Explorer [7]

121 36 6
                                        

Orion berdiri di depan aku dan Frank. Kami berada di palka utama kapal milik Orion, masih di dalam air. Setelah hampir dua jam, sejak kejar-kejaran dengan pesawat militer, Orion yang sepertinya tahu untuk siapa militer datang dan memporak-porandakan Daerah Fomalhout, dia meminta aku dan Frank untuk duduk di depannya, sementara dia sibuk bolak-balik sambil memegang kepalanya.

kenapa aku malah berharap ada makhluk air yang menyerang, setelah melihat Orion seperti ini.

Pandanganku terus ke arah bawah, berusaha agar tidak bertatap muka dengan Orion. Berbeda dengan Frank, dia terlihat santai menyenderkan badannya.

"Ada yang ingin jelaskan? Aku dengar, mereka sedang mencari seorang gadis, bersama makhluk dari Kaum Olagarroa." Sampai akhirnya, pertanyaan itu keluar dari mulut Orion sambil berkacak pinggang.

"Kau tahu aku ini penjelajah. Mereka menginginkan informasi dariku aku sudah menjawab tapi mereka tidak juga melepaskanku lalu Frank datang dan menolongku kabur dari markas militer." Jelasku dalam satu nafas. Masih tidak berani menatap Orion. Hanya Orion yang tahu aku penjelajah selama ini, ia tahu saat kami pertama kali bertemu.

"Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa mengejar kami sampai sini. Maaf," lanjutku.

"Nebula, angkat wajah mu saat sedang bicara denganku!" Ucapnya. Aku membayangkan wajah marah Orion, sungguh menyeramkan.

Aku mengangkat wajahku, namun yang kudapat justru lebih menyeramkan lagi. "A-ada apa dengan wajahmu, kak? Frank kau melihatnya?"

"Ya... itu agak aneh, dan seram."

Memang bukan hal yang baru jika Orion senyum bahkan dia sangat sering tersenyum. Tapi aku baru pertama kali lihat dia tersenyum seperti itu, maksudku dia tersenyum hingga ujung bibirnya hampir mengenai bawah mata.

"Seburuk itukah? Aku belajar keahlian ini selama bertahun-tahun, untuk menunjukannya pada orang lain, dan kalian yang pertama melihatnya." Selain lihai mengendarai kapal ruang angkasa, Orion mempunyai wajah yang sangat lentur.

"Aku tidak marah, ya sedikit. Harusnya kalian bilang padaku dari awal, kalau kalian ini sekarang buronan luminari. Aku tahu betul bagaimana mereka bekerja."

"Maaf, dan terima kasih. Tapi perlu ku koreksi, kami bukan buronan." Tegas Frank.

"Tetap saja, kalian diburu militer. Ini, aku menemukan pelacak mereka di dalam kapalmu." Orion melempar benda kecil itu ke atas meja di depan kami.

"Langsung ku matikan begitu menemukannya, bagaimana kau bisa seceroboh ini, Neb." Gerutunya.

Pantas saja mereka tidak mengejarku saat kabur dari markas militer. Ternyata ada benda kecil ini yang memberikan informasi lokasi kami.

Frank mengambil benda itu dan menginjaknya hingga hancur berkeping-keping. "Harusnya kita lebih berhati-hati lagi! Luminari tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja."

"Kau benar. Mereka ada di mana-mana, ke manapun kita pergi, mereka pasti akan menemukannya!" balas Orion.

"Kecuali satu tempat, kak. Kau ingat aku pernah menceritakan tentang kawasan di bawah gunung es? Kita bisa ke sana, luminari tidak bisa menemukan kita di dalam sana!"

Benar saja, kami bisa sementara berada di sana. Angin badainya akan menghalangi koneksi luminari. Dan mereka tidak akan tahu bahwa planet itu mempunyai kemungkinan ditinggali oleh makhluk hidup, dari luar memang terlihat bukan ide yang bagus, dengan gunung-gunung esnya yang terjal dan salju tebal tanpa pepohonan.

"Gunung es di Planet Canopus?" tanya Orion yang mulai menaikkan alisnya.

"Yap, benar."

GALAXY : The Last Explorer [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang