08| Hansen Januar

181 49 3
                                        

Selamat Membaca

Hansen Januar, murid yang selalu mendapat peringkat pertama di kelasnya, sekelas dengan Otto.

Hari ini, dia kembali mendapati Otto serta tiga anak buahnya babak belur. Mengingat kejadian kemarin, Hansen benar-benar tidak bisa menahan diri untuk berkenalan dengan si pelaku.

Saat Tama berkelahi di gang menyelamatkan Ilyan, kebetulan Hansen ada di sana lalu menonton ditambah kemarin ketika Otto tak jera dan berkelahi dengan Tama hingga babak belur kembali.

"Hei, Otto."

Otto yang duduk di belakang Hansen menoleh, matanya nyeri hanya untuk terbuka lebih lebar.

Hansen terkikik, memutar tubuh ke belakang, menepuk kepala Otto dengan pelan. "Seharusnya kamu sadar bahwa kemampuanmu itu tidak sebanding dengannya di pertarungan pertama." Hansen berujar sarkas.

Wajah Otto mengeras, tidak mampu melawan karena Hansen berada di atasnya. Walaupun kelakuan Hansen tengil dan seperti berandalan, nyatanya dia merupakan salah satu murid teladan di kelas serta dikagumi oleh banyak gadis di sekolah.

"Hei, Hansen. Kamu sangat jago bertarung. Bergabunglah dengan Killerox."

Hansen mendelik lebar, ekspresi tengilnya berubah jadi kekejaman. "Killerox? Geng sampah yang kerjanya hanya berbuat onar dan meresahkan masyarakat? Aku tidak akan bergabung dengan geng berisi anak-anak pemikiran dangkal seperti itu."

"Kamu!"

"Dengar, ya, Otto. Seharusnya kamu sekolah saja yang benar. Tidak usah banyak gaya untuk ikut geng dan sebagainya."

Otto sudah tidak bisa berkata apa pun, kemarahannya memuncak terlihat dari alis bertaut tajam juga urat leher yang timbul.

"Hah..." Hansen mendengkus. "Pergilah ke Rumah Sakit, melihatmu saja membuatku nyeri."

***

"Jadi, gimana?"

Ilyan menatap nanar tasnya, tidak ada bekal atau apa pun untuk mengisi perut. Sedangkan Tama hanya bertanya apa yang bisa dibantunya. Ilyan seperti anak kecil yang akan menangis.

"Aku sebenarnya tidak mau ke kantin, tapi tadi pagi aku bel-"

Tama berdiri dan menyela. "Ayo, aku juga lapar."

Ilyan terharu, siapa pun yang jadi kekasih atau teman Tama pasti beruntung. Pria itu sangat perhatian, gentleman, serta sangat peka.

Kini, mereka sudah di kantin, mengantri makanan lalu mengambil posisi di sudut ruang kantin. Terdapat meja panjang dan enam kursi, sekarang Tama memandangi Ilyan yang melahap cepat makanannnya.

"Kamu tidak pesan minuman?" tanya Tama.

Ilyan tersentak, botol air minumnya ketinggalan. Bakal lama lagi jika kembali ke kelas untuk mengambilnya. Harga minuman di sekolah ini terjangkau, tapi tidak bagi Ilyan. Uang sakunya tidak terlalu cukup untuk membeli makanan dan minuman, dia harus berpikir dua kali dan bersungguh-sungguh.

"Hah, aku tidak yakin uangnya akan cukup," gumam Ilyan nyaris berbisik.

Tama terdiam mendengar gumaman Ilyan, begitu pelan tapi indera pendengaran Tama cukup tajam. "Aku akan pesan minuman. Hari ini aku yang traktir." Tama kemudian beranjak dari duduknya, mendekati pemilik kantin dan memesan dua minuman.

A Light that Never Dims✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang