19| Diburu

124 37 17
                                        

Selamat Membaca

Demi memberi ruang pada Liris dan Tama, Selena membawa Argan menjauh dari sana.

"Berbincanglah," kata Selena.

Tama mengangguk sopan. "Terima kasih, Kak."

Sementara itu, setelah kepergian kedua kakaknya Liris menutup pintu cepat, sejujurnya dia belum sanggup bertemu Tama apalagi setelah kejadian dia memberi tamparan.

"Mau kabur lagi?" Masih dengan senyuman, tangan besar Tama menahan pintu yang hendak Liris tutup.

Liris menggigit bibir bawah dan menekan gagang pintu kuat, enggan menatap Tama. Melihat sikap Liris, akhirnya Tama mengalah.

"Jika Kakak mengizinkan, kita bisa bicara di tempat terbuka," ujar Tama seraya menyingkirkan tangan dari pintu.

Mendengar suara lembut itu, Liris memberanikan diri memandang Tama. Membiarkan mata mereka saling mengunci seakan membaca perasaan satu sama lain melalui kontak mata.

"Masuklah, kita akan berbicara di balkon," ujar Liris seraya mempersilakan Tama masuk.

Dua kursi dan satu meja kaca bundar cukup serasi diduduki sambil memandang lapangnya langit bertabur bintang ditemani angin lembut menerpa kulit. Tama duduk dengan tenang sedangkan Liris masih berdiri dan memandang Tama.

"Mau minum apa?" tanya Liris.

Tama menoleh, membalas tatapan Liris lalu melirik kursi kosong di seberangnya.

"Aku tidak haus. Sebaiknya Kakak duduk dan mari saling bicara terbuka satu sama lain," ujar Tama.

"Bicara terbuka apa? Lagi pula, bukan aku yang memintamu kemar—"

Rahang Tama mengeras, setiap kali mendengar Liris hendak mengeluarkan alasan yang sama, membuat kesabarannya benar-benar terkikis, tetapi dia tidak bisa meluapkannya.

"Kak, hentikan." Tama memalingkan wajah dari Liris dan memilih memandang jauh ke depan.

"Avar adalah ketua geng Killerox. Kakak berpacaran dengannya karena diancam, aku tidak mungkin salah, jadi Kakak jangan beralasan lagi."

Liris terkejut, jantungnya berdegup lebih cepat, hendak menyela tetapi Tama kembali berbicara.

"Lalu biar kutebak. Apa Kakak jadi murung setelah menamparku waktu itu? Apa akhirnya itu mengusik Kakak?" tanya Tama.

Liris membisu. Bulir-bulir air jatuh dari pelupuk mata, membasahi wajah mungilnya yang telah sembap karena menangis sejak tadi. Dadanya jadi sangat sesak, jika dia mengeluarkan suara untuk menjawab, hanya isakan yang terdengar. Liris tidak kuasa menahan kesedihan yang dialaminya.

Tama mengembuskan napas, berdiri lalu mendekati Liris, membawa gadis itu ke dalam dekapannya yang hangat.

"Kakak sudah berjuang sangat keras, tapi seharusnya Kakak ingat bahwa sekarang Kakak tidak sendirian untuk menanggungnya," ucap Tama, menenangkan.

"Aku, takut, Tama. Dia.. dia mengancamku, jika aku menolaknya maka kamu dan yang lainnya akan dalam bahaya. Aku tidak ingin itu terjadi, aku ..."

A Light that Never Dims✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang