Selamat Membaca
Sudah seminggu berlalu sejak Tama sekolah di SMA Negeri 1 Kanagara, salah satu sekolah terkenal di Megaraya, Kanagara. Para murid kebanyakan dari keluarga kaya, terlihat dari penampilan dan barang-barang bermerek yang mereka kenakan. Tama tidak peduli akan hal itu. Hanya satu yang membuatnya tertarik saat ini, yaitu teman sebangkunya bernama Ilyan yang selalu terlihat babak belur. Dia murid berambut kepala jamur, berkaca mata tebal, juga berbadan kecil yang terlihat sangat lemah.
Menegurnya saja tidak pernah, karena Ilyan selalu menundukkan kepala terlebih lagi dia selalu keluar lebih cepat sesaat jam istirahat berbunyi, saat kembali wajahnya terlihat sayu dan lelah.
"Apa anak-anak melakukan kekerasan di sekolah?" Tama tampak berpikir.
Hari ini, tidak seperti biasanya. Ilyan tidak keluar dari kelas saat jam istirahat dan memilih tidur dengan tangan bertumpuk sebagai bantalan di meja.
"Sialan, kenapa kau tidak datang ke kami hari ini, hah?!"
Tama menoleh, mendapati tiga murid masuk ke kelas, mendekat sembari menepuk pundak Ilyan cukup keras hingga Ilyan terbangun. Dia berdiri seperti bunga layu, tubuhnya gemetar. Anak-anak yang ada di kelas diam, mengamati dengan ekspresi khawatir.
"A-aku tidak enak badan, ja-Akh!"
Ilyan meringis, tamparan mendarat di pipi kiri sebelum menyelesaikan kalimatnya. Kursi tempatnya duduk bergeser sedangkan dirinya tersungkur di samping Tama.
Tama menengadah, memandang pengganggu itu cukup tajam.
"Hei, apa-apaan tatapanmu itu!" hardik salah satu dari ketiga pengganggu ketika mendapati tatapan itu.
"Aku terganggu," ungkap Tama.
Tiga orang itu saling pandang lalu tertawa pendek melihat bagaimana Tama bereaksi sedangkan teman-teman sekelas meminta Tama segera menjauh. Anak-anak itu seperti preman sekolah, melakukan kekerasan di sekolah, tapi tidak ada yang hendak melapor karena diancam.
"Gila. Kamu anak baru itu, ya? Mau mampus!" katanya, salah pengganggu kemudian hendak menerjang Tama dengan tinju yang tak terkepal sempurna.
Berpikir bahwa Tama akan tersungkur sambil mengaduh kesakitan, si perundung tadi malah jatuh di lantai sambil merintih setelah Tama meraih tas berisi buku-buku tebal dan dihantamkan padanya.
"Kamu bahkan tidak bisa membentuk kepalan tangan dengan benar untuk memukulku," sindir Tama.
"Baru menang sekali saja, bicaramu sudah berlagak," geram teman pengganggu lainnya.
"Benarkah?" Tama maju selangkah, tangan kanannya bersarang di saku celana.
"Kalau begitu coba serang," kata Tama.
Tak lama, lawannya menggunakan kaki kanan untuk menerjang kepala Tama, tapi Tama menahannya dengan tangan kiri setelahnya tangan kanan keluar dari saku, menghantam perut lawan sedikit kuat sehingga lawannya bergabung dengan perundung sebelumnya di lantai, bedanya dia memegangi perutnya seperti hendak menangis.
Tama memiringkan kepala, menyentuh leher jenjangnya menggunakan tangan kanan. "Sepertinya jam istirahat akan berakhir, kau mau guru ikut menonton?" Tama melotot pada satu pengganggu yang tersisa. Suara Tama pelan, tapi penuh penekanan hingga membuat keberanian para perundung terkikis.
"Sialan! Hati-hati saja kau jika kita bertemu di luar!" katanya.
"Cepat berdiri, membuat malu saja!" ketusnya pada kedua temannya yang masih terbaring di lantai.
Tak lama, teman sekelas mengerumuni Tama. Memuja Tama tanpa henti sedangkan Tama melirik Ilyan yang membenarkan kursi lalu kembali tidur seperti tadi. Dia pasti sangat malu karena diam seperti pecundang. Namun kondisinya tidak memungkinkan untuk melawan.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Light that Never Dims✔️
Fiksi RemajaJudul awal 'Pancarona' dalam proses revisi Bagi Tama, semua warna kehidupannya adalah hitam. Sekeras apapun dia berusaha menggapai beragam warna untuk mendekati kehidupannya, takdir buruk selalu menjatuhkannya ke titik terendah. Menjadi korban perda...
