Spirit, makhluk pemakan jiwa muncul di dunia manusia membuat banyak sekali keributan. Spirit membuat kehidupan manusia menjadi tidak tenang, sampai belakangan ini muncul makhluk superior misterius yang menyebut dirinya sebagai Cope.
Kegelapan telah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Penerangan mulai semakin membaik ketika mereka menemukan sumber cahaya tepat di tengah hutan. Cahaya itu berasal dari rumah-rumah yang berdiri kokoh di dalam lautan pohon di hutan ini. Mereka berdua bersyukur dapat berjalan dengan benar tanpa harus menabrak ranting-ranting yang tumbuh. Walaupun penerangan dari bulan sedikit membantu mereka, tetapi itu tidak terlalu cukup.
Diselimuti rasa penasaran yang membuncah, mereka berdua berhenti sejenak untuk memastikan keadaan di depan. Sejauh yang mereka ketahui, rumah-rumah itu tidak terlalu besar, tetapi memiliki struktur kayu yang terlihat kokoh.
Saat Felix memperhatikan deretan rumah lebih lanjut, ia melihat bangunan lain yang tampak lebih mencolok di kedua matanya. Tepat di tengah rumah-rumah terdapat sebuah bangunan semacam kuil kuno berukuran megah yang terdiri dari beberapa pilar hitam besar yang terpasak kuat di tanah.
"Ketemu!" seru Felix tiba-tiba yang membuat Aldercy terlonjak kaget. Felix menuding-nuding kuil itu dengan gejolak perasaan kagum dan bahagianya, seperti biasa. "Akhirnya kita menemukannya! Aku harus pamer pada Daffin nanti. Dia bilang padaku kalau selama satu minggu penuh dia mencari dan tidak menemukan hasil apa-apa. Sepertinya matanya sudah rabun."
Aldercy hanya memutar kedua bola matanya melihat tingkah kekanakan Felix yang seperti mendapat beberapa butir permen manis.
Felix juga sepertinya haus akan pujian. Maka, Aldercy lantas memujinya sepenuh hati, "Iya, Felix. Kau lebih hebat dari Daffin."
"Benar. Aku tahu," sombongnya seraya menyilangkan tangan di depan dada. "Omong-omong soal bangunan itu, kau tidak tahu, 'kan?"
Aldercy menoleh ke arah Felix, seperti meminta penjelasan darinya. Setelahnya ia juga mengedarkan pandangannya ke arah bangunan dan jejeran rumah kayu mencurigakan itu.
"Aku tidak tahu."
"Kuil! Sepertinya bekas kuil," komentar Felix penuh dengan antusias. "Mungkin, itu adalah bangunan yang dimaksud orang-orang. Kau juga tidak tahu ada kuil di sini?"
"Tentu saja. Untuk apa aku repot-repot berkeliling hutan untuk mencari rumah kayu dan kuil?"
Felix mengangkat sudut bibirnya. "Itu adalah poinnya. Aku tidak mau menyinggung atau apa, maaf jika aku terlalu lancang terhadap kaum kalian. Tetapi, kau tahu sendiri kalau di daerah ini sudah banyak kasus orang-orang yang menghilang tanpa jejak. Ditambah lagi dengan banyaknya Spirit tingkat atas yang menyerang dalam jumlah yang cukup besar dari biasanya, bukan? Apa itu tidak aneh?"
"Ya ..., menurutku memang aneh," cicit Aldercy.
"Sangat aneh. Apa manusia tidak mau mencari mereka yang hilang? Kenapa manusia bisa tenang-tenang saja padahal banyak orang-orang yang hilang. Entah itu dibunuh atau ditelan Spirit. Aku hanya bingung, sebenarnya manusia itu memiliki rasa peduli atau tidak?"
Aldercy memang tidak terima dengan pernyataan buruk Cope tentang manusia. Akan tetapi, jika Felix yang mengatakannya terkesan memiliki arti yang berbeda. Felix hanya terlihat khawatir dan prihatin terhadap manusia. Felix tidak memiliki nada bicara menusuk seperti Daffin yang terang-terangan membenci manusia. Aldercy menyadari kalau yang Felix sampaikan hanyalah rasa pedulinya terhadap kaum yang ia lindungi.