Selamat Membaca
"Hah?"
Liris mengerjap dua kali mendapati Tama berdiri di samping troli kosong seraya mengulurkan telapak tangan kanan yang dibuka lebar.
"Permen asam. Kakak berjanji memberiku sepuluh permen jika kita bertemu lagi," katanya.
Ya ampun! Liris tertawa pendek melihat tingkah Tama. Jadi pria ini datang lebih awal lalu menggantikan tugasnya untuk menyusun buku untuk menagih janji?
"Bagaimana, ya, aku belum sempat membelinya. Bagaimana jika pulang sekolah nanti kita mampir di minimarket?"
Kerutan muncul di dahi Tama, berpikir keras untuk menyetujui atau menolaknya. Jujur saja, permen itu sangat cocok di lidahnya, tapi dia tidak tahu harus beli itu dimana.
Tama angguk pelan. "Iya."
Tangan Liris bertaut di balik punggung, menelengkan kepala sambil memperhatikan wajah Tama. "Kalau begitu, bagaimana jika kita habiskan waktu untuk membaca buku?" usul Liris.
Tama kembali mengangguk, kemudian menyusuri rak, mencari satu untuk dibaca. Liris sendiri sudah mendapatkan buku dan memilih duduk di tempat yang berdekatan dengan jendela. Tama yang masih sibuk mencari buku pada rak yang tidak jauh dari posisi Liris terdiam, memperhatikan Liris yang fokus membaca.
"Kamu sudah dapat bukunya?"
Tama tersadar ketika Liris bertanya.
"Iya." Menjawab setenang mungkin, Tama asal meraih buku pada rak lantas duduk di seberang Liris.
Napas Liris tercekat melihat buku apa yang hendak Tama baca, "100 cara mengusir Jin"
"Tama... " Liris nyaris berbisik.
"Ya?" Tama angkat sebelah alis.
Liris menggeleng pelan, lebih baik diam saja, mungkin saja Tama akan risi jika dia bertanya.
"Tidak apa-apa," tutur Liris.
Alis Tama nyaris menyatu karena bingung, tapi sekarang dia memilih membaca buku yang diambilnya.
Liris melirik Tama lagi. "Apa kesedihan yang sering kulihat di matanya disebabkan oleh makhluk-makhluk tak kasat mata, ya?" batin Liris, menampilkan raut wajah prihatin.
Tama sendiri diam saja sambil membaca buku, sementara pikirannya merutuki diri karena asal ambil buku, tapi dia tetap membaca beberapa cara mengusir jin pada buku itu.
"Apakah aku bisa menggunakan cara ini untuk mengusir Aseph dari hidupku? Yah, lagi pula, kan pria tua itu lebih parah dari bangsa jin, " pikir Tama.
***
"Selamat datang kembali." Kasir menyatukan dua tangan dibarengi senyum ramah. Sepasang murid yang baru saja membeli dua bungkus permen terlihat seperti pasangan selebritis muda, mengagumkan.
"Nih, untukmu." Liris memberikan sebungkus permen berisi 15 permen lolipop asam pada Tama.
Selepas pulang sekolah, Liris menepati janji untuk membeli permen di minimarket. Tama memasukkan permen itu dalam tas lalu berjalan beriringan bersama Liris.
"Tama."
"Ya?"
"Kamu suka olahraga, ya?"
Tama menatap Liris dengan dalam. "Lumayan."
Menyadari bahwa tatapan Tama terlalu intens, Liris buru-buru memandang lurus ke depan. "Pantas saja tubuhmu bagus." ungkapnya.
"Benarkah?" Tama menunduk mengamati tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Light that Never Dims✔️
Teen FictionJudul awal 'Pancarona' dalam proses revisi Bagi Tama, semua warna kehidupannya adalah hitam. Sekeras apapun dia berusaha menggapai beragam warna untuk mendekati kehidupannya, takdir buruk selalu menjatuhkannya ke titik terendah. Menjadi korban perda...
