Kota Sejarah Surabaya

1 1 0
                                        

Jika Bandung dikenal dari lagunya Bandung Lautan Api. Maka Surabaya pun dikenal dengan peristiwa Ambarawa. Yang melatarbelakangi ditetapkannya hari pahlawan 10 November.

Sudah jauh-jauh hari persiapan menyambut hari pahlawan ini direncanakan. Begitu juga dengan persiapan dari Anggota Marinir di Surabaya. Dari mengunjungi beberapa sekolah TK dan SD, parade kapal perang yang dimiliki YONMAR Surabaya hingga wisata kapal sejarah secara gratis khusus hari ini.

Tentunya bakal ada pembagian tugas dalam rangka hari pahlawan. Kebetulan alias pas sekali, saya ditugaskan untuk  berjaga di wisata kapal bersejarah bersama letting Marinir lain. Kabar baiknya Lo akan datang ke Surabaya untuk liputan. Timnya sudah memesan kamar VIP salah satu hotel strategis dan paling gampang aksesnya.

Ketika si matahari sudah anteng di ufuk barat, pukul 18.15 WIB. Tugas saya bersama letting lain sudah selesai akan digantikan regu lain sesuai kesepakatan di surat tugas. Saya sudah merencanakan bersama Lo untuk makan mie Surabaya. Meskipun di Jakarta ada, Lo bersikeras untuk makan mie itu persis di kota asalnya. Saya pun menyetujui saja.

Di sebuah kedai pinggir jalan, jarum jam menunjukkan pukul tujuh. Di sinilah kami menyantap masing-masing semangkok mie dengan lahap khas seperti orang kelaparan. Lo meminta beragam toping tambahan. Katanya sih mumpung dibayarin. "Asem."

Sepuluh menit setelahnya, Lo menepuk-nepuk perut, menyenderkan tubuhnya pada kursi plastik.

"Ghazi?"

"Ya," saya menjawab di antara kunyahan.

"Gue jadi kangen Zayn nih," ucapnya tiba-tiba. Saya sedikit resah dengan pernyataan Lo.

"Kenapa?"

"Udah tiga bulan  dia di Sorong, ngak ngabarin gue sekalipun," balasnya. "Lo ada ngak di kabarin?"

Saya menggeleng spontan, "Mungkin sibuk. Mungkin sudah ada yang baru," canda sengaja ingin memancing Lo.

"Arrghh, asem lho!"

"Rindu yaa?" tanya saya dengan ekspresi jahil.

"Kalau iya kenapa?" Ada desiran halus ketika Lo berkata demikian. Entah sadar atau tidak tapi dia terlihat sedikit kikuk berusaha mengatur ekspresi.

"Coba aja lho telpon," saran saya sekenanya.

"Males, gengsi!"

Sikapnya yang ogah-ogahan itu makin memperlihatkan kalau Lo sangat merindukan Zayn. Jelas sekali!

"Gue ntar subuh udah balik ke Jakarta," sambungnya.

"Hmm," aku berdehem singkat.

"Mang ngak rindu jauh dari gue?"

"Ngak," jawaban yang membuat Lo mengumpat kesal. Padahal pertanyaannya sukses mengguncang kesadaran saya.

✍️

Kesunyian menyapa kami, saya dan Lo berdiam diri membebaskan pikiran untuk mencari jawaban. Lo berjalan masuk menuju lobi tanpa sepatah kata mengacuhkan saya yang berdiri di halaman hotel.
Mungkin ngambek! Begitulah perempuan dengan segala kodenya yang bahkan lebih sulit dari angka-angka kimia.

Waktunya balik kanan bubar jalan!

Sampai di Mess, mata tak bisa terpejam. Seperti ada sesuatu memeras otak, Siregar menghampiri membawa dua cangkir kopi.

"Nampaknya kau lagi banyak pikiran, Sun?"

Saya menggeleng singkat, tidak banyak hanya satu yang terus bertali dalam pikiran.

DIALOGUETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang