"Kalo gue panggil sayang aja gimana?"
Perut Sherryn terasa mual mendengar penuturan lelaki didepannya ini. Ya terheran saja, ia berpikir ada ya lelaki seberani dia? Mungkin tampangnya saja dari depan begitu cool tapi saat bersama Sherryn mengapa terkesan berbeda?
"Bercanda bercanda, jangan dibawa serius haha!" Melihat respon Sherryn Jevano langsung tangkap dan memberi dia penjelasan. Takut salah paham.
"Eh iya ka, gak lah aku gak anggap serius kok" Ujar Sherryn dengan sedikit menggangguk.
"Yaudah lo mau ke cafe di hotel ini? Biar kita minum yang anget anget kan udara Bandung dingin, jadi enak kalo minum yang anget!" Sahut Jevano sembari kembali ingin meraih tangan Sherryn, tapi langsung ditepis gadis itu.
Jevano menoleh heran. "Gak usah kak, tanganku basah kalo terlalu lama digenggam, gak enak tangan kaka jadi basah" Ucap Sherryn memberi tahu.
Memang tangan Sherryn tipe tangan yang cepat berkeringat jika terlalu lama menggenggam sesuatu. Ia merasa tak enak melihat tangan Jevano yang ikut basah karenanya. Disini ada yang sama tangannya seperti Sherryn?
Ngomong ngomong mengapa mereka menjadi akrab seperti ini? Sejak kapan?
Tapikan---Ah! Sudahlah lupakan.
Jevano terkekeh tampan sambil melihat kearah tangannya, tidak terlalu basah menurutnya. Ia pun kembali melirik ke arah Sherryn dan berkata. "Gak apa apa justru gue suka, tangan gue jadi anget karena lo!"
Kini berganti perut Sherryn yang tadi terasa mual kini begitu panas ia rasa, kata kata Jevano mampu membuatnya selalu deg degan begini.
"Sekarang---" Ujar Jevano sembari menarik tubuhnya untuk kembali tepat didepan Sherryn.
"---lo mau gue rangkul pinggang apa pundak lo?" Sambungnya dengan tatapan begitu serius dengan alis yang ia naikkan.
Belum selesai perutnya yang begitu panas, kini berganti badannya yang menjadi lemas, Sherryn bingung entah harus menolak apa justru mengiyakan tawaran Jevano.
Sherryn meneguk salivanya sendiri. "Gak usah diapa apain ka" Tuturnya polos.
Jevano tertawa terbahak bahak mendengarnya. Ada ada saja pikirnya, Sherryn memang pintar dalam merusak suasana.
"Hahahahahaha, jangan tegang gitu elah santai aja," Jawabnya dengan masih keadaan tertawa.
"Yaudah gue bakal rangkul pundak lo aja biar lo gak tegang!"
Ini masih tegang, lagian emang harus banget apa dirangkul segala?. Batin Sherryn.
"Yuk!" Jevano benar benar melakukan apa yang ia ucapkan, ia merangkul pundak Sherryn santai dan memasukkan tangan satunya kedalam celana pendeknya berjalan santai bersama Sherryn menuju cafe.
Sherryn benar mengakui kalau Jevano memang tampan adanya, tubuhnya yang tinggi, kulit yang putih bersih, hidung mancung serta rahang yang tegas, dan jangan lupakan gaya rambut yang sangat begitu cocok dengannya. Dan jika dipikir pikir ada berapa banyak ya kira kira gadis yang tertarik dengan Jevano?
"Kenapa liatin gue?" Tanya Jevano yang melihat Sherryn terus menatapnya dengan serius.
Sherryn salah tingkah sendiri. "Emm gak apa apa ka, tadi lagi bengong aja."
"Oh." Jevano mengangguk paham, sebenarnya ia tau bukan itu yang dimaksud Sherryn, tapi sudahlah daripada diperpanjang kan jadi rumit.
Mereka berdua pun sampai di cafe hotel, terdapat banyak orang disini, dari yang orang tua, orang dewasa, anak anak, bahkan remaja seusia mereka. Namun ada satu meja yang menarik perhatian Sherryn, semua orang yang berada dimeja itu kini sedang menatap ia dan juga Jevano. Tapi anehnya Jevano malah mengarahkan mereka kearah meja itu, apa yang sedang Jevano lakukan hah?
KAMU SEDANG MEMBACA
18 Days For Last!
Novela JuvenilManusia berangsur angsur datang dan pergi. Sama halnya dengan cinta ada yang menetap lama dan hanya menetap sementara, memberi rasa yang belum pernah dirasakan sebelumnya, dan tiba tiba saja pergi meninggalkan. Sebuah status dalam suatu hubungan mem...
