Part 11

255 39 0
                                        

***

"Selamat pagi, Mr. Kim. Saya Katerina Park."

Salam perkenalan itu singkat, formal, dan sopan. Sesuai harapan Taehyung. Ini adalah hari keduanya berkerja sebagai pemimpin Kim Property Company dan sejauh ini Taehyung masih dalam tahap mempelajari seluruh struktur dasar perusahaan yang dipimpinnya. Taehyung tersentak ketika menyadari nama belakang sekertaris barunya itu.

"Park? Apa kau putri dari Park Seojun?" tanya Taehyung.

Gadis cantik dengan mata biru memukau juga rambut pirang sempurna itu tersenyum, lalu mengangguk. Mereka terlibat dalam percakapan ringan selama beberapa saat. Katerina menceritakan kebaikan ayah Taehyung yang memberinya rekomendasi untuk magang di cabang perusahaan Jepang hingga akhirnya ketika lulus, ia langsung direkrut dan bekerja secara resmi di sana.

"Dan aku turut berduka cita atas kepergian Presdir Kim. Itu pasti sangat berat." ucap Katerina prihatin.

"Terima kasih. Bagaimana dengan jadwalku hari ini?" balas Taehyung.

Katerina membuka agendanya dan mulai membacakan jadwal Taehyung. Sementara itu Taehyung menyadari keganjilan yang selama ini dirasakannya sejak melihat Katerina.

Selintas lihat, Katerina sungguh mirip dengan gadis bergaun putih yang dilihatnya di panti asuhan saat itu. Caranya berjalan, berdiri, bahkan menggerakkan tangan. Namun Taehyung tahu, Katerina bukanlah gadis itu; Katerina berambut pirang sementara gadis itu berambut hitam.

Taehyung semakin larut dalam pikirannya, sibuk menebak siapa gadis bergaun putih itu.

Karena jika Taehyung tahu siapa gadis itu, tanpa ragu ia akan mencarinya dan menemuinya.

***

Taehyung melangkah memasuki kantor Yoona ketika jam menunjukkan waktu makan siang.

Hari ini adalah pertemuan ke tiga mereka dalam minggu ini.

Taehyung merasa senang memiliki guru sebaik Yoona. Bukan sikapnya—karena Yoona sungguh gadis tanpa ekspresi terhebat yang pernah Taehyung temui—namun kelugasannya dalam menyampaikan hal-hal penting dengan jelas. Taehyung memiliki perkembangan pesat hanya dalam waktu tiga hari setelah ia terjun dalam dunia bisnis konstruksi dan properti.

"Selamat siang, Nona Im." sapa Taehyung seraya duduk di hadapan gadis itu.

Seperti biasa, Yoona tampil dalam balutan baju kerja yang sopan. Rok pensil putihnya hanya satu senti di atas lutut dan kemeja dengan motif bunga dandelion berwarna peach menyempurnakannya.

Yoona mengangguk sebagai balasan, bersikeras tetap menggeluti donat cokelatnya.

Taehyung tersenyum. Ia tahu Yoona sungguh berbeda dengan gadis-gadis yang pernah ditemuinya. Meski sering kali tidak berekspresi, Yoona selalu nampak hidup ketika makan.
Yoona bahkan tidak segan untuk mengatakan bahwa ia tidak mau membagi makanannya sejak awal pertemuan pertama mereka. Maka dari itu, meski ada tumpukan donat berwarna-warni di hadapannya, Taehyung tidak menyentuhnya sama sekali.

Yoona melangkah menuju lemari es di sudut kiri ruangannya, lalu meletakkan sekaleng minuman bersoda di hadapan Taehyung.
Satu lagi keunikan yang dimiliki Yoona; gadis itu hanya menyediakan minuman bersoda atau air mineral dan tanpa ragu mengatakan pada Taehyung untuk jangan pernah membawa minuman beralkohol dalam bentuk apa pun ke kantornya.

"Apa yang akan kita pelajari hari ini?" tanya Taehyung.

"Aku ingin kau menganalisis proposal itu. Pusat perbelanjaan di bagian utara kota mengajukan renovasi besar-besaran dan pihak berwenang sudah menyutujuinya." jawab Yoona.

Taehyung menyesap minumannya, lalu membaca dengan seksama.

"Mereka memiliki tujuan lain dari renovasi ini." ucap Taehyung akhirnya.

Yoona mengangguk, diam-diam mengagumi kecerdasan juga ketepatan analisis Taehyung. Sebelumnya Yoona meragukan Taehyung, karena dengan sikap ramah juga tampilan lahiriah yang mengindikasikan Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakannya, Taehyung akan bosan dengan pelajaran yang diberikannya. Bukan tidak mungkin Taehyung akan berakhir seperti anak-anak para konglomerat itu; hidup dengan menghamburkan uang perusahaan.

Namun kini Yoona harus mengakui bahwa apa yang dikatakan Taejoon mengenai putra sulungnya itu benar adanya. Taehyung adalah seorang pria pekerja keras yang pantang menyerah. Yah, selama Taehyung tidak mencoba mengusiknya, maka Yoona akan baik- baik saja. Yoona tetap tidak akan terpengaruh oleh kehadiran pria itu dalam hidupnya.

Satu jam berikutnya dihabiskan Yoona untuk menanyakan reaksi Taehyung terhadap berbagai keadaan yang mungkin terjadi selama berlangsungnya suatu proyek. Jawaban Taehyung selalu logis dan tepat sasaran.

"Apa yang akan kau sarankan untuk pembangunan yang dilakukan di atas tempat lain yang sebelumnya berpenghuni? Misalnya pembangunan apartemen di daerah yang dulunya merupakan pemukiman warga pribumi. Apa yang akan kau lakukan untuk menguatkan citra yang diminta oleh klien?" tanya Yoona.

"Aku akan berusaha menggagalkannya." jawab Taehyung.

"Apa?" balas Yoona tak percaya.

"Aku tidak akan menyetujui proyek yang menghapus sesuatu dalam prosesnya. Aku bekerja dalam bidang ini untuk menciptakan sesuatu yang belum ada. Bukan untuk menggantinya." sahut Taehyung tanpa ragu.

"Bagaimana kau melakukan itu? Kita bekerja sebagai pembangun dan setiap kali kita membangun tentu akan ada hal yang harus dikorbankan."

"Aku tidak mengatakan bahwa kita tidak berkorban dalam proses dari pekerjaan ini. Setiap usaha yang kita lakukan tentu mengandung resiko semacam itu. Namun aku akan menggagalkannya dalam artian khusus, seperti yang kau katakan, ketika pembangunan itu dilakukan di atas tanah warga pribumi.
Seperti di atas tanah suku Anak Dalam, bukan? Aku sempat membaca beritanya kemarin. Aku tidak akan menyetujui proyek itu—tak peduli seberapa besar kerugiannya—karena aku tidak bekerja untuk menghapus budaya."

Yoona terdiam. Perasaannya bercampur aduk. Ia tidak mempermasalahkan jawaban Taehyung, namun alasan yang dikemukakan Taehyung membuat pria itu nampak semakin berbeda di mata Yoona. Taehyung sungguh-sungguh mempelajari segala hal yang berhubungan dengan bidang ini, bahkan dalam waktu singkat, Taehyung bisa mengenal budaya Korea.

Yoona tak lagi bisa menyamakan Taehyung dengan pria lain dan itu terjadi hanya setelah tiga pertemuan. Yoona tak bisa menerjemahkan isyarat hatinya. Yoona merasa segala batas yang dibuatnya tidak berlaku terhadap Taehyung.

Hal itu membuatnya takut.

Ponsel Taehyung berdering dan setelah mengeceknya, Taehyung bersiap pergi. Jika ia menyadari perubahan dalam diri Yoona, ia tidak mengatakannya atau mungkin panggilan itu begitu penting hingga Taehyung terburu-buru untuk melangkah pergi.

"Aku harus pergi sekarang. Bisakah kita melanjutkan pelajaran besok? Di sini pada jam yang sama?" tanya Taehyung.

Yoona hanya bisa mengangguk.

***

Song for Unbroken Soul - Taehyung Yoona VersionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang