13. Pertahanan Yang Runtuh

41 16 84
                                        

Terperangkap dalam kabut tidak membuat Spirit berduri itu gentar barang sedikit pun

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Terperangkap dalam kabut tidak membuat Spirit berduri itu gentar barang sedikit pun. Ia tetap mengamuk dan membalikkan keadaan Felix yang senantiasa masih mengurungnya erat. Felix dibanting ke luar jangkauan kabut hingga badannya beradu keras dengan tanah. Felix lantas menyeret badannya ke samping, lalu segera bangkit dengan melompat ketika duri-duri itu kembali mengejarnya. Ia melempar semua duri itu dengan sabetan angin kuatnya. Satu duri yang bebas dari zona Felix melayang cepat ke arah Aldercy yang ada di belakangnya.

Felix langsung beralih mundur dan menangkap duri yang hampir melubangi wajah Aldercy dengan tangan. Dilemparnya duri itu ke sembarang arah hingga berakhir menancap di salah satu dahan. Baik itu Felix dan Aldercy, keduanya sama-sama menahan napas. Serangan mendadak itu membuat Aldercy hampir kehilangan detak jantungnya untuk sementara waktu.

Kalau saja Felix tidak cepat tanggap menghalau serbuan duri tadi, mungkin Aldercy akan menikmati sensasi tancapan benda runcing itu. Bonus dengan lubang cantik di wajahnya. Hanya dengan membayangkannya saja sudah berhasil membuat Aldercy menggigil ketakutan.

"Sudah kubilang jangan mengikutiku ke hutan!" seru Felix kepada Aldercy. Ia kembali berlari ke dalam zonanya dan mulai teriak dari sana begitu keberadaannya mulai ditelan kabut, "Bahaya, tahu!"

"Habisnya aku khawatir! Lagi pula siapa yang pertama menyeretku ke misi Cope?!" balas Aldercy.

Setelah menyahut teriakan Felix, ia merasakan ada yang mengawasi lagi dari balik pohon sejauh lima meter dari tempatnya bersandar. Insting kuat Aldercy tidak main-main adanya. Aldercy kini telah berdiri sepenuhnya dan mulai berjalan sambil menelisik di setiap pohon. Ia juga memindai semua pohon yang dilewati dengan hati-hati.

Aldercy menjerit ketika mendengar bunyi ranting patah karena terinjak oleh seseorang yang sedang menontonnya dari balik pohon.

"Siapa itu?!" Aldercy langsung mendekati sumber suara untuk memastikan siapa pelaku yang menguntitnya hingga jauh ke dalam hutan.

Ketika Aldercy telah sampai pada tempat si pengintip itu, sebuah pisau menodong tepat di depan matanya yang terbelalak. Aldercy diam dan tak bergerak sama sekali, tapi ia tidak sepenuhnya terpasak di tempat dengan pasrah. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyiapkan kuda-kuda. Tangannya yang terbuka Aldercy gunakan untuk menghantam wajah bertopeng orang itu sekuat tenaga.

Saat orang itu lengah, Aldercy langsung mencengkeram pergelangan tangan musuhnya erat-erat. Aldercy mulai mengendalikan dan menjauhkan arah target pisau itu dari depan matanya. Tak menyiakan kesempatan, Aldercy langsung meninju leher orang itu dengan cukup kuat.

Orang itu menderita batuk-batuk sesaat karena tenggorokannya terserang telak. Kesempatan ini Aldercy pakai untuk menguatkan genggamannya pada tangan berpisau orang itu. Lalu Aldercy memutar dan membanting tubuh lawan ke tanah hingga wajah bertopengnya mencium tanah hutan. Aldercy langsung mengunci setiap pergerakan dengan meletakkan tangan lawan yang masih memegang pisau di belakang punggungnya.

Miracle Cope Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang