Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
10 - Ada yang Menyatakan Cinta & Ada yang Menderita
—
Sesuai dengan permintaan Saga siang tadi. Sepulang kuliah sore itu, Mahesa langsung datang ke rumah Aruna. Masih dengan kaos putih polos yang di balut kemeja cream yang ia kenakan untuk ke kampus hari ini. Mahesa bahkan belum pulang ke rumah barang sekedar untuk menyimpan ransel serta gitarnya.
Pemuda itu masuk ke dalam gerbang tinggi yang sedikit terbuka itu. Kakinya melangkah menuju teras. Belum sempat ia menginjakkan kaki di lantai teras, pintu utama rumah tersebut sudah terbuka.
Luna disana, nampak terkejut dengan kedatangan Mahesa.
"Eh, Kak Hesa." sapanya sembari membuka lebar-lebar pintu besar itu.
Mahesa tersenyum. Pemuda itu melangkah mendekati sang tuan rumah.
"Hai, Lun. Keadaan kakak lo gimana?" tanya Mahesa ketika sudah sampai di depan Luna.
"Udah baikkan, kok. Dia tadi nanyain lo. Samperin sana." jawab Luna sambil tersenyum agak meledek.
Mahesa jadi kikuk sendiri. Dengan langkah besarnya, ia melangkah masuk ke dalam rumah besar itu setelah Luna mempersilahkan untuk masuk.
Luna hanya memberitahu dimana letak kamar Aruna, tanpa mengantar sang tamu pergi mengunjungi kakaknya itu.
Mahesa melangkah menaiki anak tangga menuju lantai atas. Dadanya berdebar tak karuan di setiap langkahnya.
Setelah sampai didepan pintu kamar yang tertutup rapat itu, Mahesa menarik nafasnya kemudian menghembuskannya pelan sebelum mendorong terbuka pintu tersebut. Sosok disana terkejut akan kehadiran Mahesa yang tiba-tiba. Pasalnya, sejak obrolan semalam via chating, keduanya sama-sama belum menghubungi satu sama lain.
"E-eh, Sa?" Aruna lebih dulu bersuara. Membuat Mahesa mengerjapkan mata, segera tersadar dari posisinya yang mematung di ambang pintu.
"Hai." sapa Mahesa kikuk. "Boleh masuk?" tanyanya yang di jawab anggukan kepala dari gadis cantik itu.
Mahesa melangkah mendekat ke tempat tidur dimana Aruna duduk. Pemuda itu berdiri dengan gitar yang tersampir di bahu kirinya serta ransel di gendongannya. Membuat atensi Aruna teralih pada gitar tersebut.
"Tumben bawa gitar?"
Mahesa terkekeh, "gue baru pulang kuliah sebenernya. Langsung kesini. Gak sempat taroh gitar sama ransel di rumah."
Jawaban itu membuat Aruna tergelak. Suasana yang semula awkward berubah mencair ketika Aruna tertawa lepas. Mahesa tertegun melihat gadis itu tertawa lepas.
Ia tak salah ketika menobatkan Aruna sebagai makhluk paling sempurna ciptaan Tuhan yang ia temui setelah Ibu. Selain punya paras yang cantik serta senyum yang manis, Aruna juga punya tawa yang renyah dan hangat. Semua yang ada di diri Aruna memang menyenangkan. Meski awal pertemuannya dengan Aruna di sambut oleh ketidak-ramahan, namun sekarang semuanya berbeda. Aruna selalu menatapnya dengan sorot hangat yang menenangkan.