"Assalamualaikum.."
Sambil ku turunkan knop pintu, aku menatap ruangan kosong dan gelap. Kuraba dindingnya untuk menyalakan lampu.
Sunyi, sepertinya Lo belum pulang.
Lo, dia sahabatku yang kini bekerja di sebuah kantor penyiaran. Aku sering mendapati rumahnya yang sering sekali tidak dihuni. Karna itu pula, aku mampir bahkan menginap. Tak jadi masalah buat Lo, dia malah senang ada yang mengawasi rumahnya.
Awal Lo menjadi sahabatku sejak di SMA. Dia sebenarnya juniorku dulu karna kesibukan masing-masing kami jadi jarang bertemu. Suatu hari, aku kehabisan tiket kereta untuk pulang kampung. Karna sudah di atas jam 24:00 WIB, aku memutuskan untuk pergi ke rumah Lo. Sayang, pintu rumahnya tak terbuka meski sudah aku gedor-gedor. Dengan terpaksa, aku pun tidur diteras hingga pagi.
Paginya, aku terbangun lantaran suara Lo memenuhi gendang telingaku. Ia berteriak marah karna aku tidur di teras rumahnya dan membuat ibu-ibu tetangga sebelah buru-buru menelponnya untuk segera pulang.
Sejak itu, Lo mempercayakan kunci rumahnya kepadaku. Katanya, dia bakal jarang di rumah. Bekerja sebagai tim kreatif membuatnya kadang lebih sibuk dariku. Dulu, aku terlalu overprotektif kepada Lo. Bahkan ia tidak aku perbolehkan keluar dengan teman laki-lakinya selain aku. Karna jauh dari keluarga membuatku mengekang Lo. Meski begitu, ia tak protes sama sekali. Kemana pun dia tidak akan pergi tanpa izinku. Sangat patuh!
Semenjak bekerja dikantornya, membuat Lo leluasa untuk bepergian. Kadang bisa dua hingga tiga kali ia keluar kota dalam sebulan. Sepertinya, merantau menjadi hobinya sejak di bangku menengah atas.
Mendengar suara decitan pintu, aku bergerak lebih dulu membukanya. Lo berdiri kaget saat mendapati aku di hadapannya.
"Lah, kamu! Kirain siapa."
"Siapa?" balasku.
"Siapa ajaa," balasnya sambil meneguk sebotol mineral.
"Baru pulang?" tanyaku sambil melirik Lo yang tak kunjung meletakkan bawaannya.
"Untung ada kamu!" balasnya membuatku separuh bingung.
"Aku mau balik lagi, tadi cuman mau ngambil power bank kok."
"Kirain udah pulang," ucapku menyandarkan punggung kesandaran kursi.
"Lagi mau prepare di kantor," jawabnya.
"Mau keluar kota lagi?" tanyaku. Dia mengangguk mantap.
"Kemana?"
"Bunaken" jawabnya.
"Jauh amat!" balasku sedikit meninggikan suara. Karna tentu aku tidak setuju Lo pergi jauh sekali.
"Lah, kamu kan kalo tugas juga pergi jauh!" ucapnya.
"Itu kan beda! Saya menjalankan tugas negara"
"Terserah! Aku mau pergi dulu. Nih aku bawain nasi goreng ama martabak, makan gih!"
"Makasih," balasku.
"Oke-oke, aku pergi dulu yaa. Bye, Assalamualaikum."
✍️
Beberapa hari belakangan ini, aku sibuk latihan gabungan bersama Mako Marinir Surabaya.
Di waktu istirahat latihan, aku teringat Lo. Sudah seminggu sejak dia berangkat ke Bunaken dan belum mengabariku sama sekali. Apa sebegitu sibuknya seorang anggota tim kreatif ?
Aku sangat khawatir bagaimana keadaan Lo. Apa mungkin Lo tenggelam di Bunaken? Pikirku.
Tak mungkin!
Aku segera menepis segala pikiran burukku tentang Lo. Tidak mungkinlah Lo tenggelam. Kalaupun iya, pasti aku sudah mendapat kabar. Aku memukul-mukul dahiku pelan.
Ingin sekali rasanya aku berteriak marah pada Lo. Andai nanti dia pulang, akan aku marahi dia semarah-marahnya atau aku jual saja rumahnya bila Lo tak pulang-pulang.
"LOO!!!!" teriakku frustasi.
"Kapten ZAYN!! Kenapa kau?!!"
Teriakan Mayor Idris membuatku tersadar. Ini semua karna Lo, terlalu memikirkannya membuatku terlihat seperti orang gila. Secara tak sengaja aku berteriak memanggil nama Lo sehingga mengundang berbagai tatapan dari rekan-rekanku.
Wajah Mayor Idris merah padam, tentu beliau marah. Sebagai pemimpin Satlatgab beliau pasti malu karna ulahku.
Bisa-bisanya aku berteriak di tengah waktu istirahat kami, yang tidak hanya diikuti oleh kompiku saja tapi juga dengan anggota Marinir dari Mako Surabaya.
"SIAP SALAH Mayor!" ucapku dengan sikap siap.
Apa mau dikata, luntur sudah wibawaku. Anggotaku sendiri malah menertawaiku.
Nasib emang nasib!!
" Izin bang, mungkin efek ombak kali bang," ucap salah satu juniorku, Adam.
"Ombak apa maksud kau?" tanyaku.
"Ombak RINDU! Memang bahaya bang," jawabnya cengengesan. Mengundang tawa rekan-rekanku yang lain.
"Ini bukan rindu, ini khawatir! Paham kau tidak?!" balasku kesal.
"Siap! Izin bang. Memang Lo itu siapa Abang?"
"Sahabat saya. Dia ke Bunaken, sudah seminggu belum mengabari," jelasku.
"Apalagi namanya kalo tidak rindu?" ucap lettingku, Abraham.
"Saya khawatir Ham! Bukan rindu"
"Aeehh bang! Khawatir dengan rindu itu beda tipis!" ucap Adam membenarkan.
"Betul, setipis kulit bawang!" timpal Pandu.
Lo, bagaimana kabarnya? Sungguh tak pernah ia begini sebelumnya.
✍️
KAMU SEDANG MEMBACA
DIALOGUE
Ficção AdolescenteDi dunia ini hanya ada serba dua, kiri-kanan, maju-mundur, menang-kalah. Begitu juga dengan hati, memilih atau melepas. Menerima atau mengikhlaskan, dekat lalu menjauh ataukah jauh lalu mendekat? Siapakah dipilih untuk mendampingi? Jemariku bisa me...
