Ryu memakai pakaiannya, ia sudah beberapa hari terbaring dengan tubuh lemah dan tidak berdaya. Nero memandang datar sepupunya yang sekarang terlihat lebih bersemangat daripada biasanya.
"Ada apa denganmu?" tanya Nero yang mulai curiga.
"Eve memintaku melakukan sesuatu," jawab Ryu yang sekarang sudah mulai banyak bicara.
"Apa yang ia pinta padamu?" Ryu tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan mulai merenggangkan otot tubuhnya.
Jaket panjang berwarna coklat melekat di tubuhnya, hari ini ia akan keluar dari pulau dan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sejak dulu. Dengan angkuh, Ryu berjalan keluar dari kamar dan seperti yang sudah diperintahkan kepada para bawahannya. Mereka akan menjemput Ryu pada waktunya, meski seluruh wewenang di ambil penuh oleh Arth.
"Tuan, apa yang akan Anda lakukan setelah sampai di sana? Kondisi Roulette sedang tidak baik," lapor pria tua yang sudah menemani Ryu selama ini.
"Menyapa Kakak dan sepupuku," jawab Ryu yang memasuki helikopter yang Nero bawa.
"Kau belum pulih sepenuhnya, jangan membuat Nona Felica mengkhawatirkanmu, Ryu. Ia sudah banyak masalah di sana, berhentilah membuat kegaduhan,"cecar Nero dan Ryu hanya menatap datar sepupunya.
Ryu sedikit mendekat ke arah Nero lalu membisikkan sesuatu,"Beruntung Eve tidak mengingatmu," bisik Ryu sambil sedikit mencengkram bahu Nero.
Ryu kembali ke tempat duduknya dan membiarkan Nero yang hanya diam dengan wajah masam. Nero ingin mengatakan sesuatu, tetapi bibir tipis pria itu terlalu kaku untuk mengutarakannya.
Ryu tersenyum dengan diamnya Nero, ia memang telah membunuh Eve. Tetapi, semua itu karena Nero, karena pria itu yang membuat Eve bergantung pada sepupu tirinya yang tidak berguna.
"Aku tidak bisa membunuhmu karena Felica, tetapi aku bisa membunuh Eve!"
Ryu mengingat jelas ancaman yang ia lontarkan pada sepupunya, dan betapa hancurnya ia harus membunuh Eve hanya karena tidak ingin ada yang menjamah tubuh istrinya.
"Kau membunuh Eve, Bajingan!"
"Jika saja kau bersikap normal pada Eve, aku tidak akan membunuhnya!"
"Eve adalah bahan eksperimenku, aku dapat melakukan apapun padanya!"
"Kalau begitu lakukan pada Felica! Kau bahkan tidak memikirkan perasaannya, kau jauh lebih buruk daripada White!"
"Aku tidak mungkin melakukannya pada Nona Felica!"
"Mengapa? Apa karena pencucian otak yang membuatmu tidak bisa menyakitinya secara langsung? Kau bahkan telah membunuh hati Felica, Keparat!"
Lamunan Ryu terhenti saat dirinya telah sampai di Paris, melewati lautan dengan helikopter milik Roulette yang setara dengan pesawat tempur C-130J super Hercules. Pesawat C-130J super Hercules sendiri memiliki beban angkutnya 19.050 kg dan jarak jangkau 5.250 km. Sedangkan helikopter milik Roulette adalah helikopter Ronin F89 yang memiliki beban angkut 20.580 kg dan jarak tempuh mencapai 10.443 km dengan kecepatan 578 km per jam.
Sambutan yang tidak biasa didapati Ryu saat tiba, Ichiru menatap tajam adik semata wayangnya itu dengan tajam. Bersama Felica yang khawatir dengan keadaan tubuh Ryu, yang terlihat dapat berjalan dengan baik meski tubuhnya sudah pasti berbalut perban.
"Apa yang kau lakukan pergi dari pulau? Arth benar-benar akan membunuhmu jika kau seperti ini, Ryu!" ujar Ichiru sambil menarik kerah pakaian Ryu.
Ryu hanya tersenyum kecil sambil melepaskan genggaman Ichiru, ia menoleh ke arah Felica dan langsung memeluk wanita itu. Hal yang jarang sekali dilakukan manusia manekin seperti Ryu.
"Aku akan memberikan pelajaran pada putraku, dan melindungi Lamia dari jangkauannya."
Ryu berkata dan memperhatikan keponakannya yang sudah tumbuh besar tanpa pernah ia lihat sekali pun. Senyumannya berubah saat ia melihat Salazar, lelaki buta yang memakai mata humanoid. Salazar pernah datang dan menemuinya saat bersama Arth, pria itu mengatakan semua apa yang terjadi pada Arth selama ini. Ryu sangat berterimakasih pada Salazar yang mau bersama dengan putranya.
"Jangan membacaku, Salazar. Kau tahu aku dapat membunuh Arth kapan pun aku mau," perkataan Ryu membuat suasana menegang.
Salazar tertawa kecil dan mengangguk, "Maafkan aku, Uncle. Mataku sudah otomatis membaca apapun yang terlihat," jawab Salazar yang terlihat sama sekali tidak merasa bersalah.
"Kau sudah tahu arti kedatanganku, untuk yang terakhir kalinya ... Felica, bantu aku memisahkan Lamia dari Arth!"
"Tapi-"
"Apa aku harus membunuh putraku sendiri dengan kedua tanganku? Kau tahu aku, aku bahkan bisa membunuh Eve sekali pun,"
"Ryu, kau benar-benar keterlaluan!"
"Felica, aku melindungi apa yang dimiliki Eve dan aku miliki."
"Setelah sekian lama ingin mati dan bunuh diri, sekarang kau meminta kami untuk membantumu memisahkan Lamia dan Arth?!"
"Jika ini bukan permintaan Eve, aku tidak akan melakukannya. Lebih baik aku berada di sana bersama Eve untuk selama-lamanya."
Perdebatan mereka berdua menjadi tontonan yang menarik untuk Zephyr, dokter itu hanya memantau dari jauh dan tidak ingin menunjukan keberadaannya di hadapan Ryu. Ia tahu sifat asli yang dimiliki seorang Ryu, karena itu ia selalu menjaga jarak dengan Ryu untuk melindungi Minerva.
Felica terlihat menahan napasnya sejenak lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengerti perkataan sepupunya, apapun yang terjadi semua itu demi Eve. Maka, ia pasti akan membantu Ryu meski harus membuat Arth membencinya.
"Baiklah, sekarang apa yang kau rencanakan?" tanya Felica, dan wanita itu baru kali itu melihat Ryu menyeringai keji.
"Apa yang aku rencanakan? Bahkan putramu tidak dapat membaca rencanaku," sindir Ryu dan ia dapat melihat jelas wajah Felica yang mulai terlihat kesal.
"Aku akan memberitahumu nanti, Felica. Saat ini aku hanya ingin bersenang-senang melihat penderitaan suamimu," lanjut Ryu sambil melirik Nero yang hanya diam menatap datar dirinya.
Ryu merasa hatinya kini begitu ringan, melihat wajah Nero yang masam benar-benar membuatnya lebih bahagia. Beraninya pria itu membuat Felica dan Eve menjadi seperti sekarang. Ryu meninggalkan Felica dan menarik baju Ichiru.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku ingin mengambil apa yang menjadi milikku."
Ichiru hanya pasrah ditarik ikut dengan Ryu, apa yang selama ini di bangun Ryu memang ia serahkan pada Ichiru. Ia pun tidak berniat kembali pada dunia seperti itu selain bukan untuk bertemu dengan Eve.
Hal pertama yang Ryu dapati adalah Arth yang mengembangkan perusahaan D'Acretia yang merupakan milik ayahnya. Ryu tidak bisa mengganggunya dengan mudah, tetapi ia memiliki rencana lain. Rencana yang mungkin dapat memisahkan Lamia dari Arth, ia tahu sekali sifat putranya yang sedikit keras kepala.
"Kau tidak ingin melihat Minerva?" tanya Ichiru sebelum mereka benar-benar meninggalkan Paris.
"Minerva baik-baik saja, Eve hanya memintaku untuk melindungi Lamia dari Arth. Aku tahu mereka berempat sudah masuk ke jaring milik Minerva, kau tidak perlu mengkhawatirkannya,"
"Apa? Jangan katakan jika Minerva-"
"Minerva gadis yang polos, tenang saja akan hal itu. Tetapi, ia lebih mirip dengan Eve di banding denganku,"
"Apa maksudmu itu, Ryu?"
"Jika kau hidup lama, kau pasti akan mengerti jika terus bersama dengannya."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
D'Acretia
RomanceBook 1 Dark Romance : Brothers Conflict Book 2 Dark Romance : About Us Book 3 Dark Romance : D'Acretia Menceritakan tentang putra pertama Eve dan Ryu, Arth Belamy D'Acretia. Arth ditakdirkan untuk menjadi penerus Sousaki D'Acretia yang menjadi bang...
