Explorer [41]

43 7 0
                                        

Lima hari setelah peperangan, banyak hal yang berubah. Banyak keluarga yang kehilangan prajurit mereka, Suhail kehilangan banyak murid-muridnya, dia sendiri terluka, garis panjang melintang di wajahnya dari tulang pipi kiri menyebrang hingga ke tulang pipi kanan melewati pangkal hidungnya. Bukannya terlihat cacat, Suhail malah bertambah tampan dan terlihat gagah.

Teman-temanku sepenuhnya baik-baik saja. Mereka yang terluka mendapat penanganan medis dari Planet Bumi, alat canggih mereka menutup luka dalam beberapa menit. Hanya perlu menyorot luka dengan laser, kemudian luka tertutup. Barang seperti itu hanya di temukan di Pusat Kota, dan sayangnya tidak dijual.

Pasukan Killian yang masih tersisa dibawa oleh militer Planet Bumi. Dan Zain, dia dibawa ke tempat tahanan di Planet Cloin, berada di Galaksi Centauri.

Aku tahu Planet Cloin terkenal dengan sebutan pembuangan. Karena panjahat kelas atas tertahan di sana dan di asingkan. Hutan yang rimbun dan cuaca ekstrim sangat cocok untuk dijadikan tempat seperti itu.

Zain terlihat pasrah, dia berteriak saat militer menahan tangannya, "lebih baik kau bunuh saja aku!" Kata-katanya masih terngiang di kepalaku, juga matanya yang tidak dapat aku artikan.

Kami sibuk mempersiapkan kepindahan kami kembali ke Planet Pioneer. Harrington mengabariku lewat anak buahnya yang datang untuk membantu menangkap pasukan Killian, dia mengatakan bahwa radar radiasi di planet itu semakin berkurang, sudah aman untuk ditinggali. Semua bersemangat untuk kembali ke rumah mereka, meskipun kami harus mulai kembali dari awal.

"Aku akan menjelajahi dasar laut di planet Gruss, dan berkenalan dengan makhluk di sana. Bukankah itu terdengar menyenangkan?"

Gundukan tanah itu tetap tidak akan menjawabku, Ayah tidak akan kembali.

Sehari setelah perang kemarin, Ayah meninggalkan kami. Ternyata hari itu adalah terakhir kalinya aku mendengar suaranya. Ibu bilang, saat perang sedang berlangsung, keajaiban datang, ayah membuka matanya. Beruntung ibu ada di sampingnya, ibu menceritakan semua kondisi kami dan menceritakan aku yang telah kembali.

Ayah tahu kondisinya tidak memungkinkan. Ibu meminjamkan alat komunikasinya pada Ayah, agar dia bisa berbicara dengan ku.

"Andai aku tahu kau pergi secepat ini." Belum sempat aku melihat ayah membuka matanya, aku belum mengatakan bahwa aku sangat merindukannya, dan aku telah memaafkannya atas semua kebohongannya.

Kesempatan itu tidak bisa datang dua kali.

Kami mengistirahatkan ayah di halaman rumah kami. Wasiat dari ayah, dia ingin tetap berada di tempat ini. Menjaganya walau tahu kami pasti akan pergi dari sini.

Tapi dia tidak sendiri, kami mengistirahatkan pasukan yang gugur di halaman rumah mereka masing-masing. Menanamkan batu dan menuliskan nama mereka dengan hormat, pengabdian mereka tidak dapat terbalaskan oleh apapun, bahkan dengan ribuan emas sekalipun. Kini tugas ayah untuk menemani mereka di sini.

Ibu masih sangat terpukul, tapi dia tetap terlihat tegar dan kuat di hadapanku. Aku sering mendapati dia sedang menangis di depan makam ayah, aku hanya berharap ibu bisa meluapkan semua kesedihannya bersamaku.

"Baiklah, aku pamit. Namun aku akan sering datang, membagi petualangan ku denganmu, jadi kau tidak akan kebosanan di sini."

Ibu berdiri tak jauh di depan pagar halaman rumah kami, sejak tadi menungguku. Kami sudah siap untuk berangkat. Tidak, bukan kami, tapi mereka. Aku tidak turut ikut, aku memiliki satu perjalanan lagi yang belum terwujud.

Tiga Armada sudah berangkat mengangkut sebagian dari kami, lalu datang dua Armada lagi. Butiran salju berterbangan bersamaan dengan pintu besar terbuka ke bawah. Jubah putih kami berterbangan, menatap dua orang yang keluar dari dalam Armada.

GALAXY : The Last Explorer [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang