Explorer [38]

38 7 0
                                        

Air

Benda cair itu, tidak pernah terpikirkan oleh ku untuk mengangkat benda cair, selalunya aku mengangkat benda padat yang lebih mudah mencari energinya. Namun melihat Pancy yang mempercayai ku, baiklah aku akan mencobanya.

Dengan posisi kuda-kuda dan mata terpejam aku mengendalikan pernapasanku setenang mungkin, energi dari benda di sekelilingku mulai terlihat, aneh, aku tidak melihat energi dari air terjun itu. Sekali lagi aku memfokuskan pernapasan ku untuk melihat energi itu, tenang Nebula, perlahan.

Mana? Di mana mereka? Kenapa aku tidak dapat melihatnya?

"Pernapasanmu tidak stabil Neb, kau harus tenang, dan temukan energinya." Suara Pancy terdengar di belakangku.

Dia benar, aku jadi panik dengan keanehan ini. Baiklah, tarik napas dan buang, aku melakukannya sampai lima kali. Air, air, air, suara deru air terjun itu semakin besar di telingaku seolah aku sedang berada di bawahnya. Angin kencang menghembus menerpa wajah dan rambutku.

Aku lihat!

Aku berhasil, energi itu berwarna putih mengalir selayaknya air sungguhan, sangat tenang dan indah.

Ku bawa ke dua tanganku memfokuskan energiku mengendalikan energi air terjun di depanku, perlahan namun pasti air itu terangkat mengikuti gerakan tanganku. Tidak sedikit, aku mengangkat semua air di bawahnya, aku ayunkan tanganku ke kanan dan ke kiri seperti tarian, lalu menurunkannya dengan perlahan, air itu kembali ke tempat semula mengalir kembali.

Aku membuka mataku, dari belakang Pancy berlari memelukku, "aku tahu kau lebih dari mampu mengendalikan air itu, aku senang sekali!"

Kami akhirnya tertawa bersama, aku dengan ketidak percayaan diriku sendiri terkejut dengan kemampuanku. Sungguh ini adalah sebuah pencapaian selama tiga hari ini aku berlatih.

Tidak sia-sia aku menghabiskan waktu ku dari pagi hingga petang, dan terkadang aku lanjut berlatih sampai malam. Namun apakah kemampuanku saat ini aku bisa mengalahkan Pasukan Zain?

Aku berhenti tertawa, memikirkan lagi masalah itu, mereka jelas bukan pasukan biasa. Sudah berapa kali kujelaskan di dalam benakku, bahwa Zain benar-benar tidak main-main, Zain orang yang pernah ku percayai bahwa kita akan bersama melawan Pemerintah yang tidak bijak dalam peradilan. Zain, laki-laki yang sempat ku puja karena memiliki paras yang tampan dan tubuh yang atletis, laki-laki yang telah mengkhianati ku dua kali.

"Hei, ada apa?" Pancy menatap khawatir.

"Hanya, aku takut. Apa yang akan ku hadapi setelah ini, aku takut tidak bisa melindungi kalian semua, kaum ku." Bagaimana jika aku kalah? Bagaimana jika aku mati sebelum perang ini berakhir, dan membiarkan teman-temanku, kaumku berjuang sendirian.

Membayangkannya saja sudah membuatku jatuh.

"Kau tidak lihat? Neb, aku melihatnya, air itu melayang mengikuti tanganmu, kau mengendalikan mereka, bayangkan apa saja yang bisa kau kendalikan dengan kemampuanmu? Makhluk hidup? Kapal? Senjata? Atau bahkan Bulan? Itu bisa saja terjadi, kau bisa saja melakukan itu, hanya satu kuncinya. Percaya pada dirimu sendiri, kau terlahir untuk ini."

Tamparan keras dari Pancy cukup membuatku terperangah, mungkin mengendalikan Bulan cukup berlebihan. "Maaf, aku terlalu takut."

Pancy menghela napas, "tidak apa, aku juga jika menjadi dirimu aku akan sangat ketakutan. Tapi aku punya teman-teman yang mendukungku, kau juga punya mereka. Terutama Frank, dia sangat protektif kepada mu, kurasa ada sesuatu." Pancy menatapku geli dengan senyuman miringnya.

"Okay, apa-apan itu? Kenapa kau sama dengan Orion, kalian benar-benar jodoh." Aku berbalik sambil menepuk pundaknya.

"TIDAK! AKU MEMANG BEGINI! TIDAK ADA SANGKUT PAUTNYA DENGAN MAKHLUK ITU!"




Malam ini, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Aku sampai harus memakai mantel berlapis. Setelah kejadian di gua tadi Pancy menyusulku sambil terus mengumpat Orion, aku kasihan dengannya, Orion tidaklah seburuk itu. Aku paham, Pancy mulai menyukai Orion namun dia tidak sadar akan hal itu.

Ada hal yang harus ku pastikan kebenarannya dengan ibu, tentang orang tua Zain, dan tentang percobaan itu. Aku rasa ini adalah masa yang tepat untuk membicarakannya, kita tidak tahu kapan perang akan di mulai, aku tidak tahu bagaimana dan apa yang sebenarnya terjadi, apakah yang di katakan Zain adalah benar, atau bisa jadi dia salah.

Aku berharap dia salah, aku bisa menjelaskannya dan dia berubah kemudian menghentikan semua ini, perang menakutkan ini.

Sudah tiga kali ku ketuk pintu kamar ibu, namun belum ada tanggapan dari dalam. Ke mana ibu malam-malam begini, tidak biasanya dia keluar kamar, apalagi dengan udara dingin seperti ini, dia pasti akan berpikir dua kali untuk pergi keluar.

Namun ketukan yang kelima ini ibu juga tidak menunjukan dirinya. Aku berkeliling rumah mencarinya, aku mencari ke dapur, taman, bahkan sampai ke ruang perawatan ayah. Baiklah ini mulai mengkhawatirkan.

Aku hampir sampai di pagar depan, namun langkahku terhenti begitu melihat ibu datang bersama Suhail. Napas ku lega, melihatnya baik-baik saja. Mereka menghampiriku, "ada apa Neb? Kau terlihat kacau." Aku mencari ibu.

"Kenapa harus malam-malam begini kalian bertemunya? Apa ada hal penting?" Yang ku tahu jika Suhail sudah datang menemui ibu, pasti ada sesuatu.

Suhail menyibak jubah putihnya, di samping pinggangnya terlihat sebuah pedang yang sangat familiar di mataku. Pedang Thombulus, Suhail mengangkatnya dan diperlihatkan kepada ku dan ibu.

"Aku menemukannya di dalam Kapalmu, maaf aku masuk tanpa izin. Pedang ini terpajang bersama senjatamu yang lainnya, Nebula. Kenapa kau tidak pernah memberitahu ku tentang pedang ini?"

Pedang itu, seolah memang di takdirkan untukku, aku melihat energi itu menggunakan pedang ini. Dan aku pernah tertusuk pedang ini di mimpiku, tidak pernah terbayangkan olehku akan menggunakannya, jadi aku tidak pernah membicarakannya pada siapapun.

Sejujurnya aku agak takut melihat mata pedang itu, sangat tipis dan bercorak indah, terakhir kali aku masih belum bisa mengendalikan pedang itu. Kupikir awalnya pedang ini bukan apa-apa, tapi sepertinya aku salah, dari wajah Suhail dan ibu terlihat terkejut dan tidak menyangka akan pedang itu, aku rasa akan ada sangkut pautnya dengan diriku.

"Kau tahu ini pedang apa?" Kali ini ibu bertanya, dengan tatapan terus menatap pedang itu.

Aku menggeleng, benar tidak tahu dan tidak pernah mencari tahu tentang pedang ini.

Kami akhirnya pindah ke meja makan, meletakkan pedang itu di atas meja dengan kami mengelilinginya. Kalau dilihat lebih mendetail, corak pada pedang ini sama dengan corak busur kaum penjelajah. Sama seperti punya ku dan Suhail.

"Pedang ini adalah warisan dari leluhur kita, pedang yang dibuat dan dipahat dengan Energi Pioneer, planet kita. Pedang ini jadi tidak terkendali dan tidak bisa dikendalikan, jadilah pedang ini hanya dongeng untuk masyarakat."

Planet Pioneer, berarti memang benar yang di katakan Harrington, Planet itu benar-benar istimewa.

Pedang Thombulus ini menyalurkan energi pioneer, pantas saja aku melihat energi itu menggenggam pedang ini, "lalu bagaimana pedang ini bisa sampai di Planet Thombulus?" Kalau pedang ini sangat berarti bagi kaumku, kenapa bisa sampai kebobolan dan sampai di Planet Thombulus.

"Ada pengkhianat, yang membawa pedang ini untuk kepentingan dirinya sendiri. Entah ke mana dia pergi, tidak ada yang tahu." Ibu tahu banyak hal, padahal seharusnya ibu belum ada pada saat pedang ini dibuat.

Oh, aku lupa. Ibuku adalah seorang kutu buku.

GALAXY : The Last Explorer [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang