Selamat Membaca
Setelah berpisah dengan lainnya, Viela melepaskan pelukannya pada lengan Hansen seraya menunjukkan pesan dari Katty.
["Kak, tolong beli sesuatu untuk kejutan Kak Ilyan. Kami mengandalkanmu!"]
Hansen mendadak lesu mengetahui kenyataan, memang kenyataan itu pahit. Tapi setidaknya dia bisa merasakan tingkah manja Viela sesaat.
"Jadi, mau cari apa untuk kejutan?" tanya Hansen.
Viela tampak berpikir, memang kejutan seperti apa yang akan disukai Ilyan? Dia, kan, tidak mengerti selera pria.
"Kue saja untuk makanan penutup sekalian."
Viela berdecih. "Kau ini kejam sekali."
"Kado bisa menyusul, yang terpeting saat ini adalah kejutan kecil dari kita. Kurasa Ilyan lebih menyukai hal yang sederhana."
Viela terdiam lalu mengacungkan jempol. "Oke! Ayo, kita cari toko kuenya!" Viela meraih tangan Hansen lalu hendak meninggalkan daerah sepi tempatnya berada.
"Kami sudah menunggu sejam yang lalu, loh, disini," sahut seseorang dari balik gang sempit dan buntu, menyulut rokok dan membuangnya tepat di depan sepatu Hansen.
Sontak Hansen mengambil alih genggaman Viela, membawa gadis itu bersembunyi di balik punggungnya.
Geo—salah satu pilar Killerox, tertawa panjang diikuti empat anak buahnya. Geo bersiul melihat Viela.
"Ternyata lebih besar saat dilihat langsung, ya," ungkap Geo seraya mengerling nakal pada Viela.
Hansen mengeritkan gigi, cepat-cepat dipasangkan jaketnya di tubuh Viela. Menarik resleting jaket hingga ke ujung. Kini tubuh indah Viela telah terbungkus jaket besar milik Hansen.
"Dasar babi guling. Lihat dadamu itu lebih besar, tahu!" ledek Hansen sambil menatap sarkas tubuh gemuk Geo, lebih gemuk dari Otto. Kalau saja Geo bisa lebih menjaga lisannya, maka Hansen tidak akan berkata kasar seperti itu.
"Tsk! Sialan!"
"Hiih, kok, kamu yang marah? Seharusnya aku yang marah karena kamu bersikap kurang ajar pada pacarku," balas Hansen.
Viela beringsut, menyentuh ujung seragam Hansen. "Kita lari saja. Kamu bisa terluka jika berkelahi."
Hansen melirik Viela sekilas. "Kamu mengkhawatirkanku?" tanya Hansen sambil menaik turunkan alisnya.
"Bisa-bisanya dia masih bersikap menyebalkan?!" gerutu Viela.
Hansen menepuk puncak kepala Viela lalu menempelkan bibirnya pada daun telinga gadis itu. "Kamu larilah. Aku akan menghadang mereka. Cari tempat yang ramai, ya."
Viela terbelalak, menggeleng sebagai penolakan. Bagaimana pun dia tidak akan meninggalkan Hansen di saat begini. Hansen mengembuskan napas mendapati respon Viela.
"Kalau begitu, panggil bantuan untukku, ya," kata Hansen lagi.
Kali ini Viela berpikir sejenak, mengangguk dengan berat hati membuat Hansen tersenyum lega. Setidaknya, dia akan bertarung tanpa kekhawatiran karena bisa saja musuh mengincar Viela lalu melumpuhkannya.
"Tangkap gadis itu," perintah Geo pada salah satu anak buahnya.
Viela yang telah berlari sekuat tenaga menoleh sesaat mendengar Geo, tetapi Hansen berseru lantang agar dirinya terus berlari.
"Hei, mau kemana kamu?" tanya Hansen sembari menenandang wajah lawan yang hendak mengejar Viela.
Satu lawan jatuh begitu mudah, Hansen tersenyum pada Geo sembari mengangkat kaki kanan yang ditekuk. "Killerox benar-benar sekumpulan lelucon, ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
A Light that Never Dims✔️
Teen FictionJudul awal 'Pancarona' dalam proses revisi Bagi Tama, semua warna kehidupannya adalah hitam. Sekeras apapun dia berusaha menggapai beragam warna untuk mendekati kehidupannya, takdir buruk selalu menjatuhkannya ke titik terendah. Menjadi korban perda...
