Day First Be Floor Director

1 1 0
                                        

Cahaya matahari terus merangkak naik menuju tahtanya, aku menutupi kepala dengan topi pet berlogo adventure lengkap dengan handy talkie di genggamanku. Aku berjalan mendekati Afsha, asisten produser yang sedang sibuk memencet angka-angka di ponsel pintarnya. Sambil terus berbicara dengan para kru di sekitar.

"Mbak Afsha," sapaku ketika sudah berdiri di sampingnya.

Dia menoleh sebentar lalu menurunkan ponselnya, "Iyaa, kamu siapa ya?"

"Saya Ananta Lo Firma, mbak."

Dia berpikir sejenak dan mengangguk cepat. "Selamat bergabung," ujarnya melepaskan jabat tangan.

"Kamu udah tau instruksi dari Mas Ferdi?" aku mengangguk menanggapi pertanyaan Mbak Afsha.

Mas Ferdi mendekat bergabung dengan tim. "Oke, all crew sebelum kita berangkat. Kita berdoa dulu sesuai keyakinan masing-masing," ujar Mas Ferdi memimpin doa.

"Doa selesai, semua barang naikan ke mobil jangan ada ketinggalan. All crew, let's go," lanjut Mas Ferdi.

"Ayo Ananta!" ucap Mas Ferdi meneriakiku sebelum dia membuka pintu mobil.

"Siap Mas," jawabku sambil mempercepat langkah menuju mobil. Aku menutup pintu mobil, menaikan kaca. Deru mobil kami telah meninggalkan parkiran kantor.

"Ananta itu teman kamu ngak?" tanya Mas Danan sambil melirik spion.

Aku menoleh ke belakang mendapati Nina berlari mengejar mobilku sambil berteriak. Baru saja aku hendak meneleponnya, Nina mengangkat tangannya dan berteriak, "GUE TUNGGU LHO KEMBALI..!!!"

Wajahku memerah menahan kesal bercampur haru, Nina meneriaki dengan toa membuat tiga mobil timku langsung berhenti. Aku menurunkan kaca jendela secukupnya sekedar untuk menyembulkan kepala.

"NINA..!! LHO NGAPAIN SIH?!" ujarku sambil ikut berteriak.

"MELEPAS LHO LAH, PEAK..!" ujarnya yang terdengar jelas karna memakai toa. Wajahku semakin memerah, dari kejauhan muncul Adin, Bima dan semua tim lamaku. Mereka terlihat kelelahan karna berlari mengejar Nina.

"LHO CEPAT BALIK YAA! KABARIN GUE, GUE BAKAL BANTUIN LHO NGELAWAN BULE IMITASI ITU..! GUE KAS...." Bang Adin merebut toa dari tangan Nina. "SELAMAT BERTUGAS ANANTA, HAVE FUNNN..." ucapnya sambil berusaha menjauh dari Nina yang ingin merebut kembali toa namun berhasil ditahan oleh Bima dan tim.

Mobil yang membawaku kembali melaju mengikuti dua mobil di depannya. Mas Rio sebagai driver geleng-geleng kepala yang juga ditiru oleh Mas Danan dan semua orang di mobil ini. Aku menutup wajah dengan clapping board.

"Itu tim lho ngak ikhlas ngelepasin lho yaa?" tanya Kevin yang duduk di sebelahku.

"Gitu deh," jawabku singkat.

"Bule imitasi itu siapa?" tanya Kevin lagi yang membuat aku gugup.

"Bukan siapa-siapa kok," jawabku menutupi kejadian sebenarnya.

"Pasti Daneswara kan, atasan baru lho?" Aku terkesiap mendengar pertanyaan Mas Rio.

Aku memalingkan wajah seolah tak mendengar apapun. "Daneswara itu sepupu gue," ujarnya lagi membuatku sadar setelah keluar dari kandang buaya rawa sekarang malah masuk ke kandang macan.

"Seriusan lho Yo?" tanya Mas Danan yang diangguki Mas Rio.

"Berarti Ananta ngak bakal selamat ini," ujar Mas Danan tersenyum menertawakan takdirku.

"Kurang lebar mas ketawanya," sindirku. Tapi Mas Danan, Mas Rio dan Kevin menambah volume mereka.

"Keluar dari kejaran buaya rawa malah masuk sarang macan," umpatku yang didengar ketiganya. Mereka kembali tertawa dengan sangat bahagia.

"Tenang sayang, abang ngak buaya rawa kok," ujar Mas Rio semanis mungkin yang dibumbui siulan Mas Danan dan Kevin.

Aku memasang wajah tak tergoda, "Lebih parah dari buaya rawa Mas."

"Iya Yo, receh banget lho. Iki lima ngatusan," ujar Mas Danan memberikan uang perak.

"Yaa cuman gopek, gak cukup beli geprek ini mah." Terimanya dengan wajah cemberut.

"Ananta, tau ngak kenapa Mas yang nyetir hari ini?" tanya Mas Rio penuh strategi. 

Kevin menutup mulut menahan tawa, "Ayo jawab dik," titahnya.

Dengan wajah tak ikhlas, "Nopo Mas?" ia tersenyum ku lihat dari spion dalam.

"Karna Mas durung dadi pendampingmu sayang," ujarnya lagi yang membuatku hampir muntah.

Mas Danan merogoh sakunya lagi, "Iki lima ngatusan, koe kumpul wae."

Mas Rio dengan senang hati menerimanya.

"Udah Mas Rio jangan godain Ananta lagi. Kasihan dia belum bebas dari rawa malah dikejar Kadal Persia," timpal Kevin membuat senyum Mas Rio luntur.

"Biarin kan gue gak ganggu pacar lho," balas Mas Rio.

"Yaa ganggu gue juga mas, dosa banget gue udah bertahun pesantren buat jaga mata, telinga malah denger yang jelas begini."

"Sejak kapan lho lulus pesantren?" tanya Mas Danan.

"Gue dari SD sampai SMA di pesantren Mas," jawab Kevin.

"Perasaan lho ngak alim-alim banget," ujar Mas Rio.

"Lho nyindir gue Mas?" tegas Kevin.

"Ngak, gue bicara fakta Vin."

"Pesantren mana?"

"Pesantren abah gue Mas Danan," aku menatap Kevin tak percaya.

Gimana mau percaya, penampilan Kevin berbanding terbalik dengan pernyataannya. Rambutnya merah tembaga sebahu pula, telinganya ada anting bulat hitam, di tangannya ada gelang bertuliskan "Sampurasun." Celananya jeans sobek-sobek, sepatunya army boots.

"Subhanallah," ujarku tanpa sadar. Kevin menoleh menatapku, Mas Danan dan Mas Rio melirikku dari spion dalam.

"Kenapa Ta?"  tanya Kevin. Aku masih setengah sadar.

"Aman Ta?" tanya Mas Danan memulihkan kesadaranku.

"Aa..man Mas," ujarku gagap. Mendadak aku kembali menyenderkan punggung di sandaran kursi. Sedikit tidak enak, aku melirik  ke arah Kevin, sekilas dia tersenyum tipis. Namun Mas Rio kelihatan marah, Kevin memalingkan wajahnya menatap jendela. 

"Gimana ceritanya masuk ke liputan Vin?" tanya Mas Danan.

"Biasa mas, dulu gue agak nakal, sering berantem. Dari pada kuping pegel dengerin nasehat abah, gue berhenti nyantri lalu pindah SMA. Waktu lulus gak tau mau lanjut kemana mas, abah nyuruh pulang buat bantu beliau ngurus pesantren. Guenya ngak mau terus coba cari kerjaan di Jakarta, temen gue bilang ada lowongan kerja tv. Yaa gue coba aja ternyata lolos," pungkasnya.

"Ohh, gue kira yang ngetes lho waktu daftar itu matanya siwer atau takut kali sama lho Vin."

"Takut kenapa mas?" tanyaku.

"Takut dihantuin sama Kevin Ta, gara-gara rambutnya lebih serem dari rambut Vampire Chasper," ujar Mas Danan yang membuatku dan Mas Rio tertawa. Kevin kelihatan kesal jadi bahan olokan Mas Danan.

"Gue liat mah udah kaya walkot gagal pilgub Mas," timpal Mas Rio yang membuatku semakin tertawa.

"Asem lho Yo!" umpat Kevin tak terima.

                         ✍️✍️

DIALOGUETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang