"Hyuck, kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya saja pada cia?" tanya Mina.
"Iya donghyuck, setidaknya beritahu cia jika dia sudah punya pasangan. Jadi, cia tidak akan berusaha mendekatinya," ucap Felix. Karena ia sendiri agak mengkhawatirkan sepupunya itu.
"Maaf ya teman teman. Tadi aku refleks saja disisi lain aku penasaran dengan hal apa yang akan dilakukan cia." Donghyuck menundukkan kepalanya. Lelaki itu memilin jarinya merasa sedikit menyesal sudah mengatakan itu. Ah, seharusnya tadi ia tidak berbohong.
Karina menghela nafasnya melihat tingkah murung bayi beruangnya, "sudahlah teman teman. Lagi pula murid murid yang lain juga tidak mengetahui jika beliau sudah punya pasangan atau belum."
"Jika kita mengatakam beliau sudah punya pasangan apakah itu tidak terlalu mencurigakan?" Tanya Karina.
Mereka berempat terdiam mendengarnya.
"Benar si, selain kita, memang tidak ada yang tau kalau beliau sudah punya pasangan." Felix menyetujui perkatan Karina.
"Tapi hyuck, kau jangan cemburu jika nantinya cia benar benar dekat dengannya," ledek renjun.
"Tidak akan."
"Kita lihat saja nanti."
•••
Keesokan paginya.
Agaknya donghyuck sedikit menyesali keputusannya. Bagaimana mana tidak, sedari Mark mulai mengajar. Cia tidak ada henti hentinya untuk memandangi pria itu dengan tatapan penuh puja. Membuat donghyuck tidak fokus saja sebab donghyuck terus saja melirik cia.
Melihat suaminya di tatap sedemikian rupa oleh orang lain agaknya membuat dirinya kesal. Apalagi saat cia terus saja menanyakan pertanyaan kepada Mark.
Dasar caper!
"Apa apaan dia ini. Menyebalkan sekali!" gerutu donghyuck.
Renjun mengusap telinga beberapa kali, telinganya panas karena mendengar gerutuan donghyuck yang seperti tidak ada habisnya.
"Bisakah kau diam sebentar?" bisik renjun.
"Aish, iya iya!"
.
.
"Ayo ke kantin!" ajak Cia kepada kelima temannya.
Mereka beranjak dari tempat duduknya, bergegas menuju kantin. Setibanya di kantin mereka memilih meja paling ujung.
"Kalian mau pesen apa?" Tanya Karina. Mereka menyebutkan makanan yang ingin mereka pesan. Karina mengangguk, dia segera memesan bersamanya bersama renjun.
"Hahh kenapa sir Mark tampan sekali saat mengajar tadiii!! Apalagi saat mode serius, ketampanannya bertambah berkali kali lipat. Rasanya aku mencium setiap inchi wajahnya," ucap Cia sambil tersenyum khas seperti seorang yang tengah jatuh cinta. Gadis itu menopang dagunya, memikirkan Mark.
Donghyuck mendengus mendengar itu. Padahal moodnya tadi sudah membaik dan sekarang moodnya turun lagi! Arghh! Kesal sekali donghyuck.
"Heh, sejak kapan kau jadi semesum ini cia?"
"Hehe, Baru saja."
"Tapi aku sangat setuju dengan apa yang Cia katakan. Sir Mark jadi semakin tampan saat dia mengajar. Iya kan Donghyuck?" Goda Mina, ia menyenggol lengan donghyuck yang wajahnya sudah memerah.
"Loh hyuck, kenapa wajahmu memerah?" tanya cia.
Donghyuck melambaikan tangannya beberapa kali, "ah tidak apa-apa. Aku hanya kepedasan saja." Pemuda itu tersenyum kikuk.
Donghyuck menundukkan kepalanya, tangannya mengaduk-aduk makanannya. Pemuda itu kembali mengangkat kepalanya saat menyadari jika ada yang duduk disebelah dan menaruh sesuatu di meja.
Matanya terbelalak terkejut saat tau siapa itu.
"Eh selamat siang-" belum sempat menyapa. Pria yang ingin disapa Mina mengedipkan sebelah matanya kepada Mina.
Membuat gadis itu tersenyum geli. "-Sir Mark."
"Ada gerangan apa Sir Mark kemari? Apa anda ingin bergabung bersama kita?" Tanya cia sambil mengembangkan senyum tercantiknya.
"Maaf, tidak biasanya sir Mark kemari? Kenapa tidak bersama guru yang lainnya?" tanya donghyuck.
Mark tersenyum kepada murid yang ada di meja kantin tersebut.
"Ingin saja. Lagipula meja lain penuh. Tidak apa kan jika saya duduk dan bergabung bersama kalian?"
Cia dengan cepat menggelengkan kepalanya. Merasa tidak keberatan dengan kehadiran Mark disini.
"Kami tidak keberatan kok sir."
"Benar, kami tidak masalah jika anda ingin bergabung. Silakan saja."
"Terima kasih."
Cia mengangguk semangat.
Selang beberapa menit. Renjun dan Karina akhirnya kembali dengan membawa makanan pesanan teman-temannya
"Loh ada sir Mark."
Karina menaruh makanan di atas meja. Donghyuck, Mina, Cia dan Felix segera mengambil pesanan mereka dari nampan yang dibawa renjun tadi.
Orang orang yang berada pada meja itu memakan makanannya dengan damai kecuali donghyuck.
Rasanya donghyuck ingin berteriak, meluapkan rasa frustasinya. Jatungnya berdegup kencang karena ia sadar Mark sedang meliriknya
Namun hal yang tidak donghyuck sadari ialah, tidak hanya ia saja yang dilirik Mark. Pria itu juga sempat mencuri pandangan pada salah satu temannya.
Selesai makan mereka tidak langsung kembali ke kelas. Dikarenakan waktu istirahat masih lumayan lama.
Mereka sebenarnya ingin menggosip tapi malulah, ya masa menggosip di depan guru mereka sendiri. Tidak ada akhlak sekali kalau begitu.
"Em, Sir," panggil Cia. Mark yang berada di sampingnya menoleh kearah gadis yang barusan memanggilnya.
"Ya?"
Cia menggigit bibirnya gugup.
"Ehh jangan digigit bibirnya. Nanti kalau keluar darah gimana? Ada apa?"
Hati donghyuck sudah panas dingin. Jujur, ia gregetan dengan sikap Mark barusan. Seperti bukan Mark sekali.
"Emm, jadi begini Sir. Ada beberapa materi yang menurut saya kurang paham. Mungkin karena saya baru pindah sepertinya. Jadi apa bisa sir mark mengajari saya lagi? Maksud saya, saya seperti les begitu ke sir Mark jadi sir Mark bisa mengajari saya diwaktu senggang."
Mark tampak sedang berpikir sejenak.
Donghyuck menatap Cia jengkel. Paling bocah itu cuma mau modus.
Keempat teman donghyuck yang lain hanya memperhatikan mereka saja tanpa berniat masuk kedalam pembicaraan Cia dengan guru mereka.
"Begitu? Baiklah aku akan mengajarimu nanti saat kelas terakhir. Seingat saya jam terakhir kosong kan?" tanya Mark pada mereka.
"Iya Sir, Bu Kim berhalangan hadir. Jadi kita nanti jamkos," jawab Felix.
"Bagaimana dengan kalian? Apa ada yang tidak paham? Saya akan mengajari kalian nanti di perpustakaan." Saat menawarkan itu tak lupa mark tersenyum ramah kearah teman teman donghyuck.
Membuat teman teman donghyuck bergidik ngeri. Karena mereka merinding dengan tingkah guru mereka yang satu ini. Ini seperti bukan sir Mark yang mereka kenal.
Dimana sifat galak gurunya itu?
Mereka berempat kompak menolaknya.
"Tidak Sir. Kami sudah paham kok."
"Aku belum. Jadi nanti aku akan ikut."
Donghyuck mendengus kesal. Dia tidak akan membiarkan Mark dekat dekat dengan Cia. Ia tidak akan membiarkan rencana cua berhasil.
Enak aja! Mark hanya miliknya seorang!
Bersambung
Mang boleh secemburu ituuu🤗😀
KAMU SEDANG MEMBACA
Sir Mark
FanfictionEntah Donghyuck harus menyesali atau malah mensyukuri, saat mengetahui jika dirinya dulu sempat meminta untuk dinikahkan setelah lulus Junior High School. Dan kini sekolahnya kedatangan guru baru, namun siapa yang menyangka jika guru muda tersebut m...
