Chapter 8

565 105 6
                                        

Lamia menatap takjub bangunan-bangunan yang ia lewati, saat ini ia dan Arth sudah berada di dalam Limousin untuk memasuki kediaman keluarga Arth. Saat mereka sampai di bandara, Arth dan Lamia di jemput beberapa orang berjas hitam dan membawa mereka memasuki mobil yang mereka naiki saat ini. 

"Berapa luas kediaman keluargamu?" tanya Lamia yang masih menatap tidak percaya bangunan klasik itu menjadi tempat kediaman keluarga bangsawan.

"Hanya delapan koma dua kilometer persegi, tidak seluas yang kau bayangkan," jawab Arth sambil tersenyum menatap Lamia.

"Tetap saja tempat ini luas," gumam Lamia yang masih fokus menata luar jendela.

"Lebih baik kau tetap berada di sisiku, kau bisa tersesat dan sulit menemukan jalan kembali."

Lamia mengangguk, ia mengerti mengapa Arth memberitahunya. Karena mungkin hanya Arth yang mengetahui jalan kembali karena kediaman keluarganya begitu luas.

"Dan satu lagi, mereka bukan bangsawan. Jadi, kau tidak perlu tegang,"

"Bukan bangsawan? Lalu, siapa mereka?"

Arth tersenyum sambil menatap luar jendela, "Kau tidak akan mau mendengarnya, lagipula nanti kau juga akan mengetahuinya." Jawab Arth dan Lamia hanya mengerutkan dahinya.

Mereka kembali terdiam hingga sampai di Mansion utama, di mana banyak orang berkumpul. Sejenak Lamia ragu untuk turun saat melihat beberapa wanita dan juga pria yang menyambut mereka. Arth keluar  mobil sambil menggandeng lamia yang akhiurnya harus ikut turun.

"Mama, aku sudah bilang untuk tidak menyambutku," Arth melepas tangan Lamia lalu mendekat ke seorang wanita yang terlihat lebih muda dari Lamia.

"Kau jarang datang ke Mansion Utama dan kedua adikmu sepertinya melupakanku," jawab Felica dengan wajah yang terlihat murung.

"Kami datang, Mama. Kami datang, jangan bersedih seperti itu. Oh, aku mohon padamu Mama, tersenyumlah pada kami." Lamia menoleh ke sumber suara dan mendapati dua pria yang kembar begitu identik dan hanya surainya saja yang berbeda warna.

"Berhenti membuat Mama khawatir atau aku akan menembak kepala kalian satu persatu." Ujar pria bersurai putih denga eyepatch yang menutupi mata kanannya, ia langsung saja memeluk pinggang ramping wanita bersurai merah.

Lamia mengerjapkan kedua matanya, ia tidak mengerti dengan adegan di hadapannya. Siapa mereka dan apa yang sebenarnya terjadi. Arth menoleh ke arah Lamia yang masih mematung dan menatap tidak mengerti. Ia melangkah mendekat lalu merangkul bahu Lamia sambil memperkenalkan wanita itu.

"Mama, dan kalian semua. Perkenalkan, Lamiarova Xeravia." 

Kini semua mata tertuju pada Lamia dengan tatapan berbeda-beda, wanita bersurai merah itu tersenyum lalu memeluk Lamia.

"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu," kata wanita itu sambil memeluk erat Lamia.

Arth tersenyum lalu memperkenalkan mereka semua,"Lamia, Mama adalah Felica Gremory Roulette. Dan keempat pria itu adalah para suami Mama, dan kelima pria yang berada di belakang mereka adalah para sepupuku, dan terakhir ... kedua  pria yang baru saja tiba, mereka adalah adikku." terang Arth.

Lamia masih mencoba mencerna perkataan Arth hingga sebuah suara membuyarkan lamunannya, "Jangan terlalu dipikirkan, anggap saja kami saudara kekasihmu." Lamia menoleh ke arah pria bersurai putih panjang dengan penutup matanya.

"Dari mana pria itu tahu?" bisik Lamia pada Arth.

"Aku akan menjelaskannya nanti, sebaiknya kita masuk. Pesta kita akan di mulai malam ini," Lamia hanya mengangguk saat Arth menarik lengannya.

D'AcretiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang