Spirit, makhluk pemakan jiwa muncul di dunia manusia membuat banyak sekali keributan. Spirit membuat kehidupan manusia menjadi tidak tenang, sampai belakangan ini muncul makhluk superior misterius yang menyebut dirinya sebagai Cope.
Kegelapan telah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aldercy meneguk air liurnya dengan susah payah. Segala rasa yang tercampur rata di hatinya berusaha ia tepis dalam-dalam. Bimbang antara menyetujui ajakan Felix, atau bersikeras untuk pulang ke rumah dengan tenang. Sedangkan Felix masih memamerkan cengirannya seraya setia menunggu jawaban dari Aldercy.
"Kau serius mau mengajakku?" tanya Aldercy.
Felix mengangguk sembari mengeluarkan sepotong roti bekas semalam dari saku celana dan langsung melahapnya. Ia menjeda sebentar untuk fokus dengan makanan sebelum menjawab Aldercy.
"Iya," sahut Felix. "Kau tidak lupa tentang apa yang kita bicarakan tadi sore, 'kan?"
"Aku ingat." Helaan napas lolos dari mulut Aldercy. Ia protes dengan segala letupan gundahnya, "Tapi, bukan berarti langsung melibatkan aku dengan misi berbahaya kalian! Aku tidak punya kekuatan apa-apa!"
"Memang belum," jawab Felix. Ia kembali menggigit roti yang kelihatannya sangat menggoda perut Aldercy. Di sela kunyahan, Felix mengalihkan pandangan Aldercy dari roti ke dirinya lagi sambil menjelaskan, "Kau cukup menemaniku saja. Tidak akan lama, kok. Aku hanya ingin menyelidiki tentang suatu hal yang Daffin bicarakan padaku sekitar tiga hari yang lalu."
"Menyelidiki apa?" tuntut Aldercy yang telah hilang fokus dari pangan milik Felix yang sebentar lagi habis.
"Kata Daffin, dia pernah mendengar desas-desus dari manusia yang melihat bangunan aneh berisi Spirit di salah satu hutan kota ini. Selain itu, banyak manusia yang berkeliaran di sana. Sangat berbahaya jika membiarkan Spirit itu tetap hidup di dekat para manusia." Ekspresi Felix berubah menjadi serius, alisnya bertaut rapat, dan suara lelaki itu melunak. Ia bertanya, "Kau ingat saat Daffin tidak sengaja muncul di tengah-tengah pertandingan kemarin malam?"
"Aku ingat. Sangat kebetulan untuk bertemu dengan Daffin di sana."
Ketika mendapat konfirmasi dari Aldercy, Felix kembali meneruskan, "Saat itu, Daffin menyelidiki hutan di daerah utara, tapi dia tidak menemukan apa-apa. Lalu, hutan dekat markas kami di daerah pusat juga tidak ditemukan satu pun bangunan yang dimaksud orang-orang. Jadi, hanya satu-satunya hutan yang belum kami selidiki."
"Maksudmu ... hutan di daerah selatan? Di daerahku?" ucap Aldercy tak percaya. Ia sampai menutup mulut dengan tangannya refleks. "Seberapa bahaya Spirit yang ada di sana?"
"Aku tidak tahu, Aldercy. Seharusnya, kalau Daffin tidak pergi hari ini, kami akan pergi bersama-sama. Tapi, Daffin sedang tidak ada di Bumi sekarang."
Aldercy menatap Felix lamat-lamat. "Jadi, karena itu kau mengajakku? Sebagai pengganti Daffin? Sedang ke mana dia sekarang?"
"Ke Miracle, tepatnya di Halsien. Sebenarnya, Daffin mengajakku juga, tapi aku menolak."
"Kau bilang Daffin tidak mengajakmu," tukas Aldercy. Kedua bola matanya memutar jengah karena Felix hanya bergurau tadi pagi. "Kenapa kau tidak ikut dengan Daffin? Kau tidak mau pergi ke ... Halsien?"