Ryu menatap putrinya yang tersenyum cerah, ia ingat selalu menjauh dari putrinya saat berada di pulau. Mereka tidak terlalu dekat satu sama lain, karena Ryu dalam keadaan yang tidak dapat berpikir dengan jernih.
"Apa kau memaafkan ku, Minerva?" tanya Ryu.
Minerva tidak tahu harus menjawab apa, ia tahu jika pria itu sendiri yang membunuh ibunya. ketiga kakaknya mengatakan hal yang sama, karena kematian sang ibu, ia harus menderita hidup seperti saat ini.
"Apa Mama memaafkan Papa?"
Ryu menatap lekat wajah putrinya, ia merasa bersalah karena sudah menelantarkan putrinya hingga saat ini. Mendengar pertanyaan Minerva, ia ingin Eve tidak memaafkannya. Akan tetapi, saat ia bermimpi bertemu dengan Eve, wanita yang ia cintai justru tersenyum dan tetap mencintainya.
"Aku bertemu Eve di saat kondisiku kritis," jawab Ryu sembari mengamati reaksi wajah Minerva.
"Apa yang Mama katakan?" tanya Minerva dengan suara rendah.
Gadis itu tahu jika Ibunya tidak akan membicarakan apa pun tentangnya, bahkan ibunya mungkin tidak mengetahui kehadirannya di dunia ini.
"Eve mengatakan jika aku harus melanjutkan hidup, melindungi dan menjaga kalian. Aku tahu mungkin ini akan sangat terlambat, aku tidak bisa menyangkal jika kalian membenciku. Akan tetapi, aku ingin mewujudkan keinginan Eve yang terakhir kalinya."
Minerva tersenyum, ia juga ingin melihat keluarganya bahagia. Gadis itu tidak ingin melihat ayahnya kembali terpuruk dan membuat suasana memburuk.
"Baiklah, Papa. Aku mendukung semua keputusanmu," jawab Minerva dan Ryu memeluk gadis itu.
"Mungkin kau tidak akan memaafkan diriku begitu saja, tetapi aku akan membuatmu bahagia, Minerva." Janji pria itu.
Suara ketukan pintu terdengar, seseorang masuk dan menyapa ayah dan anak itu.
"Halo Minerva, bolehkah aku meminjam ayahmu?" ujar seseorang yang menyerupai Ryu.
"Baiklah, Paman Ichiru," jawab Minerva dengan senyum.
Ryu menatap Ichiru, jarang sekali pria itu dekat dengan orang lain, ia juga baru mengetahui jika Minerva sudah dekat Ichiru. Pasti Kakaknya itu mengkhawatirkan kondisi keponakannya.
"Aku akan menemuimu lagi, Minerva."
Ryu bangkit berdiri dan mendekat ke arah Ichiru, pria itu membisikkan sesuatu yang membuat Ryu bergegas keluar ruangan. Menyusuri lorong yang panjang, Ryu mengetahui jika Arth sudah sampai di Paris dan tengah menuju ke mansion Minerva.
"Apa semua akan baik-baik saja?" tanya Ichiru yang begitu malas dengan pertengkaran ayah dan anak yang akan terjadi.
Ryu hanya menjawab dengan gumaman saat ini kondisi Roulette tengah tidak baik, ia bahkan tidak bisa bertemu Felica seperti biasa. Kali ini entah apa yang dilakukan sepupunya itu, setidaknya ia harus fokus kepada putra dan putrinya.
Ryu baru menyadari jika saat ini musim bersalju, tetapi ia tidak merasakan dingin sama sekali. Seharusnya tadi ia memperhatikan kondisi tubuh Minerva, gadis itu belum pernah merasakan tempat dengan suhu dua derajat celcius.
"Aku benar-benar gagal menjadi seorang ayah," gumam Ryu.
Pria itu menghentikan langkahnya dan berniat kembali ke kamar Minerva, tetapi Ichiru mencegah Ryu untuk kembali. Ryu menatap kakaknya tanpa bertanya.
"Aku tidak ingin Minerva melihat pertengkaran dirimu dengan Arth, tolong mengerti kondisi keponakan manisku sekarang juga."
Ryu menghela napas, ia mengerti apa yang dikatakan Ichiru. Walaupun Minerva sering melihatnya bertengkar dengan Arth di pulau, kali ini mungkin Ryu akan membalas pukulan Arth dan membuat Minerva menangis.
Mereka berdua kembali melangkah dan akhirnya sampai di pintu masuk utama mansion Minerva. Ryu dapat melihat Arth yang baru saja turun dari mobil dengan tatapan tajam. Ekspresi yang sering ia perlihatkan kepada Ryu, tetapi tidak kepada semua orang.
"Bukankah aku tidak pernah mengizinkanmu pergi dari pulau?" desis Arth.
"Aku datang untuk menjalani permintaan terakhir Eve," jawab Ryu tanpa berekspresi.
Wajah dingin Ryu mengingatkannya saat pria itu membiarkan ibunya yang terjatuh dari tangga mansion. Perasaan ingin membunuh Ryu kembali meluap ke permukaan, tetapi ia tidak bisa berbuat banyak saat ini. Otoritas kekuatan D'acretia tiba-tiba saja kembali berpindah ke tangan Ryu, semua itu membuat Arth tidak bisa melakukan sesuka hatinya.
"Ibu tidak pernah meminta apa pun terhadap seseorang yang membunuhnya, itu hanyalah khayalanmu agar kau tidak kembali merasa bersalah, bukan?"
"Kau tahu aku lebih memilih mati dan kembali bersama Eve daripada hidup tanpanya."
Arth tidak percaya dengan kata-kata Ryu, pria itu tidak akan pernah Arth maafkan. Arth mengabaikan perkataan Ryu, ia akan menemui Minerva untuk pindah ke mansion milik keluarga D'Acretia. Situasi Roulette sedang tidak baik, ia tidak ingin mengganggu Felica dan memilih membawa keluarganya untuk sementara menjauh.
Ryu yang ditinggalkan Arth begitu saja, ia hanya diam mematung menatapi langit yang terus menurunkan salju. Ichiru sudah mendengar permintaan Arth untuk membawa Lamia pergi ke mansion D'Acretia.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Ichiru menatap adiknya malas.
Ichiru masih mengingat betapa benci dirinya kepada Ryu karena membunuh Eve. Setidaknya Eve tidak akan mati jika bersamanya, mengapa adik bodohnya itu justru membunuh wanita yang dicintai. Ichiru sama sekali tidak mengerti, apa yang Ryu rasa dan pikirkan.
"Kau akan melihatnya nanti," jawab Ryu seraya pergi meninggalkan ichiru.
Ichiru ingin sekali memukul kepala Ryu, tetapi ia menahannya untuk saat-saat terakhir. Ryu sempat beradu agrumen tentang Minerva dengan Felica, saat ini sedang tidak aman dan Felica ingin menjaga Minerva di markas Roulette. Akan tetapi, Ryu lebih keras kepala dari sebelumnya, pria itu tetap ingin membawa Minerva sementara menjauh dari Felica, firasatnya tidak baik tentang sepupunya itu.
Kini Ryu berada di hadapan Rainart dan Klause, pria itu menatap datar kedua putranya. Rainart merasa kesal dengan ayahnya yang datang pada waktu yang tidak tepat, bagaimana pun ia juga membenci Ryu seperti Arth.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Ryu.
Suaranya memang begitu tenang, tetapi tidak dengan arti dari kalimat pertanyaan itu. Klause melipat kedua tangannya di depan dada, ia menjawab dengan sekadarnya.
"Tidak ada, tidak ada sesuatu yang penting kita sembunyikan."
Ryu menatap Rainart yang memalingkan wajahnya, ia yakin terjadi sesuatu pada putra ketiganya. Ia ingin bertanya, tetapi suara seseorang memanggilnya. Ryu menoleh dan mendapati seorang mafioso mendekat dan membisikkan sesuatu.
Ryu segera pergi meninggalkan kedua putranya yang melihatnya dengan sinis. Rainart memilih pergi menemui Minerva, ia merasakan tengah diawasi oleh anak buah Salvador sejak ia mendapatkan dokumen yang diberikan oleh Felica. Klause yang mengetahui ada yang tidak beres dengan Rainart segera menarik lengan pemuda itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Klause pada Rainart.
Rainart menghembuskan napasnya, lagi pula semua orang akan mengetahui hal ini kelak.
"Aku akan memberitahu nanti, saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Ayah masih berada di mansion dan seharusnya ia dapat mendengar apa yang kita bicarakan. Aku akan pergi menemui Minerva," jawab Rainart dan Klause melepaskan cengkraman tangannya.
Setidaknya Rainart akan berbicara padanya, tidak boleh ada rahasia diantara mereka berdua, itulah prinsip yang mereka pegang sejak kecil sampai saat ini.
"Semua terlihat menyebalkan dari apa yang aku lihat," gumam Klause seraya mengikuti Rainart.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
D'Acretia
RomanceBook 1 Dark Romance : Brothers Conflict Book 2 Dark Romance : About Us Book 3 Dark Romance : D'Acretia Menceritakan tentang putra pertama Eve dan Ryu, Arth Belamy D'Acretia. Arth ditakdirkan untuk menjadi penerus Sousaki D'Acretia yang menjadi bang...
