Explorer [8]

100 31 12
                                        

Rapat dimulai dengan pidato panjang lebar dari para petinggi luminari yang menurutku, mereka hanya membuang-buang waktu dengan memutar-mutar kata yang padahal intinya sama.

"Hal ini benar-benar membuat masyarakat di seluruh galaksi panik dan takut. Jujur, saya dan rekan-rekan sangat kecewa dengan keamanan militer, tapi itu sudah bukan bahasan kita hari ini. Beberapa hari yang lalu, saya dapat laporan dari kapten Rigel, bahwa ada seseorang yang akan membantu kita. Sebelum itu, saya sudah memutuskan keputusan rapat kemarin, kita akan menggeledah lagi Daerah Fronca. Itu saja dari saya." ucap pria tua yang memimpin pertemuan ini, rambut putih yang senada dengan setelan pakaiannya yang rapi.

Rigel berdiri. "Terima kasih pak. Saya datang bersama dengan dua orang yang akan membantu kami dalam misi pencarian ini. Nebula dan Frank, rumor bahwa penjelajah masih ada, benar adanya. Nebula adalah seorang penjelajah yang selama ini kami cari pak."

Mirisnya, setelah belasan tahun akhirnya kaum penjelajah diakui berguna oleh mereka. Aku penasaran, apakah mereka merasa menyesal telah menghabiskan kaum penjelajah, aku berharap.

Pria tua itu tampak terkejut.
"Maaf memotong kapten. Anda yakin bahwa dia benar-benar penjelajah?" tanyanya dengan ekspresi khawatir setengah takut? Entahlah aku tidak bisa menjelaskannya.

"Kenapa? Anda terkejut karena melewatkan satu dalam pemusnahan kaum penjelajah?" tanyaku menahan amarah.

"Nebula, tolong jangan memulai pertikaian!" Zain sambil berbisik di sampingku, dia hanya tidak tahu bagaimana perasaanku saat bertemu langsung dengan petinggi ini, yang telah membuat kaumku musnah.

"Aku hanya bertanya." Ketusku

"Nebula pernah memberikan saya usul yang menarik. Saya membawanya agar dia kembali menjelaskan maksud dari usulnya itu." Rigel mengisyaratkan ku untuk berdiri.

Jadi dia memaksaku untuk datang hanya untuk menjelaskan usulku waktu itu? Kenapa tidak dia saja yang menjelaskannya. Merepotkan.

Aku berdiri dengan malas. "Sepertinya saya tidak perlu memperkenalkan diri lagi. Karena pasti tuan-tuan sudah tahu siapa saya. Senang bisa bertemu langsung dengan petinggi luminari, suatu kehormatan bagi saya, atau tidak, terserah. Dua orang ini menculik saya dan meminta saya untuk memberitahu tempat-tempat tersembunyi di galaksi ini."

Aku maju ke depan, agar bisa melihat dengan jelas orang-orang ini. Satu orang terus meletakan tangannya di atas meja, posisinya tidak pernah berubah dari awal aku datang, bajunya tampak over size, pasti karena tangan aslinya sedang memegang senjata di balik baju. Itu penjagaan yang bagus, aku pun tidak ada niat untuk menyerang.

"Sebagai orang yang berpengalaman, namun malah disia-siakan. Ada beberapa tempat tersembunyi yang hanya segilintir orang yang tau, namun sayangnya tempat seperti itu adalah sarang monster dan hewan buas lainnya."

"Pak, ada berapa masyarakat di pusat kota Tarazed? Pasti sangat banyak, bukan. Jika aku tahanan yang kabur, maka aku akan menyamar jadi masyarakat di pusat kota dan berbaur bersama mereka, dengan begitu aku jadi tidak terlalu mencolok."

"Tapi, bagaimana mencari tahanan di tengah keramaian masyarakat, agar tidak membuat mereka panik?" tanya seseorang yang sedari tadi terus menulis.

"Pikirkan saja dengan cara pikir kalian." Aku tau aku memang pintar dan berpengalaman, tapi pasti mereka masih punya otak yang bisa digunakan.

Berjam-jam duduk diam dan mendengar mereka saling memberikan pendapat masing-masing, tentang bagaimana cara penangkapan yang tidak membuat kepanikan di masyarakat. Sedangkan itu di sampingku Frank tertidur pulas, sambil sesekali mendengkur keras membuat semua kaget.

Pandanganku tak pernah putus dengan pria tua yang tadi memimpin rapat, aku sangat yakin dia yang dulu pernah bertengkar dengan mendiang ayah di rumah. Sayangnya waktu itu aku masih terlalu kecil untuk paham pembicaraan mereka.

"Zain, kau tau siapa yang memimpin rapat ini? namanya? posisinya?" tanyaku pada Zain, karena hanya dia yang bisa ku ajak bicara.

"Pak Harrington? Dia pemimpin luminari."

Pemimpin? Untuk apa dia datang ke rumah dan menemui ayah? Pasti ada alasannya dan ini bersangkutan dengan kaumku.

"Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat," tanya Zain yang sedari tadi menatap ke arahku.

"Ya, hanya sedang berpikir."

•°•°•°•

Rapat selesai setelah berjam-jam. Akhirnya aku bisa keluar dari ruangan berhawa suram ini. Para petinggi dibiarkan keluar lebih dulu, diikuti oleh pengawal dan penjaga yang menjaga di dalam selama rapat.

Hanya ini kesempatan aku bisa bertemu dengan Harrington, karena setelah ini aku yakin ia sangat sulit untuk ditemui, aku keluar dan mengejar para petinggi pemerintah yang hendak menaiki lift.

"Permisi, maaf. Bisa bicara sebentar dengan pak Harrington?" sesuai dugaan, semua senjata langsung mengarah padaku, bahkan senjata yang disembunyikan di dalam baju juga ikut membidikku.

Harrington memberi isyarat, senjata diturunkan. "Ada yang bisa ku bantu?"

"Aku ingin bicara empat mata!"

Di sinilah kami sekarang, Harrington memberikanku waktu untuk bicara sampai lift yang sedang kami naikki berhenti di lantai bawah. Sebelum sampai bawah aku harus mengorek semua yang mengganggu di kepalaku.

"Langsung saja pada intinya. Kota di Planet Pioneer, anda ingat? Kota yang di hancurkan luminari. Saya melihat anda berada di sana sedang bicara dengan ayah saya. Kenapa anda bisa di sana?" tanyaku langsung, waktuku tidak banyak.

"Nebula Harrolt, anak dari Arthur Harrolt. Senang bisa bertemu denganmu lagi, aku ingat dulu kau masih sangat kecil." Dia bahkan tahu nama keluargaku.

"Ayahmu dan aku adalah sahabat, dulunya. Dia sudahku anggap seperti adikku sendiri, dan aku mengkhianatinya."

Sedikit masuk akal, Harrington mengkhianati ayahku dan mereka bertengkar di rumah.

"Aku memberitahu ayahmu bahwa kota itu akan di hancurkan oleh luminari, ayahmu tentu tidak setuju dan marah besar padaku, aku tidak bisa melawan keputusan pemimpin, karena saat itu aku belum berada di posisi ini." Pantas ayah marah kepada Harrington, satu-satunya kota di Planet Pioneer akan di hancurkan.

"Lalu bagaimana dengan keluargaku?! Kenapa luminari tidak bijak dalam masalah sepele seperti ini. Aku kecewa dengan kau Harrington. Pergi dari rumahku, dan jangan pernah injak rumah ini dengan kaki kotormu itu!!"

Ya, aku ingat ucapan ayah saat itu. Dia terlihat benar-benar kecewa dengan Harrington, saat itu juga ayah memintaku untuk pergi menjelajah sendiri ke tempat jauh. Harrington tidak sepenuhnya salah, dia hanya bawahan yang tidak punya kuasa untuk menolak keputusan pemimpin.

"Ada banyak hal yang belum kau ketahui tentang kejadian itu, Nebula. Tentang kaummu," ucap Harrington penuh misterius.

"Apa maksud anda?"

Ting

Sayang sekali waktuku sudah habis. Pintu lift terbuka, padahal masih banyak yang ingin ku tanyakan padanya.

Harrington hendak keluar namun berhenti sejenak sambil menatapku. "Jangan salahkan Rigel atau Zain, mereka hanya mengikuti perintahku. Aku senang kau masih hidup Nebula, sayangnya kita sudah tidak dekat seperti dulu." Setelah itu pintu lift tertutup.

Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semuanya semakin rumit untuk mengetahui kebenarannya.

GALAXY : The Last Explorer [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang