05| Memberi tumpangan

201 56 3
                                        

Selamat Membaca

Viela acungkan jari tengah pada empat orang dewasa bertubuh gempal lalu berlari sambil menenteng high hells, bertelanjang kaki dengan mengenakan gaun bludru merah ketat dengan belahan dada rendah.

Viela adalah pegawai di sebuah bar, tapi sekarang tidak lagi. Sejam yang lalu, dia memukul kepala pemilik bar dengan botol champagne mahal. Bukan tanpa alasan, pria paruh baya itu hendak melecehkannya di depan para tamu VIP. Jadi, sekarang anak buah dari pemilik bar mengejarnya sambil membawa pemukul.

"Ah, sial!" Viela memaki saat menemukan pertigaan.

Dengan ragu memilih dan sialnya daerah itu sangat sepi. Semua tempat berjualan seperti toko, kios, ruko, kedai dan sebagainya sudah pada tutup. Hanya ada lampu jalan serta beberapa papan reklame menyala.

Viela mengeratkan pegangan pada high hells, keringat sebesar biji jagung kian muncul disusul napas terengah-engah.

"Itu dia!"

Viela menoleh ke belakang, mendapati orang-orang itu semakin dekat. Tidak peduli telapak kaki yang terasa panas dan perih, Viela tetap berlari.

"Akh!"

Viela memekik saat seorang pemuda menariknya masuk ke dalam celah antar dua gedung, sempit dan gelap. Pemuda itu melingkarkan sebelah tangan pada pinggul Viela sedangkan tangan lainnya terletak pada belakang kepala wanita itu.

"Diam." Pria itu menunduk, mata hitamnya berkilat bak obsidian terpapar cahaya.

"Sial! Padahal aku yakin bocah itu belok ke arah sini!" Salah satu pria berujar frustasi.

"Cari di tempat lain," sahut lainnya seraya menjauh dari sana.

Setelah aman, mereka keluar dari persembunyian.

"Mereka sudah tidak ada jadi aku pergi. Semoga selamat sampai rumah," kata pemuda itu.

Adhitama Pradipa!

Jantung Viela berdegup cepat, rona merah muncul di pipinya. Pemuda bertubuh tinggi, tegap dan kokoh itu adalah Tama. Pria yang baru saja menolongnya!

"Tunggu!"

Tama membisu, menatap jemari lentik Viela menarik ujung jaket kulitnya.

"Kenapa?"

"A.. aku masih takut," cicit Viela.

Napas memburu membuat dada Viela naik turun, tubuh gemetar dan peluh tak berhenti muncul di tubuhnya membuat Tama mengalah pada pertahanan untuk tidak peduli lebih jauh.

Tama membebaskan tangan Viela pada jaketnya. "Apa yang bisa kubantu?"

Viela memeluk tubuh sendiri. "Meminjam pakaian dan tempat untuk bermalam."

Rasa intens akibat kejadian yang menimpanya mungkin membuat Viela mengalami trauma ringan. Itu pikir Tama.

"Ambil ini, beli pakaian dan cari penginapan." Tama memberikan uang pada Viela.

Gadis itu terbelalak, buru-buru mengembalikannya pada Tama. "Kumohon malam ini saja, biarkan aku ikut denganmu. Aku takut mereka menemukanku, juga kalau pulang ke rumah sekarang tidak ada bedanya bertemu dengan orang-orang tadi," lirihnya.

Perkataan tersebut tentu menggambarkan kondisinya di rumah. Tama menerka-nerka apakah gadis ini memiliki kehidupan agak kacau. Sedangkan Viela tidak punya pilihan lain, pertama, dirinya jarang pulang ke rumah karena cemas ayah pemabuk memukulinya; kedua, orang-orang tadi pasti tidak akan berhenti mencari sampai hari berganti; ketiga, dia yakin Tama adalah pemuda baik, sangat terlihat dari sosoknya.

A Light that Never Dims✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang