17| Hentikan

123 38 6
                                        

Selamat Membaca

"Eh?"

Setumpuk kertas menyembul dari dalam loker Tama lalu berjatuhan di lantai, bukan hanya surat bahkan beberapa kado kecil juga ada.

Beberapa murid yang melihat itu tercengang juga tertawa kecil, bukan karena surat dan kado itu melainkan ekspresi terkejut Tama.

"Sepertinya kamu sudah jadi idola sekolah, ya," gumam Ilyan.

Tama hanya mendengkus, memasukkan kembali surat-surat dan kado ke dalam loker lalu menguncinya. Dalam kelas bagian belakang, memang terdapat loker yang dikhususkan untuk murid.

"Aku terganggu," ungkap Tama kemudian duduk di kursinya.

Ilyan mengekor, menyikut lengan Tama pelan untuk melihat ke arah jendela. Saat itu, dia mendapati beberapa gadis dari kelas lain terlihat kecewa ketika Tama tidak mempedulikan surat dan kado dari mereka.

Tama mengembuskan napas. "Aku harap pelajaran segera dimulai."

Tidak lama, bel berdentang. Seluruh murid memasuki kelas masing-masing. Guru masuk, memberi pelajaran kemudian memberitahu bahwa sebentar lagi ujian tengah semester akan dimulai.

Tidak lama, jam pertama telah selesai. Tama beserta Ilyan memutuskan ke perpustakaan. Kali ini, mereka hanya pergi berdua tidak bersama lainnya.

"Kamu dan Kak Liris bertengkar?" Ilyan bertanya dengan hati-hati.

Tama menggeleng. "Entahlah, aku tidak tahu apakah itu layak disebut pertengkaran."

"Yaampun, kalian tidak mengajak kami?"

Katty bersama Hansen serta Viela datang, mengambil posisi duduk dalam perpustakaan.

"Hei, Tama. Apa kamu dan Liris bertengkar? Aku terkejut saat tahu dia berpacaran dengan mantan ketua osis," celetuk Viela.

Hansen yang ketinggalan kabar jadi bengong. "Maksudmu Avar?"

Viela mengangguk, sedangkan Katty mengembuskan napas. Dia pikir Liris menyukai Tama, tetapi malah jadian dengan orang lain.

Ilyan melebarkan mata, mendekatkan diri lebih pada teman-temannya lalu berujar, "Apa kalian tahu siapa Kak Avar?"

Semua menggeleng, menunggu jawaban Ilyan.

"Saat masih menjadi korban perundungan Otto, aku sering kali mendengar Otto memaki Avar, katanya Killerox bukan apa-apa karena Avar menjadi pemimpin geng."

Hansen serta Viela terkejut bukan main sedangkan Tama masih kurang paham, tentang Killerox juga geng yang dimaksud. Sedangkan Katty terlihat emosi ketika mendengar bahwa Ilyan korban perundungan orang bernama Otto.

"Aku yakin kalian terkejut, aku bahkan masih ragu karena Kak Avar adalah murid berprestasi, sikapnya pun baik apalagi pernah menjadi osis. Jadi, kupikir itu tidak mungkin," jelas Ilyan.

"Benar juga. Tapi, kan, tidak mungkin Otto hanya mengatakan hal semacam itu jika hanya candaan," ucap Hansen disusul anggukan Viela.

"Apa itu Killerox?" tanya Tama.

Kali ini yang menjelaskan adalah Hansen. "Killerox adalah geng yang diisi oleh para pelajar atau remaja yang putus sekolah, mereka berusaha memperluas eksistensi mereka dalam lingkaran geng-geng besar yang ada di negara ini. Namun, hanya berakhir melakukan tindak kekerasan tak beralasan pada orang-orang lemah di bawah mereka."

A Light that Never Dims✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang