapin sarapan di atas nakas.”

Ucap Alfan sembari melirik sebelah kiri Zeever yang terdapat nampan berisi semangkuk nasi goreng dengan potongan daging sayur, dan semangkuk kecil salad serta secangkir teh merah hangat.

Ucap Alfan sembari melirik sebelah kiri Zeever yang terdapat nampan berisi semangkuk nasi goreng dengan potongan daging sayur, dan semangkuk kecil salad serta secangkir teh merah hangat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

# Pict by pinterest

Alfan melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 06.45. Ia harus segera berangkat ke sekolah. Dengan berat hati, ia mengelus kepala Zeever yang masih bersandar lemas.

"Zee, aku harus berangkat sekarang," ucap Alfan tangannya beralih mengusap lembut pipi Zeever. "Kamu makan yang banyak ya, biar cepat sembuh."

Zeever mengangguk lemah, matanya masih sembab karena menangis semalaman. "Hati-hati di jalan, Dannes."

Alfan mengecup kening Zeever dengan lembut sebelum beranjak pergi. "Kalau ada apa-apa, telepon aku ya."

Setelah memastikan Zeever nyaman di tempat tidur, Alfan mengambil tasnya dan bergegas keluar dari apartemen. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran akan keadaan Zeever yang ditinggalkan sendirian.

***

SMA Cendrawasih tampak ramai seperti biasa ketika Alfan tiba. Sebagai ketua OSIS, kedatangannya selalu menarik perhatian. Dengan langkah tegap dan ekspresi dingin yang sudah menjadi ciri khasnya, ia berjalan melewati koridor sekolah.

Transmigrasi Of Ketos [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang