02 - Tak Mengenalnya

150 28 5
                                        




Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.







02 - Tak Mengenalnya






-

Aruna menatap refleksi dirinya di dalam cermin. Ia menyisir rambut lurus panjangnya itu dengan jemarinya sendiri. Matanya menyendu menatap wajahnya di dalam cermin.

Atensinya kini teralih pada bibirnya yang pucat. Tangan Aruna terulur meraih lipbalm yang ada di depannya. Bibirnya yang pucat itu kini berubah agak kemerahan ketika lipbalm tersebut diolesi olehnya.

Aruna menghela nafas. Meski kini wajahnya tak lagi nampak kacau, namun sorot matanya masih dengan jelas terlihat sayu dan terlihat menyedihkan. Aruna mendesah gusar. Dia tidak bisa terus begini. Setidaknya, senyum itu harus ada meskipun senyum yang ia ulas bukan benar-benar dari hati. Setidaknya, ia harus baik-baik saja meski jauh di dalam sana, Aruna tak pernah baik-baik saja.


"Kak," pintu kamarnya terbuka bersamaan dengan suara panggilan seseorang.

Aruna menoleh, mendapati kepala adik perempuannya menyembul dari balik pintu.

"Ada tamu." ujar perempuan itu.

Aruna mengernyit, "siapa?"

Yang ditanya mengangkat bahunya, tak tahu.

"... Sagara?" tanya Aruna lagi yang kali ini mendapat decakkan serta rolling eyes dari adiknya itu.

"Lo kayak gak tau Saga. Tuh orang kalau kesini mana pernah datang selayaknya tamu."

Aruna terkekeh. Namun setelahnya, kekehan itu lenyap berganti wajah gusar dengan bola mata bergetar menatap adiknya. "Luna.. bukan dia... kan?" tanya Aruna dengan suara yang semakin pelan.

Luna menggeleng cepat, "bukan anjir. Kalau dia yang datang, udah gue usir daritadi."

Mendengar itu, Aruna menghela nafasnya lega. Aruna mengerjap beberapa kali, ia tersentak ingat akan satu hal.

"Hari ini Minggu ya, Lun?" tanya Aruna yang dijawab anggukan kepala, Luna.

"Iya. Lupa lo?"

Ah, itu pasti..




***







"Mahesa. Gak lupa nama gue, kan?"

Aruna melengos menanggapi wajah jenaka Mahesa yang kini berdiri didepannya. Sudah rapi dengan setelan kemeja hitam yang membalut kaos putih polos yang ia kenakan. Rambutnya di tata rapi, berbeda sekali dengan tampilan Mahesa tempo hari yang hanya mengenakan kaos putih polos, celana boxer selutut, serta sandal jepit hitam yang menjadi alasnya sore itu. Hari ini... Mahesa sangat rapi. Bahkan, harum maskulin khas itu menyeruak. Bukan bau matahari seperti tempo hari.

SERENADETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang