Lamia menatap surat-surat di tangannya, surat yang dikirimkan oleh Ibunya yang entah berada di mana saat ini. Apakah masih hidup atau sudah meninggalkan dunia ini seperti Kakeknya. Bahkan ayahnya yang telah lama menghilang tidak kunjung kembali untuk sekedar menemuinya. Bertanya pada Rosaline pun percuma, Neneknya hanya menatap kosong luar jendela jika ia datang mengunjungi satu-satunya keluarga miliknya.
Hari ini adalah hari liburnya, beberapa hari sebelumnya ia terus bersama pria bernama Arth untuk mengerjakan beberapa proyek yang akan mereka bangun bersama. Bersama pria itu kembali mengingatkan senyuman Eve terakhir kali ia melihatnya. Smarthphone miliknya bergetar, Lamia melihat sebuah pesan masuk dari Arth.
Sudah makan siang?
-Arth-
Lamia terkejut dengan pesan Arth, biasanya pria itu hanya akan bertanya tentang pekerjaan padanya. Lamia segera menjawabnya, siang ini ia belum menyentuh makanan. Yang masuk kedalam perutnya hanyalah secangkir cokelat panas dimusim dingin seperti sekarang.
Aku ingin mengajakmu makan siang, apa kau keberatan?
-Arth-
Lamia merasa ragu melihat pesan masuk di ponselnya, tetapi ia tertap menjawab dan menyetujui dengan ajakan koleganya itu. Setiap melihat Arth jantungnya selalu berdetak lebih kencang daripada biasanya. Dan semua itu membuatnya sedikit gugup untuk meladeni pria itu bicara. Apa ia mulai menyukai seorang pria? Lamia menggelengkan kepalanya, Arth lebih muda darinya dan ia tahu jika Arth tidak tertarik wanita tua sepertinya.
Aku menunggumu di lobby sepuluh menit lagi.
-Arth-
Lamia langsung saja membulatkan kedua matanya, ia segera mencari pakaian yang cocok untuk ia kenakan pada musim dingin seperti ini. Membuka lemari, ia mendapati pakaian musim panas dan musim semi. Lamia memang tidak akan keluar pada saat musim dingin, ia kan mengurung diri hingga musim dingin itu berganti. Meski begitu, pekerjaannya selalu ia pantau dari balik kamar tidurnya.
Melihat ada jaket musim dingin yang bergantung, Lamia memutuskan untuk memakai dres dan jaket tebal itu untuk menghalangi udara dingin menusuk tulang-tulangnya. Tepat sepuluh menit, Lamia menyelesaikan dandanan yang tampak natural. Lamia bergegas menuju lobby dengan membawa tas kecil yang melingkar di tangannya.
Lamia melihat Arth yang duduk tenang di lobby, wanita itu menghampiri Arth yang memakai pakaian musim dingin dan membuat pria itu terlihat tampan.
"Apa kau menunggu lama?" Arth menggelengkan kepalanya dengan senyum menghiasi wajah tampan itu.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Arth menghampiri Lamia yang terlihat gugup menatap Arth.
"Ti-tidak, aku hanya sedang bergelum di dalam selimut. Menikmati waktu sebelum kembali bekerja menangani proyek bersamamu," jawab Lamia, Arth tersenyum.
"Aku tidak terlalu familiar dengan makanan di Kanada, bisakah kau menemaniku makan siang?" Lamia tersenyum lalu menyetujui dengan anggukan singkat.
"Apa yang kau suka?" tanya Lamia, mereka meninggalkan lobby dan memasuki mobil milik Arth yang terpakir tidak jauh dari lobby utama.
"Spagetti, steak wagyu, dan beberapa makan manis lainnya. Bagaimana denganmu?" jawab Arth sambil menatap wajah Lamia.
"Taco, paella, dan sausage, terkadang aku memesan ramen untuk melatih lidahku agar terbiasa memakan makanan berbumbu," jawab Lamia, Arth mengangguk dengan senyuman yang tidak hilang dari wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
D'Acretia
RomanceBook 1 Dark Romance : Brothers Conflict Book 2 Dark Romance : About Us Book 3 Dark Romance : D'Acretia Menceritakan tentang putra pertama Eve dan Ryu, Arth Belamy D'Acretia. Arth ditakdirkan untuk menjadi penerus Sousaki D'Acretia yang menjadi bang...
