"Benar kata rassya, kamu beda ya," sela Dani.
"beda?" aqeela menautkan alisnya.
"Kamu bawel sayang." Dani mencubit hidung aqeela sambil terkekeh.
"Ih aku gak bawel," rengek aqeela.
Dian dan Afraz ikut tertawa.
"Gak bawel sih cuma cerewet," timpal Aris.
"Apa bedanya? Ih Aris ah ..."
"Sudah, Papa bercanda," kata Dani. "Papa pergi dulu ya sayang, hari ini Papa mau cek kesehatan Papa terakhir kali, setelah itu kita bisa sama-sama lagi."
"Habis itu Papa ke mana? Papa gak tinggal di luar negeri lagi kan?"
"Papa tinggal di luar negeri cuma buat berobat. Papa tinggal di sini kok, kebetulan Papa beli rumah yang gak jauh dari sini."
"Aku jadi bisa nemuin Papa dong, aku mau merawat Papa sampai benar-benar sembuh."
"Tidak perlu, sayang. Ada Bu Rahma dan Pak Henry yang rawat Papa."
"Nggak. Biar bagaimanapun juga aku ikut merawat Papa. Aku anak Papa," ucap aqeela tidak bisa dibantah.
"Ya sudah, terserah kamu." Dani menoel hidung aqeela.
rassya kembali, melihat Papa dan Anak itu sedang bercengkrama dan terlihat bahagia.
"Sekarang, aku mau nemenin Papa check up." ucap Aqeela sembari tersenyum lebar.
Dani menggeleng tidak setuju. Rassya mengernyitkan dahinya. Afraz dan Dian saling pandang. Sementara Aris sibuk memainkan ponsel menghubungi gebetannya.
"Tidak!" ucap Dani dan rassya kompak. Dani menatap rassya sejenak membuat aqeela mengikuti pandangannya. Seketika aqeela memelas menatap rassya.
"Kamu baru saja dari rumah sakit, Papa kan ditemani Rahma dan Henry. Lebih baik kamu istirahat ya, sayang," kata Dani. aqeela menatap Papa nya itu dengan cemberut.
"Aku gak apa-apa, lagi pula cuma nemenin Papa ke rumah sakit. Habis itu aku pasti pulang, please."
aqeela kembali menatap rassya, "Boleh ya aku ikut Papa? Ya? Ya? Kalau gak boleh aku akan memperkosa kamu di sini!!"
rassya semakin mengerutkan dahinya. Lagi-lagi aqeela mengancam kalau menginginkan sesuatu, sebenarnya dia tahu sekali aqeela tidak akan berani melakukan itu padanya.
"Baiklah. Kalau sudah selesai, hubungi aku. Akan kujemput," putus rassya.
aqeela pun senang bukan main, "Terimakasih, hubbiy!"
"Kalau begitu, ayo kita berangkat!" Ajak Dani akhirnya. aqeela pamit pada kedua mertuanya lebih dulu setelah itu pergi bersama Papa nya itu. Setidaknya siang ini aqeela bisa menghabiskan waktunya bersama Papa.
rassya menghubungi seseorang. Belum sampai deringan ketiga, orang yang dihubungi sudah datang. rey dan Verrel. rassya pun memasukkan ponselnya ke saku.
"Kami ke atas," ucap rassya pada kedua orangtuanya. Kemudian pergi bersama Verrel dan rey melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
***
Sekitar pukul 7 malam Aris berdiri di ambang pintu kamar rassya sambil mengunyah keripik kentang. Aris melihat Rassya berdiri di tengah kamar sambil memutar-mutar ponsel. Wajah rassya terlihat marah.
"Mikirin Kak aqeela, ya?" Ini . Sifat Aris yang ada dari dulu, suka banget usilin kakaknya yang super dingin.
"Mau apa ke sini? Pergi sana," jawab Rassya tak acuh.
"Tidak, cuma mau lihat bagaimana kondisi Kakak ditinggal nginap sama Kak aqeela." Aris cengar-cengir lalu memakan keripiknya lagi.
Ada perbedaan di raut wajah rassya. Entah terkejut atau marah, keduanya berlangsung cepat.
"Menginap?"
Aris menyengir semakin lebar. "Kakak gak tahu yaaa?"
"Teleponku tidak diangkat."
"Wah! Tega banget Kak aqeela ya, padahal dia baru aja nelfon Mama."
"Kau bohong?"
"Buat apa aku bohong soal ini Kak. Kalau dia tidak menginap pasti sudah pulang sejak tadi sore."
Aris berhasil membuat Rassya semakin marah. Buktinya rassya meremas ponselnya sendiri.
"Ngantuk nih. Aku mau ke kamarku, selamat malam Kak, sementara kelonin guling aja dulu. Insya Allah bermanfaat."
Aris terkekeh geli, tidak peduli bagaimana rassya terlihat seperti ingin membunuhnya. Dan Aris pergi dari kamar rassya dengan tawa mengejek.
Rassya menghampiri pintu setelah Aris benar-benar pergi, menutup pintu itu dengan bantingan keras kemudian menguncinya.
Entah kenapa dia menjadi gusar. Duduk di tepi kasur, menatap ponsel yang tidak menunjukkan tanda kalau aqeela menghubunginya. Hingga dilemparnya ponsel itu ke sofa seberang.
"Dia ..." rassya mengernyitkan dahinya menatap foto aqeela di atas nakas. Menggertakkan gigi karena merasa tidak dihargai. aqeela menginap tidak mengabarinya lebih dulu? Apa-apaan ini?
Ponsel itu berdering. rassya segera menghampiri ponsel itu, tanpa melihat nama di layarnya, dia langsung angkat begitu saja.
"Apa kamu sudah gila?! Mengapa tidak memberitahuku kalau menginap?!" ucap Rassya marah.
Rassya pikir dia akan mendengar suara aqeela. Tapi, suara bass yang sedikit serak milik Dani mengejutkannya.
"Saya? Gila?"
Rassya menurunkan ponselnya memijit kening. Kemudian menghela napas menyatukan kembali ponsel itu ke telinga.
"Papa?"
"Ya, ini Papa. Bukan orang gila."
"Maafkan aku, Pa. Aku pikir--"
"aqeela? Papa sudah menduganya." Rassya dengar Ayah mertuanya terkekeh geli di seberang sana.
"Papa sudah memaksa aqeela untuk menghubungi kamu, tapi dia tidak mau."
rassya mengepalkan tangan kirinya. Alasan apa yang membuat aqeela tidak mau menghubunginya? Serta tidak mengangkat puluhan panggilannya?
"Apa dia ada bersama Anda?" Tanya rassya kemudian.
"Dia sudah tidur di kamarnya, sepertinya kelelahan."
rassya memejamkan matanya sejenak. Lega? Mengapa ia merasakan itu? Memang sudah seharusnya aqeela tidur cepat. aqeela butuh banyak istirahat setelah apa yang sudah dialaminya.
"Kamu tenang saja, Papa akan menjaganya." rassya mengangguk meskipun Dani tidak melihatnya.
"Aku akan menjemputnya besok pagi."
"Baiklah."
Hening.
"Papa mau mengatakan sesuatu sama kamu, sya."
Apa pun yang mau dikatakan Ayah mertuanya, rassya siap mendengarkan. Sekali pun itu berhubungan dengan aqeela, mungkin saja aqeela sudah menceritakan tentang mereka berdua. Tapi, ini mengejutkan rassya, Ayah mertuanya itu justru terkekeh geli dan mengatakan, "Kamu punya guling? Untuk sementara peluk guling saja ya, aqeela Papa pinjam."
Dan panggilan itu terputus. Rassya melihat layar ponselnya tak percaya, kemudian melempar ponsel itu ke kasur. Tadi Aris yang menggodanya, lalu Ayah mertuanya sendiri. Setelah ini siapa?
rassya berjalan lurus membenturkan kepalanya ke dinding. Meskipun pelan tapi sukses membuat keningnya berdenyut.
Mood Rassya malam ini benar-benar buruk. Dia pun naik ke kasur dan memeluk guling yang menjadi teman tidurnya.
Ya. Teman tidurnya.
Terimakasih guling.
~~~
yang sabar ya pak boss!
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED [END]
Fanfictionsebelum baca follow dulu dong... kelanjutan kisah seorang gadis yang terpaksa menikah dengan boss nya sendiri. hanya karena kesalahan yang bahkan tak disadarinya aqeela terpaksa menandatangani perjanjian tertulis. lalu apa jadinya jika aqeela menika...
![MARRIED [END]](https://img.wattpad.com/cover/298357701-64-k3103.jpg)