16| Menyingkir dariku

132 34 7
                                        

"Selama tidak ada hubungan yang mengikat, maka perasaan diantara kita akan terus tersekat."

- Lirisa Sherianne-

Ketik ini sambil nyetel lagu


Inspired - Irv

<< || >>

Selamat Membaca

"Kak Liris tidak ikut?" Tama yang telah duduk di kantin bersama tiga orang lainnya melempar pandang pada Viela yang baru datang.

Viela mengambil posisi duduk dekat Hansen, menopang wajah muramnya menggunakan tangan, menatap Tama datar. Tidak ada debaran apa pun saat menatap pria tampan itu, berarti rasanya pada Tama sudah hilang.

"Hei, turunkan pandanganmu," intrupsi Hansen sambil mengusap wajah Viela dengan tangan kirinya.

"Kenapa, sih!" ketus Viela.

"Kamu, kan, sudah punya pacar jadi jaga mata, dong, kalau lihat yang lebih tampan." Hansen cemberut, menusuk kasar dan kesal daging di piring.

"Begitu saja cemburu," komentar Viela.

Katty berdecak sambil mengeleng-gelengkan kepala. "Ckckck, padahal kemarin kalau Kak Hansen tahu, pacarmu itu terlihat sangat kesal ketika para anak perempuan memuja-mujamu."

Bibir yang semula agak maju itu berubah menjadi senyum sumringah, ditatapnya Viela. "Benarkah?" Hansen mendekat, bertanya penuh harap pada Viela.

"Enyah!" raung Viela. Rasanya dia benar-benar ingin menjahit mulut Katty.

"Dimana Kak Liris?" Tama memecah kegaduhan kecil itu.

Oh, ya, Viela sadar bahwa dia mengabaikan pertanyaan Tama tadi. "Oh, itu. Aku sudah mengajaknya, tapi dia bilang pekerjaan yang diberi guru belum selesai."

Tidak lama, pesanan Tama datang. Tanpa nafsu makan ditatapnya makanan itu dan Viela secara bergantian lalu secara perlahan ia mendorong makanan yang baru datang kepada Viela. "Kamu saja yang makan. Aku sudah membayarnya." Tama bangkit berdiri.

"Eh?" Mereka tampak bingung.

"Kamu mau kemana?" tanya Hansen.

"Menemui Kak Liris." Setelahnya Tama benar-benar pergi dari kantin.

Setelah kepergian Tama, mereka saling pandang lalu bergosip. Sama seperti lingkar persahabatan lainnya, siapa pun yang tidak ada saat tengah berkumpul maka akan jadi bahan pembicaraan.

"Apa mereka bertengkar?" Ilyan bertanya dengan nada rendah.

"Hah, mana mungkin. Kemarin, kan, masih baik-baik saja," imbuh Katty.

Viela menautkan alis, berpikir sejenak lalu berujar, "Entahlah, ini perasaanku saja atau bukan. Tapi tidak seperti biasanya, setiap kali kuajak bicara dia tidak ingin menatap mataku. Apa dia menyembunyikan sesuatu?"

"Sudahlah. Jangan berpikir negatif, siapa tahu dia pusing memikirkan tugas yang diberikan oleh guru."

"Iya-ya," ucap Ilyan, Katty, dan Viela secara bersamaan.

A Light that Never Dims✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang