Sejak kejadian di kedai kemarin, Daneswara menjaga jarak denganku. Bukannya merasa bersalah aku malah tertawa bahagia. Yuni mengukuhkan gelar "gendeng" lengkap dengan upacara panembahan berantai mawar merah dan putih. Bang Aldi menceramahiku tanpa henti selama dua jam. Aku angguk-angguk burung sambil mengunyah permen karet tak lupa sesekali membentuk bulatan di depan mulut. Si kutu Aldi menepuk meja keras, hampir saja permen yang ku kunyah mendarat di wajahnya.
"ALO...!!"
"IYAA..?" jawabku ikut berteriak.
Bang Aldi menghela napas, " Kamu keluar."
"SIAP, EMPAT LIMA NDAN!"
Sukacitanya langkah kaki ini ku ayunkan, seperti jendral menang perang.
"Ehh Lo, gimana si Aldi?" tanya Mbak Hana saat kami berpapasan di lift.
"Ngak apa-apa kok mbak."
"Ngak usah diambil hati omongannya, efek bujangan tua dia mah."
Aku tertawa sambil menunggu pintu lift menutup, "Si bos baru itu keliatan banget ngincar kamu."
"Berarti aku interested banget mbak," ujarku terus saja menggibahi si Robert palsu.
Mbak Hana ikutan tertawa,
" Telinganya panas dalam tuh."
"Diademin aja mbak pake oralit," ujarku.
"Lah dikira diare," kami tertawa bersama hingga berpisah di depan ruang head program.
Aku memasuki ruangan crew dan langsung duduk di kursiku. Randi menggeser kursi mendekatiku, "Si Daneswara tuh."
Aku melihatnya sekilas, "Biarin aja."
"Kirain Lho mau sama dia, lumayankan tampangnya mirip bule.."
"Bule apanya, mirip Mang Dollah itu mah!"
"Mata lho siwer!"
"Lho kali yang siwer!" balasku tak terima.
"Gue denger kencan lho gagal yaa?" tanya Randi kepo.
"Kalo udah tau kenapa nanya!"
"Yee galak Lho, habis makan apaan sih?" ucapnya sambil menggeser kembali kursinya.
"Mercon.." pungkasku.
✍️✍️
Seminggu berlalu, tidak banyak perubahan padaku. Masih saja menunggu balasan Zayn yang bahkan tadi pagi pun belum juga membaca pesanku. Aku mengetuk-ngetukan pulpen kemeja, kepalaku terasa berat untuk diangkat. Stalking tidak ada gunanya, malahan jari-jari ku malas bergerak.
"Lo, dipanggil tuh."
Aku mengangkat kepala susah payah dan melangkah ke ruangan rapat sialnya si Daneswara dan Bang Aldi yang ada di sana.
"Iya bang," sapaku mengacuhkan si Robert palsu.
"Kamu ikutan syuting traveller weekend ini," ucapnya tanpa banyak cincong.
"Tapi bang, saya tidak di program itu sebelumnya."
"Kamu dipindahkan," ujarnya santai.
"Kenapa ti..." belum usai kalimatku si bule palsu sudah berkata.
"Saya atasan kamu di sini, kamu harus mematuhi perintah saya!" titahnya.
Aku menarik kursi dan duduk, mereka sedikit terkejut sambil menatapku. "Karna anda atasan saya, bisakah anda menjelaskan alasan kenapa saya dipindahkan?"
"Kamu tidak perlu menanyakan yang tidak penting," Bang Aldi menegurku.
"Jika masalahnya karna kejadian di kedai kopi itu anda tidak perlu bersikap tidak profesional begini. Perintah anda sudah mencoreng anda sebagai atasan saya di kantor!!" ucapku menahan marah.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIALOGUE
Novela JuvenilDi dunia ini hanya ada serba dua, kiri-kanan, maju-mundur, menang-kalah. Begitu juga dengan hati, memilih atau melepas. Menerima atau mengikhlaskan, dekat lalu menjauh ataukah jauh lalu mendekat? Siapakah dipilih untuk mendampingi? Jemariku bisa me...
