14| Seseorang yang bersinar

132 37 8
                                        

Selamat Membaca

"Ini pertama kalinya aku datang ke perpustakaan secara sukarela." Viela mendengkus, duduk dengan kaki bersilang sambil memegang sebuah novel berjudul 'Aria and the blank book'.

Hari ini, Hansen, Ilyan, Katty, Liris, Tama serta Viela pergi ke perpustakaan. Penjaga perpustakaan mengulas senyum, siapa sangka Liris yang penyendiri tiba-tiba datang bersama lima orang dan terlihat sangat akrab.

"Kamu sudah menyelesaikan buku itu?" tanya Liris ketika Tama telah mengganti buku bacaannya.

Tama mengangguk. "Iya."

Hansen penasaran. "Buku apa?"

"100 cara mengusir setan." Ilyan menyahut, sambil memegang buku itu. Kali ini, dia yang membacanya.

"Pft!" Hansen dan Viela menahan tawa, pikiran mereka sama. Mungkin Ilyan membaca itu agar mengusir setan kecil yang terus menempelinya, Katty.

"Kalian serasi," celetuk Tama setelah mendapati kekompakan Hansen dan Viela.

Hansen menyombongkan diri, memandang Viela dengan bangga. "Tentu saja, makanya kami pacaran."

Viela berdecak lalu membaca sebuah quotes di novelnya. "Dengar, aku akan membaca sebuah kata singkat untukmu, 'Cepat berlabuh namun perlahan menjauh. Itulah yang terjadi pada mereka yang tak berjodoh'."

"Yah, itu, kan, untuk yang tidak berjodoh. Lagi pula, hanya aku yang tahu butuh waktu berapa lama harus berlabuh kepadamu hingga ke titik ini," jelas Hansen.

Katty, Liris, dan Viela benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa Hansen pandai berkata-kata pada wanita.

"Hei, kalian pikir perpustakaan ini cuman ada kalian," cibir Katty yang tengah menyandar lelah di lengan Ilyan.

Sudut bibir Hansen berkedut, ditatapnya Katty. "Yaampun, kenapa ada hama di tubuh Ilyan. Ckckck, harusnya kau beli pestisida untuk menyingkirkannya," balas Hansen.

"Cecunguk sialan ini," desis Katty.

Hansen tersenyum penuh kekesalan mendengar makian Katty. "Lihatlah, sepertinya saraf mulutmu itu harus diterapi."

"Ukh, bajinga—"

"Ini perpustakaan Katty, lebih baik diam dan baca buku," intrupsi Ilyan.

Katty mengalah lalu memeluk lengan Ilyan. "Iya, Kakak," katanya dengan nada seimut mungkin.

Sejenak Tama berhenti membaca, dilirknya Ilyan dengan penuh kekaguman. Hebat juga Ilyan bisa mengendalikan Katty yang keras kepala dan mudah emosi seperti banteng.


"Hiih, merinding," komentar Hansen.

Tama sendiri memilih fokus membaca buku astronomi, kali ini matanya fokus pada bintang-bintang yang ditunjukkan pada lembar buku. Tama menutup mulut menggunakan tangan kanan untuk menyembunyikan senyum, setelah itu menunjukkannya pada Liris.

"Kak, lihat ini," Tama sedikit menggeser kursi lebih dekat pada Liris.

"Bintang?"

A Light that Never Dims✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang