Selamat membaca
Biano-orang kepercayaan Aseph-berikan amplop cokelat sebesar map pada Aseph yang duduk di dalam kantor pimpinan.
Wajah sangar Aseph terlihat hangat ketika melihat sejumlah foto dalam amplop. Biano tersenyum tipis, siapa sangka pemimpinnya begitu menyayangi kedua anak itu.
"Jadi, dia sudah mendapat teman, ya."
Biano mengangguk mantap. "Benar, Tuan."
Ada dua foto yang berada dalam tangan Aseph. Pertama foto Tama yang berangkat ke sekolah bersama Ilyan lalu satunya lagi, seorang gadis imut berambut pirang dikuncir kuda yang memegang tongkat bisbol. Secara sembunyi, Aseph menempatkan anak buahnya untuk mengawasi kedua anak itu.
"Ada sedikit masalah, Tuan." Biano berujar skeptis.
"Tentang?"
"Nona Katty ingin pindah setelah mengetahui Tama dilepas ke SMA."
Aseph mengembuskan napas lelah, memijat pelipis frustasi. "Memang dia tidak betah di sana?"
"Katanya, tinggal terlalu lama di ibukota membuatnya bosan. Dia tidak memiliki teman karena selalu berbuat onar."
Mengingat kejadian beberapa tahun lalu, Katty yang pertama kali bertemu Tama menunjukkan kebencian, setiap hari menjahili Tama. Aseph memiliki dua anak. Istrinya meninggal saat melahirkan Katty. Anak pertama Aseph seorang lelaki dan satu tahun lebih tua dari Katty, tapi sembilan tahun lalu putranya meninggal karena diculik serta disiksa oleh penjahat.
Setahun Aseph menderita, menyalahkan diri sampai akhirnya bertemu bocah lelaki yang mengingatkannya pada mendiang anaknya.
"Segera urus segala hal untuk kepindahan Katty. Aku harap mereka bisa akrab jika dipertemukan."
Biano mengangguk takzim. "Siap, Tuan."
***
Langit terlihat gelap pekat, angin berhembus kencang disusul guntur yang bersahutan. Tepat saat pulang sekolah, hujan deras mengguyur kota. Para murid mulai resah, berharap jemputan segera datang, mendapat tumpangan, atau menerabas cuaca buruk menggunakan payung atau jas hujan, tapi Liris tidak masuk ke semua itu. Dia berteduh di teras gedung sekolah, mengamati hujan dengan senyum cerah tanpa peduli rasa dingin mengusik kulitnya.
"Kakak belum dijemput?" Tama muncul di belakang Liris seraya menyampirkan jaket tebalnya pada punggung gadis tersebut.
Liris tertegun, mengamati jaket tersebut lalu beralih pada Tama yang berdiri dengan kedua tangan bersarang di saku celana.
"Bagaimana denganmu?" tanya Liris.
Tama melirik Liris sekilas. "Entahlah."
"Tama! Aku bawa payung, mau pulang bersama?"
Viela tiba-tiba menghampiri Tama sambil menenteng payung kuning gading serta Paper bag.
"Tidak mau," tolak Tama.
Viela merengut, tatapannya jatuh pada Liris yang hanya diam mengamati Tama dan dirinya yang sedang berbincang. Dia tidak tahu bahwa Liris dan Tama dekat, itu bisa dilihat dari jaket yang sering Tama pakai tersampir di punggung Liris.
"Oh, ya, ini." Viela bersikap tidak acuh pada kehadiran Liris lalu memberikan paper bag berisi pakaian yang dipinjamkan Tama lusa lalu.
"Terima kasih telah meminjamkan pakaian dan membiarkanku bermalam di rumahmu." Viela tersenyum penuh arti.
"Ambil saja, aku sudah tidak memerlukannya lagi," kata Tama.
Liris mengeratkan pegangannya pada tali tas. Mendengar percakapan itu, perasaannya sedikit terganggu. "Pakaian? Bermalam? Apa hubungan mereka?"
KAMU SEDANG MEMBACA
A Light that Never Dims✔️
Teen FictionJudul awal 'Pancarona' dalam proses revisi Bagi Tama, semua warna kehidupannya adalah hitam. Sekeras apapun dia berusaha menggapai beragam warna untuk mendekati kehidupannya, takdir buruk selalu menjatuhkannya ke titik terendah. Menjadi korban perda...
