35-PAPA KANDUNG AQEELA!

810 102 26
                                        

***

Afraz dan Dian merasa sangat cemas dengan kondisi aqeela. Tidak lebih cemas dari seorang lelaki yang duduk di kursi roda. Lelaki berusia kepala lima yang baru sembuh dari penyakitnya. Datang beberapa menit yang lalu setelah dijemput oleh Afraz dan Dian di bandara. Pertama menginjakkan kaki di mansion Afraz, lelaki setengah baya itu dikejutkan dengan keadaan rumah yang berantakan dan sedang dirapikan oleh beberapa pelayan. Hingga salah satu pelayan memberitahukan apa yang terjadi dengan aqeela.

Tadinya, mereka ingin pergi ke rumah sakit, namun telepon dari rassya lah yang mencegah mereka. Akhirnya, mereka menunggu aqeela pulang di ruang tamu itu.

"Ke mana mereka? Kenapa belum sampai juga?" Gumam Dian tidak sabar. Beberapa kali melirik ke arah pintu menanti putra sulung dan menantunya datang.

"Kak rassya belum pulang ya, Ma?" Suara Aris datang dari arah tangga. Dian, Afraz, dan lelaki itu menatap ke arah Aris.

"Kamu kenapa pakai ketiduran segala sih? Sampai gak tahu kalau kakak ipar kamu dalam bahaya! Coba kamu telepon kakak kamu. Sudah sampai mana dia?" ucap Dian kesal.

Kebiasaan Aris, kalau malamnya habis tampil DJ di suatu tempat hingga pulang larut malam, maka paginya dia akan tidur bahkan bisa sepanjang hari. Tidak beda jauh dengan kakaknya itu. Hingga tidak menyadari kalau di dalam rumah ada kegaduhan.

"yaaa Maaf, Ma. Aris ngantuk banget soalnya. Aris udah telepon kakak, katanya bentar lagi sampai. Nah, itu kakak!" Aris melihat ke arah pintu, begitu juga semua orang di ruangan itu.

"Baru juga diomongin." Aris berjalan menghampiri ruang tengah dan duduk di dekat lelaki yang duduk di kursi roda.

rassya datang sambil mendekap aqeela dengan satu tangannya. Membantu aqeela berjalan sampai Dian ikut membantu.

"Kamu gak apa-apa, sayang?" tanya Dian lembut. Berada di pelukan Dian membuat aqeela selalu merasakan kasih sayang seorang Ibu.

"Aku gak apa-apa, Ma." aqeela dibantu duduk di sofa tepat di sebelah Dian.

"Syukurlah sayang kamu gak apa-apa. Ini gara-gara Mama yang jarang ada di rumah, jadi gak bisa menemani kamu."

"Mama gak salah. Mama jangan khawatir ya, Mama fokus aja sama bisnis Mama, aku di sini kan ditemani muka tem---maksudnya rassya, hehe."

Dian mengelus rambut aqeela kemudian mengecup puncak kepalanya.

"Apa ada luka yang parah?" Kini Afraz bertanya. aqeela menggeleng seraya tersenyum.

"Tidak ada, Pa." aqeela mengusap perban di tangannya.

"Syukurlah tidak terjadi sesuatu sama kamu. Beruntung Jevan berhasil ditangkap. Lelaki itu memang selalu mencari masalah dengan Rassya."

aqeela tidak mau mengingat lelaki itu lagi. aqeela alihkan perhatiannya ke arah lelaki yang duduk di kursi roda sebelah Aris. Di belakangnya ada satu perempuan dan satu lelaki. Mungkin pengawalnya.

Benak aqeela bertanya-tanya mengapa lelaki di kursi roda itu menangis. aqeela menatap Dian penuh tanya lalu menatap rassya yang tanpa ekspresi duduk di seberang kanannya.

"Papa," ucap Rassya.

aqeela tak mengerti tatapan rassya. Rassya berkata seperti itu memanggil Afraz atau ... lelaki yang dikursi roda? Kenapa pandangan rassya beralih ke lelaki itu?

"Papa?" Gumam aqeela lambat.

"Papa kamu. Papa kandung kamu."

aqeela membulatkan matanya memandang lelaki di kursi roda itu.

"Nak," suara lembutnya membuat mata aqeela berkaca-kaca.

Seorang lelaki yang membuatnya ada di dunia ini, yang ia pikir sudah meninggalkannya saat kecelakaan besar dulu, ternyata lelaki yang mengalami kecelakaan itu bukanlah Ayah kandungnya. Tapi, lelaki yang ada di hadapannya inilah Ayah kandungnya. Jauh, asing, terasa aneh, namun aqeela terenyuh saat mendekat menatap matanya. Merasa becermin melihat bola mata yang sama.

"Papa?" Satu tetes air mata lolos dari kelopak mata aqeela. aqeela berlutut di hadapan Papa nya dan menangis di atas pangkuannya.

"Alhamdulillah, aku masih punya Papa." aqeela merasakan elusan tangan di puncak kepalanya.

Dengan suara seraknya, Dani berkata, "Putri Papa yang Papa pikir sudah tidak ada, ternyata tumbuh menjadi anak yang mandiri, diasuh oleh orang lain. Karena kesalahan Kakak kamu, Natasha. Kamu jauh dari kita semua. Ini Papa sayang, maafkan Papa baru menemuimu hari ini."

"Papa sakit ..." aqeela tidak kuasa membendung air matanya. Harapan aqeela adalah Papa nya akan selalu ada bersamanya setelah apa yang sudah dialaminya selama ini. aqeela ingin Papa nya bahagia karena masih ada aqeela meskipun Istrinya dan putrinya yang lain itu sudah tiada.

"Papa sudah sembuh sayang." Dani menghapus air matanya saat aqeela mendongak menatapnya. "Kalau Papa bisa memutar waktu ke masa lalu, Papa ingin menggendong kamu, mengajari kamu berjalan sampai bisa, bahkan menggendong kamu dan Natasha sekaligus. Tapi, Papa tidak bisa melakukan itu, yang terpenting sekarang Papa sudah bertemu kamu, Papa ingin menebus kesalahan Papa selama ini karena membiarkan kamu berada di luar sana bersama keluarga lain, meskipun begitu Papa sangat berterimakasih sama keluarga yang sudah merawat dan menjaga kamu."

"Papa gak salah, Pa. Ini memang takdir hidup aku. Semua yang terjadi biarkan aja, aku sudah sama Papa sekarang, aku putri Papa. Papa gak akan merasa sendirian lagi. Mungkin aku memang baru bertemu Papa, tapi hati aku mengatakan kalau aku harus menghormati Papa sebagaimana kewajiban anak pada orangtuanya. Aku merasakannya, Pa, merasakan adanya tali yang kuat yang membuat aku yakin kalau Papa memang Papa kandung aku."

Momen mengharukan itu disaksikan semuanya. Aris yang ada di sebelah Dani menahan air matanya untuk tidak jatuh. rassya hanya tersenyum tipis setelah itu kembali datar. Dian memeluk Afraz bahagia, karena telah berhasil menyatukan aqeela dengan keluarga kandungnya.

"Sudah jangan menangis lagi, dari dulu Papa paling tidak suka putri Papa menangis, apalagi karena Papa." Dani menghapus air mata aqeela.

"Lihatlah Rahma, bukankah putriku sangat cantik?" Dani bertanya pada perawatnya. Rahma yang berdiri di dekat Dani pun tersenyum.

"Ya, putri Anda sangat cantik, Tuan."

Rahma adalah perawat berusia kepala tiga yang merawat Dani semenjak sakit. Sebentar lagi Rahma meninggalkan pekerjaannya itu mengingat Dani sudah sembuh.

"Bagaimana menurutmu, Henry?" Kali ini Dani bertanya pada asistennya. Henry pun tersenyum.

"Tentu, dia sangat cantik, Tuan."

Henry adalah asisten Dani yang mengabdi sudah bertahun-tahun. Usianya sudah berkepala empat. Dia bahkan mengetahui apa yang terjadi dengan keluarga Dani.

"Kalau boleh saya ingin mengatakan, putri Anda---"

Ucapan Henry terpotong dengan suara deringan ponsel rassya.

"Maaf," Rassya beranjak pergi untuk mengangkat ponselnya. aqeela melihat kepergiannya ke arah kolam renang.

"Sebenarnya nama kamu itu Anastasya, bukan aqeela," kata Dani.

"Anastasya? Mirip dengan Natasha."

"Tadinya, kami ingin memanggilmu Tasya, lalu Natasha dipanggil Nata, tapi karena saat itu kamu dinyatakan meninggal oleh penculik itu, jadi panggilan Tasya untuk Natasha."

aqeela tersenyum. "Anastasya nama yang bagus, Pa. Boleh aku pakai? Jadi, aqeela Anastasya ."

"Tentu boleh, putriku." aqeela memeluk Dani lalu duduk di sebelahnya setelah Aris pindah ke sofa lain.

"Papa harus pulang sekarang, Nak."

"Kenapa buru-buru? Papa baru ada di sini kan? Papa belum lama ketemu sama aku. Papa belum cerita banyak hal sama aku. Papa belum makan atau minum. Papa--"

"Benar kata rassya, kamu beda ya," sela Dani.

~~

aaaa telatt uppp!!!!

MARRIED [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang