Selamat Membaca
Di belakang gudang penyimpanan alat olahraga, Otto dan Viela terlihat berseteru.
"Aku mau putus." Viela telah mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya. Ia tidak akan lagi mengikuti Otto melakukan perundungan.
Wajah Otto yang masih babak belur tersebut terlihat murka. Dicekalnya pergelangan tangan kanan Viela cukup kuat, membuat si gadis meringis.
"Aku tidak mengizinkannya!" sentak Otto.
Viela melotot, sekuat tenaga melepaskan cekalan itu, tetapi kesulitan. "Aku tidak mau berurusan denganmu! Lagi pula, selama ini kamu yang mengancamku untuk jadi pacarmu!"
Otto menggeram, sepasang matanya melotot dibarengi ekspresi tidak terima. Lantas sebelah tangan yang bebas terangkat untuk menampar wajah Viela.
"Hei, masa main pukul wanita, sih," celetuk Hansen. Pemuda dengan seragam agak berantakan itu muncul dan menahan tangan Otto yang nyaris menyapa wajah mulus Viela.
Otto bersikeras membebaskan tangan, tapi Hansen jauh lebih kuat. Setelah melihat Otto menarik tangan dengan keras, secara sengaja Hansen menyentak tangan pria gempal tersebut. Hanya karena itu, Otto terhuyung, dan kini Hansen berdiri di samping Viela, menggenggam tangan gadis itu dengan lembut.
Pergelangan tangan Viela jadi merah akibat cekalan Otto. Melihat hal itu, emosi Hansen kembali tersulut.
"Mau kuberi pelajaran orang itu?" Hansen tersenyum setelah bertanya pada Viela.
Viela memandangi pria berkulit pucat nan tampan tersebut. Kalau tidak salah, dia orang yang pernah menghajar Otto.
"Tidak perlu."
"Jadi kamu minta putus karena Hansen, ya!" Otto menuding.
Viela mendelik lebar, hendak membela diri dan menjelaskan, tetapi tiba-tiba Hansen merangkulnya sambil berujar angkuh. "Iya. Aku dan Viela telah resmi berpacaran. Jadi...," Hansen melirik ekspresi terkejut Viela yang menggemaskan. "Kalau kamu ganggu dia lagi, siap-siap saja babak belur dan masuk rumah sakit."
Otto bergidik ngeri sesaat mendapati ekspresi penuh kecaman dari Hansen. Sambil menghentakkan kaki, dia pergi dari sana dengan perasaan dongkol.
"Apa sekarang kau baik-baik saj-"
"Apa maksudmu berpacaran?" sela Viela, ekspresinya jadi agak marah.
Senyum Hansen hilang. Sejak pertama masuk sekolah, ia sangat menyukai Viela, tetapi saat hendak menyatakan perasaan ketika dirinya naik kelas sebelas, rencananya itu telah didahului oleh Otto. Tapi dia tidak tahu sama sekali jika ternyata Viela terpaksa menjadi pacar Otto. Cukup menyenangkan setelah mengetahui alasan tersebut.
"Tidak ada cara lain." Hansen mengedikkan bahu.
"Bicaramu juga tidak sopan, padahal aku kakak kelasmu!" Viela menyentak tangan Hansen.
"Kita seumuran. Aku pernah tinggal kelas saat sekolah dasar," jelas Hansen.
Viela berdecak, kehabisan kata-kata untuk melawan.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Light that Never Dims✔️
Teen FictionJudul awal 'Pancarona' dalam proses revisi Bagi Tama, semua warna kehidupannya adalah hitam. Sekeras apapun dia berusaha menggapai beragam warna untuk mendekati kehidupannya, takdir buruk selalu menjatuhkannya ke titik terendah. Menjadi korban perda...
