13| Telur mata sapi

144 42 12
                                        

Selamat Membaca

Avar mencengkeram gelas kaca hingga pecah, melukai telapak tangan kiri. Kini darah mengalir keluar dari luka lalu jatuh di lantai.

"Gila, ya!" bentak Avar.

Dia baru tahu, bahwa Otto menjadikan wanita yang ditaksirnya sejak tingkat satu sebagai umpan untuk memancing pemuda itu. Hari ini selesai, dia telah membuat Otto babak belur dan dilarikan ke rumah sakit juga mulai saat ini Otto bukan lagi anggota dari geng Killerox.

Avar mengobati tangannya, setelah diperban akhirnya dia memutuskan pulang. Setidaknya, harus menenangkan diri.

"Tumben sekali kamu pulang lebih awal," celetuk ayahnya, Tomy

Avar memandang tajam Tomy. "Itu bukan urusanmu!"

Tomy mencebik kesal, mendekati putranya sambil melayangkan pukulan di kepala sehingga Avar agak terhuyung.

"Kamu tahu, melihatmu selemah ini... membuatku benar-benar makin iri dengan anak didik Aseph!" ungkap Tomy.

Rahang Avar mengeras, dia tidak tahu siapa itu Aseph. Dia hanya kesal bahwa ayahnya selalu melampiaskan kekesalan pada dirinya melalui kekerasan. Itu bukanlah perlakuan orang tua pada anaknya!

Mata Tomy memicing pada perban di tangan kiri Avar. "Kenapa tanganmu?"

"Itu bukan urusanmu!"

"Ya ampun, mulutmu ini kasar sekali, sih?" Sekali lagi Tomy melayangkan pukulan pada kepala Avar. Dia sangat benci kilatan dendam di mata Avar. Itu mengigatkannya pada mendiang istrinya yang kabur bersama pria lain dan meninggalkan anak lemah seperti Avar.

"Tuan, waktunya sarapan," kata kepala pelayan yang mendekat.

Tomy yang hendak memukul kembali mengurungkan niatnya dan segera ke ruang makan.

Sedangkan Avar benar-benar kesal, suatu saat geng kecilnya akan menjadi besar lalu merobohkan kerajaan yang ayahnya pimpin. Avar akan membalaskan setiap pukulan yang diterimanya!

***

"Maaf, aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk membuat telur mata sapi yang indah, tapi kuningnya selalu pecah."

Liris yang sudah duduk di ruang makan dan berhadapan dengan Tama hanya termangu. Memandang nasi dalam porsi besar dengan satu piring lain berisi setumpuk telur goreng mata sapi tak sempurna dengan pinggir yang agak hitam.

"Ah, tidak apa-apa. Yang penting, kan, rasanya," ucap Liris menenangkan.

Dia mengambil nasi dan telur di atas piringnya, menyuap dengan hati-hati, dan menelannya. Liris tidak tahu, bagaimana cara Tama membumbui telur itu, tapi terdapat banyak gumpalan garam di telur dan itu sangat asin.

Liris tersenyum paksa. "Tama..."

"Ya?"

"Bagaimana caramu menggoreng telurnya?"

"Aku memecahkan telur, meletakkannya hati-hati di atas teflon berisi minyak panas lalu menaburkan garam halus di atasnya. Ah, ya, tadi ada satu telur yang ketumpahan banyak garam," jelas Tama seraya mengamati tumpukan telur, mencoba mencari telur yang mana itu.

"Ah, sepertinya itu telur yang kumakan," batin Liris, menatap sendu pada telur di piringnya.

Liris tertawa sumbang lalu memakan telur buatan Tama dengan ekspresi datar. Bagaimanapun ini semua harus dimakan karena banyak orang di luar sana yang bahkan tidak bisa makan telur goreng dengan nasi hangat.

A Light that Never Dims✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang