Berdebat dengan Ghazi bagai tak ada akhirnya. Sejak kejadian tadi, Ghazi semakin kesal dengan aku dan Lo. Meski susah payah, Lo berhasil mengajaknya pergi mengunjungi kedai Rujak Calimbare, favorit Lo. Katanya sudah lama ia tidak berkunjung.
Meski tak ikhlas, Ghazi menuruti langkah Lo yang tak sabaran untuk merasakan lezatnya rujak Calimbare itu.
"Ayo dong! Cepetan dikit napa? Kayak siput kalian!" umpat Lo kesal.
Lo membuang tongkatnya sembarangan, lalu tertatih-tatih mendekati aku dan Ghazi. Dengan tatapan sulit diungkapkan, kami aku-Ghazi merasakan perih melihat Lo harus menyeret-nyeret kakinya. Ada rasa ngilu yang ditahan Lo meski tak dikatakannya.
"Ayo!" ucap Lo menarik lengan baju kami.
Aku dan Ghazi merasa sedih dengan keadaan Lo. Langkah kami mengikuti saja kemana Lo menarik kami berdua.
"Pak, pesan tiga yaa!"
"Okee, neng. Ditunggu yaa!"
Karna hanyut dalam pikiran, baik aku-Ghazi tidak menyadari kami sudah sampai di tujuan.
"Kalian tidak mau duduk?"
"A..aahh iyaa!" jawabku mendadak gagap.
Ghazi mengambil duduk tepat di sebelah Lo, sedang aku duduk di depan mereka berdua.
"Ini rujaknya," ucap sipemilik kedai menghidangkan tiga porsi rujak di depan kami.
Dengan senang hati Lo menikmati hidangan potongan buah berkuah kacang kecap itu.
Peka dengan aku dan Ghazi yang sejak tadi tidak menyentuh tusuk rujak.
"Kalian kenapa?" tanya Lo dengan polosnya.
"..."
Gubrak
Lo menepuk meja tapi gebrakannya membuat seisi kedai menoleh ke arah kami.
"Kalian kenapa?!!" tanya Lo kesal.
"Lanjut makan!" perintah Ghazi tidak tau tempat.
"Kamu nyuruh makan, tapi kamu ngak makan!" balas Lo semakin kesal.
Entah apa yang ada di pikiran Komandan Marinir ini mendadak saja Ghazi menyuapi Lo, membuat Lo bungkam.
Adegan ini bisa membuat seisi kedai rujak salah paham. Banyak pengunjung yang mengabadikan momen romantis ini, menambahkan bumbu-bumbu penyedap lain sehingga makin ber-aroma! Dan jangan lupakan posisiku seperti orang ketiga. Jujur saja ini sedikit menyinggungku!
##
"Lo, ini sudah semua kan?" tanya Ghazi menyodorkan se-plastik belanjaan berlogo mall terkenal di wilayah ibu kota.
Setelah dari kedai rujak itu, Ghazi membanting stir berbelok ke sebuah parkiran mall tentunya atas permintaan Lo.
"Sudah,"
"Ayo," lanjut Ghazi menarik lenganku.
Duduk di sebelah bangku supir mengharuskan Lo untuk duduk di belakang. Ghazi memang sangat mengistimewakan Lo entah apa maksudnya. Tapi, kami tidak pernah bertengkar.
"Ehh, kalian mau mampir dulu ngak?"
"Gue turun di depan deh!" ucapku membuat Ghazi me-rem mobilnya kaget.
"Loh, kok turun di sini sih?!"
"Gue dinas malem," jawabku sambil menutup pintu mobil.
"Lo marah soal yang tadi?" tanya Ghazi menekan kata di ujung kalimat.
Aku tak menanggapi terus berjalan hingga mobil Ghazi berlalu.
##
KAMU SEDANG MEMBACA
DIALOGUE
Novela JuvenilDi dunia ini hanya ada serba dua, kiri-kanan, maju-mundur, menang-kalah. Begitu juga dengan hati, memilih atau melepas. Menerima atau mengikhlaskan, dekat lalu menjauh ataukah jauh lalu mendekat? Siapakah dipilih untuk mendampingi? Jemariku bisa me...
