5. Tingkah aneh Mina

5K 378 1
                                        

Seperti pagi biasanya, Donghyuck hari ini sudah berada di dalam kelasnya. Laki laki itu tertawa terbahak, menertawakan tingkah teman temannya. Terlebih saat Mina menoyor kepala Karina karena gadis itu tak kunjung bosan menjahili Mina.

"Argh sialan!" pekik Renjun membuat aktivitas Donghyuck, Mina, Karina dan Felix terhenti. Serempak mereka berempat menatap Renjun bingung.

"Ada apa denganmu?" tanya Karina.

Alih alih menjawab, Renjun memberikan ponselnya, dimana di layar ponsel tertera chat-nya dengan seseorang.

Felix, Mina, dan Donghyuck mendekat ke arah Karina. Mereka juga penasaran dengan apa yang ada di layar ponsel tersebut.

Mereka berempat terdiam, saling menoleh satu sama lain. Setelahnya, yang terjadi adalah mereka berempat tertawa terbahak.

Renjun mendengus dan mengambil alih ponselnya kembali.

"Kan sudah kubilang terima saja cintanya Lucas. Toh, itu tidak akan merugikanmu."

"Tapi aku tidak mencintainya."

"Kau ini masih saja tsundere. Mau mengelak apa lagi Huang. Kami tahu kau juga menyimpan rasa yang sama seperti Lucas," Felix menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Bisa bisanya temannya itu masih saja tsundere begitu.

Renjun berdecak kesal.

Mina menghampiri Renjun dan menepuk nepuk kepala pemuda itu. "Ikuti saja kata hatimu jangan hiraukan mereka."

"Sudah, sudah! Lebih baik kalian kembali ke bangku masing masing. Tidah kah kalian melihat jika pak Taeyong sudah memelototi kita?" Mendengar perkataan donghyuck membuat mereka berempat menoleh ke depan.

Dan ya, ternyata donghyuck benar. Di depan sana sudah ada pak Taeyong selaku guru yang mengajar di jam ini. Guru tersebut mendelik tajam menatap kumpulan teman donghyuck.

"Oh my Gosh," gumam Karina.

"Sepertinya asik sekali perbincangan kalian sampai tak menyadari bapak datang. Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Taeyong dengan nada agak keras.

"Oh kami hanya sedang menasehati teman kami pak!" Jawab Felix.

"Menasehati apa?"

"Rahasialah pak! Bapak ini kenapa kepo sekali sih?"

Mina membekap mulut Karina. Astaga anak ini. Wajah Mina sedikit memucat saat mendapati tatapan gurunya yang semakin menyeramkan.

Tangan kiri Mina menyenggol temannya untuk segera meminta maaf sebelum hal yang tidak diinginkannya terjadi.

"Maafkan kami pak!"

"Cepat kembali ketempat masing-masing!"

"Baik pak!"

***

Donghyuck meletakkan gelas minumannya kasar membuat suara yang sukses membuat semua orang mengarah padanya. "Pelan pelan bodoh! Bagaimana nanti jika gelasnya pecah huh?" sembur Renjun.

"Tidak mungkin, kau ini kenapa berlebihan sekali sih?"

"Ya!" Renjun berteriak keras. Lelaki itu berdiri dan memiting leher donghyuck. Yang tentu saja menyebabkan donghyuck mengaduh meminta pertolongan dari teman temannya yang lain.

"Permisi?"

"Ya? Eh Jeno, kenapa Jen?" jawab Mina mewakili teman temannya.

Donghyuck menepuk keras tangan Renjun yang masih memiting lehernya, berharap agar pemuda itu cepat melepaskannya. Renjun pun tanpa sadar menuruti permintaan donghyuck.

"Apa boleh aku dan kedua temanku bergabung?"

Donghyuck mengangkat kepala, kemudian menatap teman-temannya yang saling pandang satu sama lain, seakan meminta pendapat.

Mendapati persetujuan dari mereka membuat donghyuck kembali menoleh ke arah Jeno dan mengangguk. "Tentu saja. Duduklah."

Jeno tersenyum dan segera duduk disebelah donghyuck. Teman teman donghyuck termasuk donghyuck menatap bingung dua orang yang masih berdiri.

"Tunggu apa lagi? Yangyang, Sungchan ayo duduk," ajak donghyuck pada teman seekskulnya itu.

Mina berdehem pelan, "Ku dengar sebentar lagi akan ada pertandingan basket antarsekolah ya?"

Sungchan menatap Mina menelisik. "Itu benar. Kau tahu dari mana? Kita bahkan belum mengumumkannya."

"Oh i-itu, anu aku tahu dari donghyuck. Ya donghyuck," ucap Mina dengan nada terdengar panik. Terlihat sekali jika gadis itu gelagapan setelah diberi pertanyaan tersebut.

"Donghyuck?" Ulang Jeno.

Donghyuck yang sedari tadi mengelus lehernya, kini mengernyit. Ia menunjuk diri sendiri. "Hah, aku?"

Mina menepuk pelan kepala donghyuck dan tersenyum canggung. "Hais, kau melupakannya?"

"Masa sih? Aku saja sepertinya baru tahu jika basket kita akan bertanding."

Wajah Mina menambah panik mendapatkan jawaban tersebut. "Ya! Masa kau lupa."

"Kalian berdua sudahlah, cepat habiskan makanan kalian."

Dan akhirnya mereka semua memilih menurut perintah Renjun. Disaat donghyuck selesai makan dan berniat mengembalikan wadah makanannya. Tangannya dicegat seseorang.

"Donghyuck-ah, apa kau akan ikut bertanding?"

Donghyuck mengernyit, "Tentu saja, kenapa tidak."

Lelaki bernama Sungchan itu tertawa pelan. "Begini donghyuck. Apa sore nanti kau sibuk?"

Mata donghyuck melirik keatas, ekspresi wajahnya terlihat tengah berpikir. "Tidak juga. Kenapa? Kau ingin mengajak ku berkencan ya?!!" Seru donghyuck asal asalan.

Dalam hatinya donghyuck tertawa meremehkan mana mungkin si tiang itu benar benar mengajaknya berkencan. Ada ada saja.

"Ya kau benar. Makanya aku bertanya kau sibuk tidak sore nanti," ucap Sungchan melirih. Mata lelaki itu terlihat memohon.

Mulut donghyuck menganga. "KAU BENAR BENAR INGIN MENGAJAKKU BERKENCAN??"

Byurr!

Karina memuncratkan air minumnya ke wajah Felix setelah mendengar teriakan donghyuck. Felix mengusap wajahnya kasar, matanya menatap nyalang gadis di sampingnya. Jika begini, Felix jadi menyesal sudah menolehkan kepalanya ke arah Karina.

"Karina!"

"Astaga, maafkan aku, maafkan aku," dengan panik Karina membersihkan muka Felix yang terkena semburan air di mulutnya.

Mood Felix menjadi dongkol seketika, lelaki itu merebut paksa tisu ditangan Karina.

Donghyuck memandang keseluruh penjuru kantin. Semua orang di kantin tengah memperhatikannya. Sepertinya suaranya terlalu cempreng hingga membuat mereka semua menatapnya.

Mata beruang itu sedikit membulat ketika mendapati sosok yang dikenalnya. Sosok tersebut tengah menatap tajam dirinya, donghyuck menelan ludahnya susah payah. Wajah sosok itu terlihat sangat menyeramkan.

Tertawa canggung, donghyuck kembali menoleh kearah Sungchan. "Maafkan aku Sungchan. Sepertinya aku tidak bisa. Permisi."

Setelah mengucapkan itu donghyuck berlari terbirit-birit meninggalkan kantin. Lelaki itu tak menoleh sama sekali ketika teman temannya memanggilnya.

Tbc

Ada yang mau ngasih saran tentang cerita ini. Sini sini kasih tau aja

Sir MarkTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang