Chapter 4

641 139 16
                                        

Ryu membuka kedua matanya, ia baru saja terbangun dari tidur lelapnya. Sudah beberapa hari ia tidak istirahat meski hanya tidur sebentar. Ia terus membuka kedua matanya, berharap jika kekasih hatinya akan datang dan memeluknya hangat seperti dulu.

Selama apapun ia menunggu, Eve tidak pernah datang menemuinya lagi. Hancur, tentu saja hatinya hancur beserta dengan raganya yang semakin lama semakin melemah. Berulang kali untuk meninggalkan dunia, putra sulungnya selalu menolongnya dan ia berakhir dengan keadaan sehat.

Arth bukan berniat menolongnya, tetapi putranya itu justru menghukumnya agar tidak dapat bertemu dengan Eve. Beberapa kali pun ia mencoba bunuh diri, akhirnya akan selalu sama. Ryu tidak bisa melihat apapun, tetapi ia dapat merasakan sekitarnya. Seperti putrinya yang saat ini tengah tertidur menunggunya untuk bangun dengan posisi duduk di sofa.

Mengingat apa yang telah terjadi, ia gagal menjadi seorang ayah. Ia gagal menjaga putra-putrinya untuk Eve, Ryu selalu memilih untuk mengakhiri hidupnya hingga kadang ia terlihat menggila dengan pemikirannya sendiri.

"Eve," gumam Ryu sambil menitikkan air mata. "maafkan aku." lanjut Ryu.

"Papa," suara mungil itu terdengar di pendengaran Ryu.

Minerva mendekat lalu mencium punggung tangan Ryu, ia tahu jika ayahnya selalu menangis jika mengingat mendiang ibunya. Kehadiran dirinya sendiri pun sudah tidak berarti lagi untuk kesehatan ayahnya. Ryu tidak pernah lagi membaik meski ada Minerva di dekatnya.

"Mama akan bersedih jika Papa seperti ini terus menerus," tangan dingin Minerva membuat Ryu menoleh ke arah putrinya.

"Minerva, apa kau sedang sakit?" tanya Ryu sambil bangkit untuk duduk di pinggir ranjang.

"Aku baik-baik saja,"

"Suhu tubuhmu menurun, apa kau cukup istirahat?"

"Aku cukup istirahat, Papa. Zephyr telah menemukan obat untukku bertahan hidup,"

Arth tersenyum sambil membelai kepala Minerva, tubuh Minerva seperti sekarang karena dirinya. Jika saja saat itu Ryu tidak egois hngga membunuh Eve, mungkin saat ini mereka telah menjadi keluarga yang bahagia.

Sudah saatnya Minerva pergi melihat dunia luar, meski ia tidak dapat membimbing putrinya dengan baik. Harapan Ryu terkahir kalinya, ia ingin melihat putra putrinya bahagia. Ia berharap mati lebih cepat dari dugaannya, ia ingin meminta maaf pada Eve karena telah membuatnya melahirkan Minerva dengan kondisi antara hidup dan mati.

"Minerva," Ryu menarik putrinya untuk mendekat.

"Maafkan aku yang telah memisahkanmu dari Eve,"ucapan Ryu membuat Minerva berkaca-kaca.

Gadis itu tahu apa yang terjadi karena Arth selalu mengingatkan kesalahan ayahnya yang telah membunuh ibunya. Namun, Minerva tahu jika ayahnya sangat mencintai ibunya hingga seperti sekarang ini. Ryu tidak pernah baik-baik saja di hadapan siapa pun, bahkan semua pamannya tidak pernah bersikap baik dengan Ryu.

Minerva ingin melihat dunia luar akan tetapi, ia tidak ingin meninggalkan Ryu sendiri. Ia tidak ingin Ryu kesepian dan menanggung semuanya sendiri. Tetapi pada akhirnya ia tetap harus keluar dari pulai itu. Karena Felica sudah mengirimkan surat akan menjemputnya untuk melihat dunia luar dan tinggal bersama Felica.

"Minerva, kau harus hidup lebih baik dariku. Jangan percaya pada siapa pun di dunia luar termasuk ketiga kakakmu dan juga kedua dokter dan kedua bodyguard milikmu," kata Ryu sambil memeluk tubuh Minerva.

"Aku tidak ingin kau bernasib sama seperti Ibumu," lanjut Ryu ia mengelus surai panjang milik Minerva.

"Ada apa dengan Mama? Apa Mama mengalami hal mengerikan dalam hidupnya?" tanya Minerva yang sama sekali tidak mengetahui perjalanan hidup dari Ibunya.

Ryu menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin membuat Minerva ketakutan, perjalanan hidup Eve terlalu berat untuk di lewati Minerva. Meski ia juga tahu jika tubuh Eve dan Minerva sama-sama lemah. Ryu mengecup kening Minerva lembut, memberikan semangat untuk terus hidup yang tidak seperti dirinya yang selalu ingin mati untuk menebus kesalahannya di masa lalu.

"Berjanjilah kau akan baik-baik saja di luar sana nanti,"

"Aku berjanji, Papa."

***

Seminggu kemudian Felica datang bersama dengan keempat suaminya, Ryu yang mengetahui maksud kedatangan sepupunya itu hanya menunggu di taman sambil menatap ke arah langit. Ia tidak ingin menggangguk kepergian Minerva dengan kehadirannya yang dapat memicu darah tinggi keempat sepupu tirinya.

"Hei manekin hidup," panggil Felica yang baru saja datang dan ingin bertemu dengan Ryu.

Ryu tidak menjawab, ia hanya terdiam di tempatnya tanpa ingin menoleh sedikit pun. Felica yang sudah mengetahui watak sepupunya itu mencoba mendekat lalu memeluk Ryu dari belakang. 

"Jantungmu masih berdetak, itu bagus." ujar Felica sambil meleapskan pelukannya.

Ryu memutar tubuhnya untuk menghadap Felica, meski ia tidak melihat raut wajah Felica yang ingin menangis melihat kondisinya sekarang.

"Jaga Minerva baik-baik, aku tidak ingin hidupnya seperti Eve," ujar Ryu tanpa ekspresi.

"Apa maksudmu?"

"Untuk saat ini Minerva tidak bisa lepas dari kedua dokter dan bodyguard yang kau berikan, bahkan mereka sudah melampui batas. Aku tidak bisa melepaskan Minerva dari jeratan mereka berempat, bahkan Arth tidak bisa berbuat apapun untuk memisahkan mereka." perkataan Ryu membuat tubuh Felica menegang.

"A-apa maksudmu?"

"Jangan membuatku mengatakannya, Felica. Kau adalah sepupuku yang aku sayangi, jadi aku harap kau menjaga putriku lebih baik dariku. Terlepas dari semua rencana jahatmu, jangan sampai Minerva mendapatkan akibat dari semua apa yang telah kau lakukan, Felica." Ryu memperingati.

"Aku tidak merencanakan apapun terhadap Minerva, aku bersumpah padamu!"

"Aku harap kau benar-benar tidak sedang merencanakan sesuatu pada putriku, jika aku mengetahuinya ... kau benar-benar akan dapat masalah besar, Felica."

"Mengapa kau tidak percaya padaku?!"

"Karena aku tahu kau memiliki dendam terhadap para suamimu dan juga White, apa perlu aku menyebutkannya?"

"Aku tidak akan melakukan apapun terhadap Minerva. Aku akan menjaganya demi Eve, demi Eve yang sudah kau dan Nero bunuh. Aku cukup bersabar saat kalian berdua membunuhnya dengan perlahan, jadi percayalah padaku!"

Ryu tersenyum, Felica lagi-lagi membuka luka di hatinya, ia hanya mengangguk sebagai jawaban. Tidak lama setelah itu, Minerva datang dan langsung memeluk tubuh Ryu. ia pasti akan merindukan ayahnya yang terbilang datar itu, meskipun begitu ia dapat merasakan kasih sayang Ryu terhadap dirinya.

"Apa yang sudah aku katakan camkan baik-baik di kepala cantikmu itu, Minerva." 

Minerva mengangguk lalu mencium pipi Ryu, Ryu tersenyum sambil melepaskan perban di mata kanannya. Untuk terakhir kalinya, ia ingin melihat putrinya. Manis, wajah Minerva begitu manis seperti perpaduan antara dirinya dan Eve. Minerva tersenyum, akhirnya Ryu ingin melihatnya.

"Kau manis seperti Ibumu," Minerva tersenyum mendengar sanjungan dari Ryu.

Namun, kesenangannya tidak bertahan lama, Alucard, Nero, Vicente, dan Xavier datang untuk mengingatkan mereka jika waktunya pergi.

"Waktunya pergi," ujar Alucard sambil menatap Ryu yang terlihat lebih baik daripada saat Ryu menggila atas kepergian Eve.

"Papa, aku menyayangimu, jadi bertahanlah hidup sampai aku meyakinkan Kakak untuk melepaskanmu dari pulau ini." Ryu menggelengkan kepalanya.

"Aku akan tetap di sini hingga Ibumu menjemputku," jawaban Ryu membuat Minerva kembali berkaca-kaca.

Minerva ingin mengatakan sesuatu, tetapi sama sekali tidak ada yang keluar dari bibirnya. Felica yang melihat itu menghembuskan napas, ia menarik tangan Minerva untuk segera pergi dari pulau itu. Minerva hanya bisa mengikuti langkah Felica dengan sesekali menoleh ke arah Ryu yang tersenyum kepadanya.

"Selamat tinggal, Minerva."

***

D'AcretiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang