Chapter 3

730 128 11
                                        

Kanada, tujuan utama Arth kali ini. Ia sudah mendapati di mana kakak perempuannya berada dan lokasi di mana wanita itu tinggal. Melihat foto-foto Lamia yang ia dapatkan sudah membuat lelaki itu tersenyum dengan mata berbinar-binar. Ia tidak akan menculik Lama seperti perkiraan Salazar, sepupunya yang sudah membantu menemukan Lamia.

Arth juga tahu jika saat ini kedua adiknya sedang berada di Kanada untuk melindungi Lamia darinya. Terdengar berlebihan, tetapi kedua adiknya memang tidak pernah setuju jika kakak perempuan mereka menikah dengan Arth. Arth tidak peduli selagi apa yang di katakan Ibunya masih terngiang-ngiang jelas di kepala.

"Arth, Zephyr mengirmkan surat untukmu," ujar Velone sambil menyerahkan satu amplop putih dengan cap khusus dari pulau dimana tempat adik perempuan dan ayahnya berada.

Arth mengambil surat itu lalu membukanya, senyumnya langsung mengembang saat hanya ada satu kalimat yang tertulis di dalam surat itu.

Kami menemukan obatnya!

-ZR-

Perasaan bahagia muncul dari dada Arth, kini ia bisa fokus mendekati Lamia dengan mudah. Ia bisa menyerahkan Minerva pada Zephyr dan yang lainnya, selagi adik bungsunya baik-baik saja ia akan merasa tenang tanpa harus khawatir berlebihan.

"Bagaimana keadaan Minerva? Kau tersenyum seperti itu, apa itu kabar baik?" tanya Velone sambil duduk di hadapan Arth.

Arth tersenyum ke arah Velone, "Mereka menemukan obatnya, obat untuk Minerva bertahan hidup," jawab Arth yang terlihat senang meski di tutupi dengan senyum elegannya.

Velone tersenyum, ia memang jarang bertemu Minerva karena selalu ada di samping Arth. Namun, ia pernah melihat gadis itu yang penuh semangat saat bertanya tentang dunia luar padanya. Velone sudah menganggap Minerva seperti adiknya sendiri, adik yang harus ia lindungi seperti Arth.

"Kapan ia akan di bawa keluar dari pulau?" tanya Verlone.

"Aku tidak tahu, Aunty Felica yang akan menjemputnya." Jawab Arth sambil melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku.

"Aku akan menghubungi Aunty Felica nanti, saat ini lebih baik kita menunggu perkembangan obat itu agar Minerva tidak bergantung pada obat. Aku tidak ingin mereka berempat membuat Minerva sebagai tameng kemarahanku," lanjut Arth dan Velone mengangguk.

Arth kembali melirik jam arloji keluaran termahal di tangannya, tentu saja itu pemberian Rainart yang sengaja untuk menghabiskan uang sakunya. Arth tidak mungkin tidak menerimanya, pemberian adiknya adalah barang yang berharga. Terutama hadiah dari Minerva saat ulang tahunnya, hadiah paling unik yang pernah ia dapatkan. Seekor anak buaya yang sama sekali tidak lucu di mata Arth. Namun, Arth tetap memelihara buaya itu di tempat penangkaran buaya yang ia dirikan dekat Mansion miliknya. Minerva akan sangat senang jika melihat buaya-buaya itu tumbuh dengan sehat seperti permintaannya.

"Bagaimana jika Lamia mengetahui kondisi Minerva?" tanya Velone, sejak dulu ia ingin bertanya, tetapi ia tidak ingin melihat tatapan dingin Arth yang menusuk.

"Aku tidak tahu, aku akan bertindak setelah melihat reaksinya," jawab Arth sambil memeriksa tablet miliknya.

Velone beruntung, Arth tidak menjawabnya dengan tatapan menusuk, karena Arth terlalu sensitif mengenai Lamia. Wanita yang Arth cari selama lima belas tahun ini, Velone hanya tersenyum getir mengingat kedua adik Arth sering bertengkar mengenai Lamia. Arth yang keras kepala dan kedua adiknya yang berselisih paham. Mereka bertiga berbanding terbalik dengan Minerva yang selalu berpikir positif dan ceria di depan orang lain.

"Kita akan segera sampai, pesawat sebentar lagi akan landing," ujar Velone sambil duduk di kursinya.

Saat ini mereka memang sedang berada di pesawat menuju Kanada, Arth dengan sengaja langsung pergi ke Kanada untuk melihat kondisi Lamia. Meski ia tahu kedua adiknya juga akan mencari Lamia. Pesawat jet pribadi milik Arth kini mendarat dengan mulus, ia harus bergegas pergi sebelum kedua adiknya bertemu dengannya di bandara.

Velone sudah mengamankan jalan menuju hotel di mana Arth akan menginap, tetapi ia sadar jika ada beberapa pasang mata yang selalu mengikuti mereka dari bandara. Salvador, Velone menatap tajam anak buah para Salvador yang mengikuti Arth. Tidak hanya kali ini, anak buah Salvador sejak dulu sudah mengikuti Arth kemana pun pria itu pergi. Ia tidak tahu apa yang di inginkan Salvador dari seorang Arth, ia pernah sengaja menjauh dari Arth untuk mengalihkan perhatian mafioso Salvador.

Namun, mereka hanya fokus terhadap Arth dan tidak menyentuh pria bangsawan itu sama sekali. Arth tentu menyadarinya, tetapi ia tidak peduli selama mereka tidak mengganggu. Arth terlalu santai dan tidak pernah merasa panik saat di targetkan orang lain.

Setelah sampai di hotel bintang lima, Trump International Hotel yang beralamatkan di 1161 jalan Gerogia Barat Vancouver, British Columbia V6E 0C6. Hotel mewah terkemuka di Vancouver, BC. Menara memutar berdiri di 616 kaki dan 69 lantai, mengubah cakrawala kota sebagai bangunan tertinggi kedua. Terletak di West Georgia Street di Downtown Vancouver, menara putar yang dirancang Arthur Erickson yang terkenal memaksimalkan fitur jendela dan pemandangan di setiap kamar, dan karena desain yang unik ini, setiap kamar memiliki keistimewaan tanpa ada dua pemandangan yang persis sama.

"Seperti biasa, kau pintar membuang uangku, Velone," kekeh Arth, itu bukanlah sindirian, melainkan pujian.

Arth memang sering membuang uangnya yang terlampau banyak, tetapi ia selalu bersyukur dan berdoa agar dapat hidup bahagia bersama pilihan hatinya kepada Tuhan. Menyumbang, bahkan sabagai donatur dari berbagai panti asuhan. Sampai-sampai ia memberikan uang saku kepada Klause dan Rainarth dengan jatah lima miliar dollar perbulan, bagaimana dengan Minerva?

Tidak perlu di tanya, Minerva tidak pernah menggunakan uangnya. Adik bungsunya itu lebih sering memakai uang yang diberikan Zephyr dari pada darinya. Adiknya benar-benar sudah tidak bisa tertolong, karena Zephyr dan ketiga orang lainnya selalu menempel pada Minerva. Adik kecilnya itu akan mengamuk jika Arth mencoba memisahkan mereka berdua.

"Jangan katakan Minerva ingin seperti Aunty Felica," gumam Arth yang saat ini sedang duduk menatap luar jendela.

"Ada apa lagi?" tanya Velone yang mendengar gumaman Arth.

Jarang sekali Arth berpikir di depan orang, pria itu selalu cepat mengambil tindakan dengan pemikiran yang matang tanpa di lihat orang lain.

"Aku hanya berpikir mengenai Minerva dan keempat orang yang menjaganya, aku tahu mereka itu berbahaya. Namun, Minerva tidak peduli dan berbalik membenciku jika aku memisahkan mereka." Jawab Arth dengan raut wajah yang serius.

"Kau bahkan di ancam oleh Zephyr," kekeh Velone dan Arth mengangguk.

"Apa kau berencana untuk memisahkan mereka?" tanya Velone, ia tidak tega melihat Minerva yang selalu ceria mendadak murung dan menangis karena di pisahkan dengan dua dokter dan dua bodyguard milik gadis itu.

"Tidak, biarkan saja apa yang ia inginkan selagi tidak mengganggu untuk membuat Lamia menjadi milikku," jawab Arth pada akhirnya sambil kembali memeriksa tablet miliknya.

Velone mengangguk, Arth kembali berpikir jika seandainya Minerva mengikuti jejak Aunty Felica. Menggelengkan kepala, mungkin Aunty Felica tidak akan mengizinkannya menikah dengan empat orang pria karena kondisi tubuhnya. Hari menjelang malam, Velone kembali ke kamarnya. Arth yang belum ingin istirahat kembali melihat tablet miliknya, sebuah pesan dari Salazar dan juga Cancri yang tiba-tiba mengirim pesan padanya.

Aku akan meminjam Salazar beberapa hari.

-G.Cancri E-

Jangan biarkan aku di pinjam Cancri beberapa hari, aku ingin bersama wanitaku untuk berlibur!

-Zero-

Arth hanya tersenyum tipis sambil menyesap wine yang di sediakan Velone. Ia tidak akan membalas dua pesan itu, biarkan mereka sendiri yang menangani masalah mereka, ia tidak ingin ikut terseret. Lagi pula saat ini ia harus fokus dengan pencarian Lamia, dan juga Minerva yang akan keluar dari pulau terkutuk itu.

"Lamia ... tunggu aku."

***

D'AcretiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang