11. Impian dan Keinginan

92 27 150
                                        

Tanpa sopan santun, seorang lelaki melempar jubah panjang berwarna putih dan sebuah topeng bermotif dengan tanduk di sebelah sisinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tanpa sopan santun, seorang lelaki melempar jubah panjang berwarna putih dan sebuah topeng bermotif dengan tanduk di sebelah sisinya. Barang yang dilemparnya sekarang ada di dalam dekapan seorang gadis yang sedang merinding. Lelaki itu mencetak seringai, wajahnya tampak seperti akan menantang lawannya untuk bercengkerama dengan otot. Setiap senyumannya seakan meraup habis semua kelicikan.

Kemudian lelaki itu menarik si gadis hingga ia kehilangan keseimbangan dan berakhir bersimpuh di tanah lembab. Noda tanah becek tersalin sempurna ke wajah gadis di beberapa tempat. Menjadikan kulit putih pucatnya tertutupi oleh tanah basah. Dengan seragam lengan panjang, gadis itu mencoba mengelap nodanya.

"Ikutlah," ajaknya. Lelaki itu semakin angkuh. Ia mulai mempertontonkan kedua matanya yang kian menghitam legam. Seringainya makin lebar seakan sudut bibirnya telah robek. "Hanya ada dua pilihan: ikut, atau kau akan mati malam ini."

Gadis yang masih fokus dengan noda di wajahnya itu semakin gemetaran. Gigi geraham saling beradu karena ketakutan melahapnya. Walau berusaha tidak menjadikan lelaki itu sebagai pusat perhatian, ia tetap saja ciut di tempat.

Langkah lelaki itu semakin menempel pada jarak dekat, menjadikannya sebagai tikus yang terjebak di perangkap. Gadis itu menenggelamkan wajah dan menunduk semakin dalam seraya memperhatikan bercak tanah di lengan seragamnya.

Lelaki itu semakin menerobos nyali gadis yang sedang mati-matian membesarkan sisa keberaniannya. Merasa tidak dianggap, lelaki itu mulai menargetkan leher lawannya. Ia mulai menyapu leher gadis itu dengan tangan kanan, lalu sedetik kemudian dicekiknya keras-keras.

"Kau memilih untuk mati?" tantang lelaki itu. Ia tetap mengencangkan tangannya di sana. "Kenapa?"

Dengan terbata si gadis menjawab, "Untuk apa aku ikut denganmu, Kak Eric?"

"Untuk apa, katamu?" Eric menekankan setiap ucapannya, "Lihat sorot matamu di cermin. Kau menginginkan sesuatu. Kau ingin bebas dari ayah. Lebih baik kau ikut denganku daripada menangisi mayat orang bengis itu."

"Aku tidak mau melakukan apa-apa!" seru gadis itu. Ia memukuli wajah, dada, serta kepala Eric lumayan keras untuk melepaskan diri dari jeratannya.

Eric merasa terpacu karena melihat korbannya yang memberontak. Lantas ia semakin senang dan malah melepaskan cekikannya. Ia juga menarik salah satu lengan seragam gadis itu sampai beberapa luka garis memanjang setengah kering terpampang jelas di sana. Eric pun menekan keras goresan-goresan yang tercetak bagai dicoret dengan spidol merah berulang kali.

"Helen, kau masih terlalu muda untuk melakukan ini."

Helen langsung menarik tangannya kembali. Ia tidak mau rahasianya dicela, dan juga karena luka-luka itu masih terasa sakit ketika disentuh dengan sengaja. "Bukan urusanmu. Kita sudah bukan keluarga lagi semenjak kau memasuki perkumpulan tidak jelas itu!"

Miracle Cope Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang