Ruangan besar itu sudah seperti ruangan berhantu pada malam hari di musim hujan seperti saat ini. Lamia mengeratkan selimut di tubuhnya saat guntur saling bersahutan, ia kembali mengingat guyonan kecil ayahnya yang menceritakan tentang dua tokoh karakter yang di buat oleh Ibunya.
"Jika kau mendengar guntur saling bersahutan dan tidak berhenti hingga beberapa jam, mungkin Zeus dan Yu Shin sedang bertengkar di atas langit,"
Lamia tersenyum mengingat hangatnya pelukan ayahnya untuk terkahir kali. Pria itu menghilang dan tidak dapat dihubungi hingga saat ini. Terakhir yang ia dengar dari Zerfist adalah ia mencintai Bella, wanita yang menjadi Ibu tirinya. Namun, wanita itu pun tidak pernah ingin bertemu dengannya, rasa sedih merasa tidak di akui kian membuatnya berkecil hati.
Ctak
Lamia tersentak saat mendengar bunyi kayu bakar di perapian terdengar, ia mengintip di balik selimut dan mnedapati Arth yang tengah menyalakan api di perapian. Udara hangat mulai terasa dan Lamia memilih duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Tidur dengan tidak menyalahkan perapian, apa kau ingin mati kedinginan?" tanya Arth tanpa menoleh.
"Maaf," jawab Lamia dengan gumaman kecil.
"Atau kau ingin aku menghangatkan tubuhmu malam ini?" Lamia langsung saja melempar bantal hingga mengenai wajah Arth.
Pria itu tertawa dan memperlihatkan wajah tampannya saat tersenyum dan tertawa, Lamia terpaku beberapa detik dengan wajah yang menekuk. Arth mendekat dengan bantal di tangannya, ia meletakkan bantal tidur di sisi Lamia yang masih menatap dirinya kesal.
"Kau tidak takut guntur?" tanya Arth, lamia menggeleng pelan.
"Mereka hanya sedang bertengkar, jadi aku hanya perlu menghiraukannya."
"Siapa?"
"Zeus dan Yu Shin."
Arth terdiam sejenak, Zeus dan Yu Shin adalah tokoh karakter yang di buat oleh Ibunya jika kedua adiknya ketakutan saat ada guntur di malam hari. Arth tersenyum saat Eve menceritakan tentang Yu Shin yang tampan tidak ingin kalah dengan Zeus yang memiliki banyak Istri.
"Ada apa? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanya Lamia saat melihat wajah Arth yang tiba-tiba murung.
"Tidak, aku hanya ingat seseorang menceritakan tentang Zeus dan Yu Shin," jawab Arth sambil bangkit berdiri untuk mengalihkan pembicaraan.
"Tidurlah, sudah larut dan besok kita akan berkeliling wilayah kediaman Mama."
Lamia hanya mengangguk, entah berapa lama ia akan tinggal di Mansion keluarga Arth. Bukan, bukan Mansion, tetapi lebih tepatnya adalah istana. Itulah yang Lamia yakini saat ini, ia memejamkan kedua matanya. Tangan besar Arth terasa mengelus kepalanya dengan lembut, hingga akhirnya Lamia benar-benar terjatuh dalam mimpinya.
Arth bangkit berdiri lalu mencium kening Lamia dengan lembut, ia mengamati wajah Lamia yang kini begitu tenang meski guntur saling bersahutan. Di balik bayang ia tahu ada seseorang yang mengamatinya dengan senyuman.
"Apa yang kau lakukan di sini, Prince?" tanya Arth dan seorang pria bersurai putih muncul dari kegelapan dengan kedua tangan melipat di depan dada.
"Mengawasimu, Mama memintaku untuk mengawasimu yang bisa saja melakukan hal-hal aneh pada saudaramu sendiri," jawab Prince sambil tertawa kecil.
Arth hanya tersenyum dan meninggalkan kamar Lamia, ia kembali ke kamarnya dan memilih tidur untuk esok pagi. Penjagaan Mansion Utama lebih ketat dari perkiraannya, ia tidak mungkin melakukan hal yang tidak-tidak dengan Lamia selama ada di kawasan Roulette. Ponsel Arth bergetar dan pria itu melihat sebuah nama di layar ponsel miliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
D'Acretia
RomanceBook 1 Dark Romance : Brothers Conflict Book 2 Dark Romance : About Us Book 3 Dark Romance : D'Acretia Menceritakan tentang putra pertama Eve dan Ryu, Arth Belamy D'Acretia. Arth ditakdirkan untuk menjadi penerus Sousaki D'Acretia yang menjadi bang...
