"Banyak hal yang perlu pahami, tapi hanya sedikit yang bisa diyakini."
-Adhitama Pradipa-
Selamat Membaca
Tama menyeringai lebar, kaos hitamnya terlihat basah oleh noda darah juga dipenuhi debu. Bangunan tua yang gagal diselesaikan telah menjadi salah satu markas Killerox juga dijaga oleh salah satu pilar terkuat milik Avar. Sayangnya dalam waktu setengah jam, tempat itu sudah terlihat jauh lebih buruk. Seluruh perabot pada seluruh ruangan bangunan tua hancur dan luluh lantah juga orang-orang di dalamnya terkapar dalam kondisi babak belur.
"Kenapa begitu takut? Padahal sejam yang lalu aku yakin kamu mengatakan bahwa butuh waktu lima menit untuk membuatku berlutut dan memohon ampun." Tama mendekati pemuda yang mungkin satu tahun lebih tua darinya.
"Kenapa kamu melakukan ini?! Kamu akan mampus jika bertemu bos kami!" pria itu meraung, sudut bibir serta pelipisnya sobek juga hidung yang melelehkan darah.
"Hoo~ kami satu sekolah. Tidak sulit untuk bertemu dengannya, lagi pula tidak lama lagi akan kuhancurkan geng mainan kalian ini." Tama mendekatkan bibirnya pada daun telinga pemuda itu, berbisik penuh ancaman.
Pemuda itu merasakan getaran ketakutan besar dalam dirinya, rasa takut seolah membungkamnya. Dia tidak tahu apa masalah Avar pada pemuda ini, tapi sepertinya Avar salah mencari target. Pria ini jauh berbeda, dia terlihat seperti... menikmati setiap pertarungan bahkan tampak puas saat pukulan mengenai wajahnya.
Tama berdiri, menaruh dua tangan dalam saku celana. Memandang datar orang-orang Killerox. Dari sekian banyaknya lawan, hanya pemuda di hadapannya yang berhasil memberikan pukulan di wajahnya.
"Ini peringatan pertamaku, jauhi Liris maka aku akan berhenti menganggu Killerox, katakan itu padanya," pesan Tama lalu segera meninggalkan gedung.
Sesaat keluar, dihirupnya oksigen sebanyak-banyaknya lalu diembuskan secara perlahan.
"Padahal kamu sangat ingin keluar dari kerangkeng dan menjauhi dunia kekerasan. Jadi, aku penasaran apa alasanmu sampai turun tangan menghajar bocah-bocah kencur itu."
Mobil hitam terparkir tak jauh darinya. Aseph serta Abiano ada di dalamnya. Hari ini, mereka berniat menangkap anak-anak Killerox di gedung yang dipastikan menjadi salah satu markas, tetapi siapa sangka mereka didahului oleh Tama.
Tama tampak acuh, enggan berkata apa-apa dan memilih untuk menghindar, tetapi Aseph mencekal lengannya.
"Katakan alasanmu, maka aku akan melepaskanmu."
Rahang Tama mengeras, urat lehernya tampak timbul bahkan tanpa takut menatap Aseph dengan berang. Sejujurnya, dia juga masih ragu atas alasan dia melakukan sampai sejauh ini. Apakah benar hanya karena seorang gadis? Apakah benar dia jatuh cinta pada kakak kelasnya hingga menjadi gila saat gadis itu diusik? Tama mempertanyakan itu sendiri dengan kalut.
"Katakan," desak Aseph.
Netra Tama yang penuh amarah perlahan meredup, namun tidak menghilangkan aura mengintimidasinya. "Karena mereka telah mengusik seseorang yang telah menjadi zona nyamanku," jawab Tama tanpa keraguan setelah benar-benar memantapkan pikirannya.
Aseph tidak tahu harus senang atau sedih. Jika Tama telah menemukan zona nyamannya, apa yang terjadi jika zona nyaman itu menghilang? Aseph telah menebak, zona nyaman Tama adalah gadis yang berada di rumah untuk merawat Tama waktu itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Light that Never Dims✔️
Novela JuvenilJudul awal 'Pancarona' dalam proses revisi Bagi Tama, semua warna kehidupannya adalah hitam. Sekeras apapun dia berusaha menggapai beragam warna untuk mendekati kehidupannya, takdir buruk selalu menjatuhkannya ke titik terendah. Menjadi korban perda...
